• Latest
Apa Kata Dunia?

Apa Kata Dunia?

March 13, 2026
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

March 13, 2026

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Apa Kata Dunia?

Redaksi by Redaksi
March 13, 2026
in # Ironi, #Kontemplasi, #Moralitas, Artikel, Film, Kepemimpinan
0
Apa Kata Dunia?
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Yani Andoko

Akhir-akhir ini, publik Indonesia kembali digemparkan oleh serangkaian perilaku para pejabat publik yang terkesan arogan dan kehilangan orientasi. Mulai dari pamer gaya hidup mewah di media sosial, tertawa lepas usai ditetapkan sebagai tersangka korupsi, hingga menggunakan jabatan untuk melindungi kepentingan pribadi dan kelompok.

Baca Juga

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026

Di tengah tontonan memilukan itu, sebuah dialog dari film lawas berjudul Naga Bonar Jadi 2 (2007) tiba-tiba viral kembali di linimasa. Seorang jenderal ditegur oleh tokoh utama, Naga Bonar, saat memberi hormat kepada pejabat sipil yang korup. “Jenderal, turunkan tanganmu… Tidak semua dari mereka pantas kau hormati,” tegas Naga Bonar.

Viralnya kembali dialog tersebut bukan tanpa sebab. Masyarakat seolah mencari pembenaran atas kegelisahan mereka terhadap realitas sosial-politik hari ini, dan mereka menemukannya dalam sebuah karya fiksi berusia lebih dari tiga dekade.

Naga Bonar (1987) arahan sutradara M.T. Risyaf dan penulis skenario Asrul Sani, serta sekuelnya, bukanlah sekadar film komedi nostalgia. Ia adalah teks budaya yang terus relevan, sebuah cermin yang dengan setia merefleksikan wajah bangsa yang tak kunjung beranjak dari masalah-masalah fundamentalnya. Di tengah kegersangan keteladanan, film ini menawarkan lebih dari sekadar hiburan; ia menyediakan nalar kritis yang membumi.

Kekuatan utama Naga Bonar terletak pada pendekatannya yang tidak menggurui. Di permukaan, film ini adalah komedi jenaka tentang seorang preman Medan, Naga Bonar (diperankan dengan memukau oleh Deddy Mizwar), yang terseret arus revolusi dan menjadi seorang pemimpin gerilya. Humor lahir secara organik dari situasi dan karakternya, seperti adegan ikonik Naga Bonar yang sangat patuh pada ibunya atau frasa “Apa kata dunia?” yang kemudian melekat di budaya populer.

Namun, di balik tawa itu, terselip kritik tajam yang struktural. Tokoh Lukman, sang intelektual sekolah tinggi, adalah personifikasi dari penyakit birokrasi yang paling akut. Ia adalah simbol para elite terdidik yang justru menjadi agen korupsi, mengkhianati amanat perjuangan demi kepentingan pribadi.

📚 Artikel Terkait

Sajak-Sajak Rosli K. Matari

Bahaya Perundungan  Bagi Para Siswa di Sekolah

Membedah Sejarah, Merawat Ingatan

USIA

Sindiran ini tidak disampaikan melalui khotbah panjang, melainkan melalui aksi dan dialog yang cerdas. Penonton diajak melihat sendiri bagaimana korupsi dijalankan dengan rapi dan sistematis, bahkan oleh mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan moralitas. Inilah bukti bahwa Naga Bonar mempercayai kecerdasan penontonnya untuk menarik kesimpulan sendiri.

Realitasnya yang tak kunjung usai
Jika kita menarik garis lurus dari film ini ke kondisi bangsa saat ini, korelasinya sangat nyata dan mengkhawatirkan. Tiga dekade setelah film pertama rilis, dan hampir dua dekade setelah dialog ikonik dalam sekuelnya menggema, kita masih berkutat dengan masalah yang sama.

