HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Efisiensi Fiskal Koperasi Desa dan Makan Bergizi Gratis

Redaksi by Redaksi
Maret 19, 2026
in Artikel, Dinas Koperasi, Koperasi, MBG
Reading Time: 5 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

Beberapa hari terakhir, wacana mengenai efisiensi fiskal kembali mengemuka seiring munculnya potensi pelebaran defisit anggaran yang melampaui batas toleransi 3 persen sebagaimana diatur dalam undang-undang. Kondisi ini bukan tanpa sebab, tekanan terhadap fiskal negara saat ini datang dari berbagai arah: beban pembayaran pokok utang dan bunga yang terus membengkak, ketidaktercapaian target penerimaan pajak (shortfall), serta faktor eksternal yang sulit diprediksi seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Baca Juga

Peran Diplomasi Mohammad Natsir dalam Konteks Hubungan Internasional dan Energi.

Maret 19, 2026

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
ADVERTISEMENT

Dalam situasi demikian, opsi untuk menutup defisit melalui penambahan utang menjadi semakin tidak realistis. Selain karena kondisi global yang tidak kondusif bagi ekspansi pembiayaan, penambahan utang juga akan memperburuk kesehatan fiskal dalam jangka panjang. Utang, dalam konteks ini, menjadi buah simalakama: diambil untuk menutup kekurangan, tetapi pada saat yang sama menciptakan beban baru yang lebih berat di masa depan.

Lebih jauh, praktik pembiayaan defisit yang berlangsung selama ini telah menunjukkan gejala “gali lubang, membuat jurang”. Untuk menjaga defisit tetap berada di bawah ambang batas, pemerintah justru harus menutupnya dengan utang baru. Ini menciptakan lingkaran ketergantungan yang berbahaya dan berpotensi menggerus kedaulatan fiskal negara.

Di sisi lain, sumber pembiayaan dari dalam negeri melalui obligasi negara juga tidak sepenuhnya mendapatkan respons positif dari pasar. Sementara itu, ketergantungan pada utang luar negeri membawa risiko yang lebih kompleks. Utang luar negeri tidak pernah benar-benar netral, ia selalu disertai dengan berbagai komitmen yang pada akhirnya menguntungkan pihak pemberi pinjaman. Misalnya, kewajiban untuk mengarahkan pembiayaan pada pembangunan infrastruktur tertentu yang mendukung kepentingan investasi asing, khususnya di sektor komoditas ekstraktif.

Jika dihitung secara cermat, biaya yang harus ditanggung negara sering kali lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh. Beban bunga utang yang relatif tinggi, biaya tenaga kerja yang murah, kerusakan lingkungan, hingga berbagai insentif fiskal seperti pembebasan pajak (tax holiday) menjadi bagian dari ongkos tersembunyi yang tidak kecil. Dalam jangka panjang, situasi ini tidak hanya melemahkan struktur ekonomi nasional, tetapi juga mempersempit ruang gerak kebijakan fiskal.

Lebih dari itu, jebakan utang luar negeri kerap menyeret negara debitur ke dalam ketergantungan yang berlapis. Negara menjadi lemah dalam menentukan harga komoditas, menetapkan tarif pajak dan bea masuk, bahkan dalam memberikan izin usaha. Ketidakseimbangan relasi ini terlihat nyata, misalnya, dalam kebijakan tarif yang tidak resiprokal dari negara-negara besar, yang mencerminkan lemahnya posisi fundamental ekonomi kita.

KDKMP dan MBG

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah dituntut untuk mengambil langkah strategis yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional. Pilihan yang paling rasional adalah dengan mengoptimalkan potensi ekonomi domestik sebagai sumber pertumbuhan.

Dalam konteks ini, dua program nasional yang saat ini sedang dikembangkan, yaitu pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sesungguhnya memiliki nilai strategis yang sangat penting. Keduanya bukan sekadar program sosial atau administratif, melainkan instrumen ekonomi yang dapat berfungsi sebagai penopang stabilitas di tengah ketidakpastian global.

KDKMP sebagai institusi ekonomi berbasis kepemilikan masyarakat, memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta memperkuat sirkulasi ekonomi di tingkat desa. Melalui koperasi, distribusi pendapatan dapat menjadi lebih merata, sekaligus memperkuat daya beli masyarakat. Dalam jangka panjang, koperasi juga berperan sebagai pilar demokrasi ekonomi yang mampu menciptakan kemandirian dan kedaulatan ekonomi nasional.

Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis tidak hanya memiliki dimensi sosial dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, tetapi juga dampak ekonomi yang signifikan. Program ini dapat menciptakan permintaan terhadap produk pangan lokal, membuka peluang usaha baru, serta menyerap tenaga kerja di berbagai sektor terkait.

Namun demikian, implementasi kedua program ini masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi kelembagaan maupun kualitas penyelenggaraan. KDKMP perlu segera diakselerasi pembangunannya agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat.

Setidaknya, terdapat dua fungsi utama yang dapat dioptimalkan dalam jangka pendek. Pertama, KDKMP dapat menjadi jalur distribusi barang kebutuhan pokok dan barang subsidi yang selama ini dikuasai oleh jaringan kartel. Dengan demikian, koperasi dapat memutus rantai distribusi yang tidak efisien sekaligus menekan harga bagi konsumen. Kedua, KDKMP dapat berfungsi sebagai offtaker bagi produk-produk masyarakat, sehingga memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha lokal.

Pengalaman internasional menunjukkan bahwa model seperti ini efektif. Di Jepang, koperasi pertanian (JA Group) memainkan peran penting dalam distribusi pangan dan kesejahteraan petani. Sementara di Korea Selatan, koperasi (NACF) berhasil mengintegrasikan layanan keuangan, produksi, dan distribusi dalam satu sistem yang kuat. Indonesia memiliki potensi yang sama, bahkan lebih besar, mengingat jumlah desa yang mencapai lebih dari 80 ribu. Tantangannya adalah bagaimana memastikan desain kebijakan yang tepat, tata kelola profesional yang transparan, serta partisipasi aktif masyarakat.

Untuk meningkatkan efektivitas, program KDKMP dan MBG sebaiknya tidak berjalan secara terpisah, melainkan diintegrasikan dalam satu ekosistem kelembagaan yang saling mendukung. Saat ini, MBG masih banyak dijalankan melalui lembaga privat seperti yayasan, sementara KDKMP merupakan lembaga publik berbasis kepemilikan masyarakat.

Integrasi keduanya dapat dilakukan dengan menjadikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai unit usaha dalam KDKMP. Dengan cara ini, seluruh rantai nilai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi dapat dikelola secara kolektif oleh masyarakat dan hasilnya kembali ke masyarakat.

Langkah tersebut penting karena karakter lembaga privat cenderung berorientasi pada keuntungan, yang dalam praktiknya dapat memengaruhi kualitas layanan dan produk. Sebaliknya, koperasi memiliki tujuan utama untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat pemilikya. Dengan demikian, integrasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga menjamin kualitas layanan dan pemerataan manfaat ekonomi.

Selain itu, dengan menjadikan SPPG sebagai bagian dari KDKMP, seluruh nilai ekonomi yang dihasilkan akan kembali ke masyarakat. Kepemilikan yang bersifat kolektif memastikan bahwa keuntungan tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak, melainkan didistribusikan secara adil kepada seluruh masyarakat desa.

Pada akhirnya, menghadapi potensi defisit fiskal yang membengkak, efisiensi anggaran memang menjadi keniscayaan. Namun, efisiensi semata tidak cukup. Diperlukan strategi yang mampu menggerakkan ekonomi domestik secara nyata. Dalam kerangka ini, KDKMP dan MBG memiliki peran strategis sebagai instrumen pengungkit ekonomi, khususnya di sektor pangan.

Dalam jangka pendek, keduanya dapat menciptakan permintaan dan memperkuat pasar domestik. Sementara dalam jangka panjang, keduanya berpotensi memperkuat kelembagaan demokrasi ekonomi yang menjadi fondasi bagi terwujudnya kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Dengan kata lain, solusi atas tekanan fiskal tidak hanya terletak pada penghematan, tetapi juga pada keberanian untuk membangun sistem ekonomi yang lebih mandiri, berkeadilan, dan berbasis pada kekuatan rakyat.

Jakarta, 18 Maret 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 281x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 187x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Artikel

Peran Diplomasi Mohammad Natsir dalam Konteks Hubungan Internasional dan Energi.

Maret 19, 2026
Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam
#Sejarah Islam

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam

Maret 19, 2026
​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Next Post

Peran Diplomasi Mohammad Natsir dalam Konteks Hubungan Internasional dan Energi.

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com