Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita
WA FB X

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

Oleh Dayan Abdurrahman

Empati yang Tidak Lagi Netral

Dunia modern sering membanggakan diri sebagai ruang yang semakin manusiawi, terhubung, dan sadar akan penderitaan global. Namun realitas justru menunjukkan hal yang sebaliknya: empati tidak lagi berdiri sebagai nilai universal, melainkan telah masuk ke dalam arena kekuasaan. Konflik di Gaza Strip, krisis berkepanjangan di Yemen, serta eskalasi yang terus meluas di Timur Tengah memperlihatkan pola yang sulit disangkal—bahwa tidak semua penderitaan memiliki nilai yang sama di mata dunia. Empati kini bukan sekadar rasa, tetapi telah menjadi instrumen selektif yang diatur oleh kepentingan global.

Arsitektur Narasi Global: Siapa yang Mengontrol Cerita Dunia?

Dalam konteks geopolitik, kekuasaan tidak hanya diwujudkan melalui senjata atau ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan mengendalikan narasi. Negara seperti United States bersama sekutu Baratnya memiliki dominasi signifikan dalam media global, lembaga keuangan, dan institusi internasional seperti United Nations. Berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 70% distribusi informasi global masih terpusat pada media berbasis Barat, yang secara tidak langsung menentukan bagaimana suatu konflik dipahami.

Dalam praktiknya, ini berarti dunia tidak melihat realitas apa adanya, melainkan realitas yang telah “dipilihkan”. Seperti panggung teater, semua peristiwa terjadi di atas panggung yang sama, tetapi hanya sebagian yang disorot lampu utama. Sisanya dibiarkan dalam bayangan—ada, tetapi tidak dianggap penting.

Statistik dan Dehumanisasi: Ketika Nyawa Direduksi Menjadi Angka

Salah satu bentuk paling halus dari normalisasi penderitaan adalah reduksi manusia menjadi statistik. Dalam laporan global, korban sering ditampilkan sebagai angka: ribuan tewas, jutaan mengungsi, persentase kehancuran meningkat. Namun angka memiliki sifat dingin—ia informatif, tetapi tidak empatik.

Krisis di Yemen, misalnya, telah berlangsung bertahun-tahun dengan jutaan korban terdampak. Namun perhatian global terhadapnya tidak sebanding dengan konflik lain yang memiliki implikasi langsung terhadap kepentingan strategis Barat. Secara global, lebih dari 60% krisis kemanusiaan terjadi di negara berkembang, tetapi hanya sekitar 30% yang mendapatkan perhatian media secara konsisten. Ini menunjukkan bahwa penderitaan bukan hanya soal skala, tetapi soal nilai geopolitik yang melekat padanya.

Standar Ganda sebagai Mekanisme Sistemik

Banyak pihak melihat standar ganda sebagai kegagalan moral individu atau negara. Namun dalam analisa yang lebih dalam, standar ganda justru merupakan bagian inheren dari sistem global itu sendiri. Dalam praktik hubungan internasional, prinsip sering kali tunduk pada kepentingan.

Intervensi militer, misalnya, dalam satu konteks dapat disebut sebagai “perlindungan kemanusiaan”, tetapi dalam konteks lain dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan. Hukum internasional tidak berubah—yang berubah adalah aktor yang berada di dalamnya. Dengan kata lain, standar ganda bukanlah anomali, melainkan mekanisme adaptif dari sistem kekuasaan global.

Analisa Multidisipliner: Membaca Kompleksitas Dunia

Baca Juga

Fenomena ini tidak bisa dipahami dari satu sudut pandang saja. Secara politik, negara kuat memiliki kapasitas menentukan agenda global. Secara ekonomi, wilayah yang kaya sumber daya seperti minyak memiliki posisi strategis yang lebih tinggi. Dari sisi psikologi, masyarakat global mengalami compassion fatigue—kelelahan emosional akibat paparan tragedi yang berulang. Dalam kajian media, framing menentukan realitas: apa yang diulang akan dianggap penting, apa yang diabaikan akan dilupakan.

Dari sisi etika, muncul pertanyaan mendasar: apakah nilai kemanusiaan benar-benar universal, atau hanya digunakan secara selektif sesuai kepentingan? Di sinilah kita melihat bahwa krisis yang terjadi bukan hanya krisis politik, tetapi juga krisis peradaban.

Aktor di Balik Konflik: Jaringan Kepentingan yang Kompleks

Konflik modern tidak lagi sederhana. Ia melibatkan banyak aktor: negara, aliansi militer, perusahaan energi, hingga industri persenjataan global. Nilai industri pertahanan dunia yang mencapai ratusan miliar dolar per tahun menunjukkan bahwa perang tidak hanya soal konflik ideologis, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi yang kuat.

Dalam banyak kasus, stabilitas justru tidak selalu menjadi kepentingan utama. Ketegangan yang terjaga pada level tertentu dapat menguntungkan berbagai pihak, baik secara politik maupun ekonomi. Ini menjelaskan mengapa beberapa konflik tampak “tidak pernah benar-benar selesai”.

Paradoks Dunia Modern: Terhubung tetapi Tumpul Secara Moral

Ironi terbesar dunia hari ini adalah: semakin kita terhubung, semakin kita kehilangan sensitivitas. Teknologi memungkinkan kita melihat penderitaan secara langsung, tetapi paparan yang terus-menerus justru menciptakan kebiasaan. Seperti alarm yang berbunyi tanpa henti, manusia akhirnya berhenti merespons.

Akibatnya, perang dan kekerasan perlahan berpindah dari kategori “tragedi luar biasa” menjadi “kejadian biasa”. Ini adalah bentuk paling berbahaya dari normalisasi—ketika sesuatu yang seharusnya mengguncang justru tidak lagi terasa.

Kesimpulan: Merebut Kembali Makna Kemanusiaan

Geopolitik empati mengajarkan bahwa penderitaan tidak pernah sepenuhnya netral; ia selalu berada dalam relasi kekuasaan. Namun kesadaran ini seharusnya tidak membuat kita apatis, melainkan justru mendorong kita untuk lebih kritis dan konsisten secara moral.

ADVERTISEMENT

Sebagai warga dunia, kita tidak cukup hanya memahami konflik. Kita harus berani mempertanyakan narasi, menolak standar ganda, dan mengembalikan empati ke tempat yang semestinya—sebagai nilai universal, bukan alat politik.

Take Home Message

Dalam dunia di mana kekuasaan sering menentukan siapa yang boleh menderita, satu hal yang harus tetap kita jaga adalah kesadaran bahwa:

tidak ada satu pun penderitaan yang layak dianggap biasa.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin kompleks ini, menjaga empati tetap hidup adalah bentuk perlawanan paling mendasar terhadap ketidakadilan global.

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Dayan Abdurrahman
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.