Pertama, budaya korupsi yang seakan tanpa rasa malu. Para koruptor era reformasi tak kalah “canggih” dari Lukman. Mereka justru kerap tampil percaya diri, seolah apa yang mereka lakukan adalah hal yang lumrah dalam “bagaimana negara ini bekerja”.

Penghormatan publik dan aparat lebih mudah diberikan kepada jabatan dan kekayaan (“roda empat”), bukan kepada integritas. Nasihat Naga Bonar kepada sang jenderal seharusnya menjadi evaluasi bagi seluruh aparat penegak hukum dan elite politik: kepada siapa sebenarnya kita harus memberi hormat?

Kedua, krisis kepemimpinan dan tergerusnya nilai. Naga Bonar, seorang mantan pencopet, mampu menunjukkan naluri kepemimpinan yang lebih manusiawi dan berpihak pada rakyat kecil. Ironisnya, di era digital yang serba canggih ini, kita justru menyaksikan banyak pemimpin yang gagap menghadapi realitas sosial, lebih sibuk membangun pencitraan di dunia maya dari pada menyelesaikan masalah konkret di dunia nyata. Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada rakyat yang secara sederhana ditunjukkan Naga Bonar kini terasa asing di tengah gemerlap pragmatisme politik.

Ketiga, hegemoni cara pandang asing. Konflik antara Naga Bonar dan anaknya, Bonaga, dalam sekuel film, adalah metafora sempurna dari benturan nilai lintas generasi. Bonaga, dengan pendidikan Barat dan logika kapitalisnya, mewakili arus modernitas yang pragmatis dan seringkali mengabaikan sejarah serta akar budaya.

Ia menganggap cara ayahnya “ketinggalan zaman”. Realitas ini kita saksikan setiap hari, di mana solusi-solusi instan dan nilai-nilai asing lebih diutamakan dari pada kearifan lokal dan perjuangan mempertahankan identitas bangsa. Kekuasaan tidak lagi dijalankan dengan paksaan, tetapi dengan membuat cara pandang kapitalis dan pragmatis diterima sebagai sesuatu yang “masuk akal” dan “profesional”, sementara mempertahankan nilai dan sejarah dianggap “emosional”.

Naga Bonar bukanlah film ramalan, melainkan film dengan nalar sejarah dan sosial yang kuat. Para pembuatnya berhasil membaca karakter bangsa dan memproyeksikan problematikanya ke dalam sebuah narasi fiksi yang abadi. Fakta bahwa film ini terpilih sebagai wakil Indonesia di ajang Academy Awards (Oscar) tahun 1988 adalah bukti pengakuan atas kualitasnya, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai karya seni yang berbicara banyak hal.


Kini, di tengah krisis keteladanan yang akut, kita seperti merindukan sosok Naga Bonar. Bukan berarti kita ingin dipimpin oleh preman, melainkan kita merindukan pemimpin yang membumi, jujur pada kata hati, dan tidak kehilangan orientasi pada kepentingan rakyat kecil. Kita rindu pada pemimpin yang kelakuannya tidak perlu dipertanyakan, yang tutur katanya tidak menyakiti, dan yang prioritasnya jelas: bangsa, bukan diri sendiri dan kelompoknya.

“Apa kata dunia?” mungkin hanya sebuah plesetan humor dari Naga Bonar. Namun, di balik kelucuannya, ia menyimpan pertanyaan etis yang mendalam: sudahkah tindakan kita sebagai bangsa ini layak untuk ditiru, layak untuk dihormati, dan layak untuk dikenang? Selama korupsi merajalela, nilai tergerus, dan keteladanan miskin, maka kita akan terus menerus memutar ulang film ini, mencari-cari jawaban yang tak kunjung tiba dari para pemimpin kita.

             Batu, 3 Januari 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 79x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 68x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari
# kolonial

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

March 13, 2026
Perempuan

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026
Anak Cerdas

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com