Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Ketika menulis tulisan yang berjudul “ Menggali Informasi dan Literatur Tentang Para Perwira dari Manggeng pada Masa Lalu” yang dimuat di Potretonline.com, edisi 5 Maret 2026. Tulisan itu bukanlah tulisan yang sudah sempurna, yang didukung oleh sejumlah data kualitatif, maupun kuantitatif tentang tokoh-tokoh yang penulis paparkan. Artinya masih banyak informasi atau data yang kurang, sehingga terasa masih banyak ruang hampa yang harus diisi atau dilengkapi, disempurnakan oleh siapa pun yang tertarik dan peduli.
Eksistensi tulisani itu bisa dijadikan sebagai embrio atau tulisan awal untuk menggali, mengumpulkan serpihan-serpihan informasi atau data yang dapat memaparkan lebih lengkap tentang kekayaan sejarah tokoh-tokoh Manggeng sebagai kasanah literasi dan sejarah perjuangan di tingkat lokal dan mungkin nasional.
Jadi tulisan ini bisa menjadi trigger atau pemantik bagi siapa saja yang tertarik untuk menulis lebih lanjut. Tulisan ini ibarat membangkitkan batang terendam. Harus ada kepedulian, kemauan untuk menggali dan menuliskan menjadi catatan sejarah di setiap wilayah, termasuk bagi kecamatan Manggeng.
Nah, untuk menyempurnakan ruang hampa tersebut dibutuhkan banyak informasi atau data yang harus dikumpulkan. Penulis telah berusaha mencari data atau informasi tentang tokoh-tokoh perwira Manggeng tersebut dari berbagai sumber, namun karena berbagai alasan, salah satunya adalah terbatasnya data dan dokumen tertulis, baik dari buku, maupun dari dokumentasi di internet.
Idealnya, semua data mengenai tokoh-tokoh dalam paparan tulisan tersebut cukup tersedia, sehingga dengan mudah dikompilasi menjadi sebuah tulisan yang lengkap dan sempurna. Namun karena terbatasnya informasi dan referensi, tulisan itu tampil sebagai waker, yang diharapkan dapat membangun keinginan atau kemauan berbagai pihak untuk melengkapinya.
Dalam hal ini, penulis menemukan kendala. Sebuah kendala yang berkaitan dengan sumber bacaan, sumber informasi, sumber dokumentasi atau literatur mengenai sejumlah tokoh masyarakat Manggeng pada masa prakemerdekaan hingga pascakemerdekaan Indonesia. Persoalannya, nama-nama tokoh yang kita cari, tidak tercatat dalam arsip lokal, maupun nasional, untuk dapat kita jadikan sebagai bahan tulisan.
Kendala itu sangat mengganggu. Dikatakan mengganggu, karena menghambat proses penulisan. Bila banyak data dan referensi yang kita punya, maka akan banyak lahir tulisan-tulisan baru yang ditulis dari berbagai sudut pandang atau perspektif oleh siapa saja yang peduli dan tertarik.
📚 Artikel Terkait
Nah, adanya kendala berupa minimnya informasi atau dokumentasi mengenai tokoh-tokoh pelaku sejarah itu, bisa diatasi dengan berbagai cara. Salah satu cara yang partisipatif dan produktif adalah dengan melibatkan pihak lembaga pendidikan atau sekolah.
Misalnya, untuk kasus keluarangan informasi ata atau dokumentasi itu bisa mengajak pihak sekolah tingkat SMA di Kecamatan Manggeng. Mengajak guru sejarah di sekolah mengumpulkan informasi dari masyarakat lokal atau luar yang tahu atau mengenal tokoh-tokoh yang akan ditulis.
Guru bisa melibatkan siswa melakukan wawancara untuk mengumpulkan informasi atau cerita lisan dari tetua kampung.
Ke dua, menelusuri arsip Aceh Barat Daya atau museum sejarah Aceh. Ke tiga, membandingkan data tersebut dengan sumber informasi atau dokumentasi dari sumber lain.
Nah, penglibatan siswa SMA dalam pengumpulan informasi lisan lewat wawancara ini akan memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman bagi siswa dalam melakukan kegiatan survei atau penelitian sederhana di bawah bimbingan guru sejarah. Model ini bisa menumbuhkan kembali minat belajar sejarah di kalangan siswa. Juga bisa dimaknai sebagai upaya revitalisasi pelajaran sejarah yang selama ini sudah tenggelam dari minat belajar sejarah di kalangan siswa di sekolah.
Selain itu, kegiatan yang melibatkan siswa dalam proses pengumpulan informasi dan dokumentasi sejarah ini, sekaligus bisa menggerakan program literasi sekolah. Dikatakan demikian karena para siswa akan diberi tugas menulis atau melakukan kompilasi informasi dalam tulisan. Jadi siswa akan dibimbing menuliskan hasil pencarian atau pengumpulan informasi tersebut untuk disajikan dalam bentuk artikel yang akan disebarkan dalam berbagai media.
Dengan demikian, ibarat kata pepatah. Sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sehingga tulisan ini, dapat dijadikan contoh membangun Kemampuan meakukan penerlitian di kalangan siswa SMA. Untuk mewujudkannya perlu dibangun komunikasi dengan pihak sekolah, pihak kepala sekolah dan guru sejarah. Dengan cara ini, sekolah bukan saja berhasil melibatkan dan mengajarkan para siswa mau dan mampu secara aktif menuliskan sejarah, sekaligus bisa membangun kemampuan menulis yang menjadi barometer peningkatan kualitas sekolah atau lembaga pendidikan yang diukir oleh para siswa sendiri.
Kini setiap sekolah bisa melakukan kegiatan ini sebagai bagian dari proses pembelajaran sejarah dan proses membangun kemampuan literasi siswa yang saat ini sedang layu. Jadi tidak ada kata terlambat. Lebih baik terlambat, dari pada tidak ada atau tidak pernah sama sekali. Mari kita bergerak bersama sekarang. Jangan tunggu lama-lama.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





