Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Sepertinya Pak Presiden kita, Prabowo dapat laporan ABS lagi ni. Dilaporkan 100 persen tak ada pengungsi di tenda. Faktanya masih ramai. Bila itu ABS, siapa lagi yang berani “kurang ajar” sama presiden kita ini. Simak narasinya sambil keruput Koptagul, wak!
Jadi ceritanya begini. Prabowo habis salat Id di Masjid Darussalam, kawasan huntara Kebun Tj. Seumantoh, Aceh Tamiang. Suasana khusyuk, takbir menggema, lalu… datanglah momen sakral berikutnya, laporan kondisi pengungsi.
Dan boom!
“Di tenda sudah nggak ada lagi, 100 persen semua sudah keluar dari tenda, masuk ke hunian sementara ataupun tetap.”
Seratus persen, wak. Bukan 90, bukan 99,9 persen versi Rismon. Ini level sempurna. Kayak nilai ujian anak pejabat.
Nuan bayangan! Warga pengungsi sudah rebahan santai di hunian tetap, listrik terang benderang, air ngalir deras, anak-anak main WiFi sambil nonton kartun, emak-emak masak opor ayam, bapak-bapak ngopi sambil bilang, “Alhamdulillah, hidup kembali normal.”
Indah. Terlalu indah malah.
Padahal, di sudut lain Aceh Tamiang yang jaraknya cuma sekitar 35 km dari lokasi salat Id, realita masih ngopi pahit tanpa gula. Kecamatan Bandar Pusaka misalnya. Di sana, tenda-tenda masih berdiri gagah, seperti monumen ketahanan hidup. Warganya? Masih tinggal di dalam. Lebaran versi survival mode, mie instan, kipas manual, dan doa yang tak putus-putus.
Netizen pun tak tinggal diam. X berubah jadi kantor cabang detektif dadakan. Video bertebaran. Ada yang zoom in tenda, ada yang muter kamera 360 derajat, ada yang kasih caption pedas, “Katanya sudah 100 persen keluar tenda. Ini yang di sini apaan? Tenda gaib?”
Ada juga yang lebih kreatif, “Ini mungkin tenda hologram. Hanya bisa dilihat rakyat, tidak oleh pejabat.”
Wak, ini sudah bukan sekadar perbedaan data. Ini beda alam semesta.
Yang bikin tambah pedih (dan sedikit lucu pahit), Prabowo dulu dikenal paling alergi sama yang namanya ABS (Asal Bapak Senang). Pernah bilang tegas, jangan kasih laporan palsu, jangan main-main.
Eh sekarang?
Kayaknya ABS sudah berevolusi. Naik level. Jadi, ABSSB, Asal Bapak Senang Sampai Berpidato.
Skenarionya gini. Ada yang bisik-bisik, “Pak, semua sudah aman. Tenda kosong. Warga sudah pindah semua.”
“Yakin?”
“Yakin, Pak. Kalau ada tenda, itu dekorasi Lebaran saja.”
Maka keluarlah pernyataan sakral itu. Disiarkan. Dibroadcast. Dikutip media. Jadi headline. Jadi kebanggaan.
Sementara di lapangan, warga mungkin cuma bisa geleng kepala sambil bilang, “Kami ini termasuk yang 100 persen itu atau tidak, ya?”
Ada juga dugaan liar, sebelum kunjungan presiden, tenda-tenda tertentu “dirapikan”. Yang kelihatan di jalur utama dibuat kinclong. Yang di pinggiran? Ya… semoga tidak masuk kamera.
Kayak tamu datang ke rumah. Ruang tamu disapu, dapur ditutup rapat.
Yang jelas, ada satu pertanyaan besar yang menggantung di udara Lebaran, siapa sebenarnya yang buat laporan ajaib itu? Apakah menteri yang itu lagi?
Tim lapangan? Satgas pemulihan? Atau “tim sulap data nasional”?
Karena ini bukan sekadar salah angka. Ini bisa bikin kebijakan meleset jauh. Presiden senang, tapi realita di bawah masih berjuang.
Kalau besok pagi beliau iseng buka X, lihat video-video itu… bisa jadi Lebaran berubah jadi rapat darurat.
“Ini siapa yang ABS lagi?!”
Sementara itu, di tenda-tenda yang katanya sudah kosong, warga tetap menjalani hari. Tak ada drama. Tak ada pidato. Hanya kehidupan yang terus berjalan, apa adanya.
Mereka mungkin tidak marah. Tidak juga ribut. Cuma satu kalimat sederhana, “Selamat Lebaran, Pak. Mohon maaf lahir batin… dan kalau sempat, tolong cek kami. Tenda ini masih ada kok.”
Begitulah Indonesia. Di atas, 100 persen. Di bawah, 100 persen bertahan.
Lebaran pun jadi hybrid, Separuh opor ayam, separuh mie instan.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini








