Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Bencana ekologis yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 tercatat sebagai salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah kawasan ini. Banjir bandang dan longsor yang menerjang 18 kabupaten dan kota di Aceh bukan hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga merenggut ribuan nyawa. Data BNPB per Januari 2026 menunjukkan lebih dari 1.189–1.204 orang meninggal dunia, ratusan orang hilang, dan lebih dari 113.000 warga masih mengungsi akibat rumah yang rusak berat. Wilayah Aceh Utara menjadi salah satu daerah yang paling parah terdampak.
Angka korban yang begitu besar membuat kita semua berduka. Namun, di balik kehilangan jiwa dan harta benda, ada satu aspek yang sering luput dari perhatian yani kerusakan fasilitas pendidikan yang merupakan rumah kedua bagi anak- anak yang sedang membangun masa depan.
Ya, sangatlah benar bahwa sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Ketika rumah mereka hancur diterjang bencana, sekolah seharusnya menjadi tempat perlindungan dan harapan, namun sedihnya gelombang banjir bandang yang terjadi di akhir tahu. 2025 itu telah menghancurkan banyak sekolah di Aceh.
Gedung-gedung sekolah roboh, ruang kelas penuh lumpur, buku-buku dan peralatan belajar hanyut terbawa arus. Laboratorium, perpustakaan, hingga ruang guru tidak lagi bisa digunakan. Bahkan, ada sekolah yang hilang sama sekali karena tanah longsor menelan bangunannya.
Kerusakan ini terjadi di semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Bahkan sejumlah perguruan tinggi juga tak lepas dan bebas dari dampak banjir bandang tersebut. Dengan peristiwa itu, secara simultan membuat sistem pengelolaan pendidikan terganggu/ Apalagi kantor dinas pendidikan di beberapa daerah ikut terdampak. Akibatnya, proses belajar mengajar terhenti total.
Tak dapat dimungkiri bahwa kerusakan sekolah membawa dampak yang sangat serius bagi anak-anak dan masyarakat. Bebarapa dampaknya dapat kita identifikasi dengan mudah dan cepat. Beberapa dampak tersebut adalah, sebagai berikut. Pertama, terhentinya proses belajar mengajar disebabkan oleh anak-anak kehilangan ruang belajar yang aman dan nyaman. Kedua, terjadi apa yang kita sebut dengan trauma psikologis: Banyak siswa mengalami ketakutan dan kehilangan semangat belajar karena bencana tersebut. Ke tiga, hal yang tidak kita inginkan adalah bertambahnya angka putus sekolah. Sebagian anak terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu keluarga di pengungsian dan sebagainya.
Ke empat, hilangnya sekolah berarti hilangnya sarana pembinaan karakter. Dikatakan demikian karena sebagaimana kita ketahui dan sadari bersama bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga tempat anak-anak dibina nilai moral, sosial, dan spiritual.
Ke lima, banjir bandang itu bukan saja telah menimbulkan ketimpangan kehidupan masyarakat korban, tetapi juga menimbulkan ketimpangan pendidikan/ Anak-anak di daerah terdampak akan tertinggal jauh dibandingkan dengan daerah lain yang tidak terkena bencana.
Ke enam, ancaman paling besar juga anak-anak korban bencana ekologis ini menjadi lost generation, akibat hilangnya akses pendidikan. Ke tujuh, dalam konteks Indonesia yang konon sedang membangun anak-anak generasi emas di tahun 2045, anak-anak korban bencana ini akan ikut menghambat proses percepatan pencapaian upaya mewujudkan Indonesia emas
Oleh sebab itu, kondisi buruk ini tidak boleh dilalaikan apalagi dibiarkan dan dilupakan mereka hidup tanpa kepastian untuk memperoleh pendidikan yang layak dan sebanding dengan anak-anak di luar kawasan bencana ekologis ini. Semua pihak, terutama pemerintah pusat harus dengan serius dan sepenuh hati membantu sektor pendidikan tersedia kembali dengan baik.
Untuk itu pemerintah harus punya prioritas pemulihan pendidikan, agar anak-anak bisa segera kembali bersekolah dan menikmati pendidikan seperti sebelum bencana. Ada beberapa hal yang harus diprioritaskan di antaranya. Pertama, pembangunan sekolah darurat. Tenda belajar, ruang kelas sementara, atau bangunan modular harus segera didirikan agar anak-anak tidak kehilangan momentum belajar. Kedua, penyediaan buku dan alat belajar. Di sini, sangat diperlukan bantuan berupa buku, seragam, alat tulis, dan perlengkapan sekolah sangat penting untuk memulihkan semangat belajar. Ke tiga, agar proses belajar bisa berjalan baik, diperlukan pendampingan psikososial dengan mengoptimalkan peran guru, relawan, dan psikolog perlu mendampingi anak-anak agar trauma tidak menghambat proses belajar. Ke empat, mendesak dilakukan rehabilitasi fasilitas pendidikan permanen.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu menggalang kerja sama dengan masyarakat dan lembaga donor agar segera membangun kembali sekolah dengan desain yang lebih tahan bencana.
Ke lima, tentu sangat dibutuhkan penguatan sistem pendidikan berbasis darurat. Aceh dan daerah rawan bencana lainnya perlu memiliki kurikulum dan sistem pendidikan yang siap menghadapi kondisi darurat, sehingga anak-anak tetap bisa belajar meski dalam situasi krisis.
Ke enam, untuk menjamin kesinambungan pendidikan anak-anak di daerah bencana, pemerintah dan pihak-pihak yang concern terhadap anak, harus memperbanyak program beasiswa dan bantuan pendidikan lainnya, karena umumnya orangtua kehilangan mata pencaharian usai dilanda bencana. Ini sangat berbahaya bagi masa depan pendidikan anak di wilayah bencana.
Maka, pemulihan fasilitas pendidikan harus menjadi prioritas utama pasca bencana ekologis. Dengan langkah cepat, terarah, dan penuh empati, kita bisa memastikan bahwa anak-anak korban bencana tetap memiliki masa depan yang cerah melalui pendidikan. Semoga
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini







