Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
Ilustrasi: Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran
WA FB X

Oleh Rosadi Jamani

Perang Iran vs Israel-AS akan berakhir. Soalnya, Donald Trump akan menarik pasukannya. Apakah ini sinyal kuat, Amerika kalah perang lawan Iran? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Baca Juga

Selasa 31 Maret 2026, Presiden Donald Trump mengumumkan, “Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran. Kami akan segera melakukannya. Mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu.” Begitu saja. Setelah serangan udara bersama Israel yang dimulai sejak 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, versi Iran, tentara As tewas mencapai 500–1.000 orang atau lebih, Trump tiba-tiba bilang “kami akan segera pergi” dan serahkan saja Selat Hormuz ke Prancis atau siapa pun yang mau ambil minyak.

“Mereka akan mampu membela diri sendiri,” katanya sambil tersenyum, seolah Selat yang mengganggu pelayaran global dan melonjakkan harga energi itu cuma masalah parkir mobil di mall.

Lebih lucu lagi, Trump mengklaim misi sukses besar. “Mereka tak akan memiliki senjata nuklir. Tujuan itu telah tercapai,” ujarnya. Iran katanya butuh “15 hingga 20 tahun” untuk bangkit lagi, dan ada “perubahan rezim” karena Ayatollah Ali Khamenei sudah tewas.

“Kami telah menjatuhkan satu rezim, lalu rezim kedua. Sekarang ada kelompok yang sangat berbeda… menurut saya, mereka jauh lebih moderat.” Bravo! Seperti anak kecil yang baru menghancurkan lego tower tetangga lalu bilang “lihat, aku sudah bikin yang baru lebih bagus!”

Padahal, analis perang ternama langsung tertawa ngakak. Scott Ritter, mantan intelijen marinir AS, menyebut ini strategic defeat murni. Bret Devereaux, sejarawan militer yang biasa bedah strategi perang kuno sampai modern, bilang tegas, kalau kamu habiskan ribuan nyawa dan miliaran dolar lalu balik ke titik nol atau bahkan lebih buruk, itu namanya losing.

John Bolton sendiri, yang dulu paling doyan dorong perang dengan Iran, kini menggerutu, penarikan prematur ini adalah significant strategic victory for Iran and a defeat for the United States. Bahkan, John Lyons dari ABC News bilang dunia akan melihat ini sebagai defeat of sorts bagi Amerika. Berlebihan ndak? Tidak juga. Ini mirip sekali dengan Afghanistan dulu, declare victory and run.

Sementara itu, Iran malah geleng-geleng kepala sambil nyengir sinis. Presiden Masoud Pezeshkian bilang setiap keputusan soal akhir perang harus jamin martabat, keamanan, dan kepentingan bangsa Iran. Mereka tolak mentah narasi “perubahan rezim” dan klaim moderat baru. Rezim tetap utuh, IRGC masih ancam retaliasi. Iran ajukan syarat sendiri, ganti rugi, jaminan tak diserang lagi, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, plus penghentian sanksi. Tanpa itu, perang belum selesai.

Media Iran malah mengejek Trump lagi berbicara sendiri soal negosiasi. Lucu ya, superpower nomor satu dunia yang katanya mau “Make America Great Again” malah keluar lewat pintu belakang sambil bilang “kami tak ada hubungannya lagi”.

Nuan bayangkan! AS dan Israel bom-bom sana-sini, harga minyak naik gila-gilaan, pelayaran terganggu, ribuan nyawa melayang, dan hasil akhirnya? Trump bilang “mission accomplished” lalu cabut. Iran tetap berdiri, rezim tak runtuh total, dan mereka punya narasi “kami berhasil mengusir Amerika”. Ini seperti petinju kelas berat yang habis-habisan pukul lawan kecil, tapi akhirnya pegel sendiri lalu bilang “oke deh, aku menang, pulang dulu ya”.

So, komentar Trump ini memang bisa dibilang tanda Amerika kalah perang dalam arti strategis. Bukan kalah telak di medan, tapi kalah narasi, kalah tujuan jangka panjang, dan kalah citra hegemoni. Trump mungkin besok pidato lagi soal “pembaruan penting”, tapi dunia sudah lihat, super power yang dulu tak terkalahkan kini pakai jam mundur dua-tiga minggu untuk kabur. Iran? Mereka masih di ring, tersenyum lebar, siap lanjut ronde berikutnya kalau perlu.

“Mulut Trump jangan terlalu dipercaya, Bang. Pagi ngomong damai, sore ngebom lagi.”

“Iya sih, masalahnya yang ngomong itu Trump, bukan Rismon, wak!” Ups

ADVERTISEMENT

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.