Dengarkan Artikel
Oleh Nyakman Lamjame
Ramadhan tahun ini di Aceh datang dengan kenangan yang masih basah.
Bencana hidrometeorologi yang melanda sejak 26 November 2025 meninggalkan jejak panjang di banyak gampong. Sungai meluap, air menelan rumah-rumah warga, dan ketika ia surut, yang tertinggal bukan hanya lumpur dan puing—tetapi juga keheningan yang berat, seolah bumi sendiri sedang mengingat luka yang baru saja terjadi.
Masjid dan meunasah pun tidak luput dari terjangan air. Lantai yang biasanya dipenuhi saf jamaah sempat tertutup lumpur tebal. Rak-rak mushaf berdebu dan basah. Halaman dipenuhi ranting, kayu-kayu besar, dan sisa-sisa banjir yang terbawa arus dari hulu.
Tempat yang biasanya menjadi pusat kehidupan spiritual gampong tiba-tiba berubah menjadi ruang yang sunyi.
Hari-hari setelah air surut dipenuhi kerja sunyi yang nyaris tanpa sorotan.
Warga kembali ke masjid dengan sekop, cangkul, dan ember. Lumpur diangkut sedikit demi sedikit. Lantai dicuci berkali-kali hingga airnya kembali jernih. Sajadah-sajadah dijemur di bawah matahari. Mushaf Al-Qur’an yang sempat terkena air dikeringkan dengan hati-hati, lalu disusun kembali di rak-rak kayu.Semua dilakukan perlahan, dengan kesabaran yang nyaris seperti ibadah. Namun di banyak tempat, pekerjaan itu belum benar-benar selesai.
Masih ada tumpukan lumpur yang belum sempat dipindahkan. Kayu-kayu besar yang terbawa banjir masih berserakan di halaman gampong. Di beberapa sudut permukiman, bekas air masih terlihat jelas di dinding-dinding rumah, seperti garis sunyi yang menandai seberapa tinggi ujian itu pernah datang.
Di beberapa gampong, masjid dan meunasah bahkan rusak cukup parah. Dinding retak, lantai ambles, dan sebagian bangunan belum bisa difungsikan kembali. Pintu-pintunya masih tertutup.
Seolah ikut menyimpan luka sebuah gampong yang belum sepenuhnya pulih.
Tetapi Ramadhan tetap datang.
Menjelang magrib, dapur-dapur sederhana kembali hidup meskipun tidak semua keluarga masih memiliki rumah yang utuh. Aroma masakan berbuka puasa tetap mengalir di udara gampong, meski sebagian kini berasal dari dapur darurat di tenda-tenda pengungsian.
Di beberapa tempat, keluarga-keluarga duduk bersila di dalam tenda.
Segelas air. Nasi sederhana. Lauk seadanya.
Tidak ada meja makan. Tidak ada ruang tamu. Hanya tikar tipis dan cahaya lampu yang menggantung dari kain terpal.
Namun ketika azan magrib berkumandang, semuanya tetap disambut dengan syukur yang utuh.
Ramadhan kali ini memang lebih sunyi, tetapi juga terasa lebih jujur.
Sebagian masyarakat masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Sebagian lagi tinggal di bekas rumah yang dindingnya masih menyimpan bekas air. Ada pula yang berteduh sementara di bukit-bukit setelah kehilangan hampir seluruh yang mereka miliki.
Namun ketika malam tiba, kehidupan spiritual Aceh kembali bergerak.
Di gampong yang masjidnya telah dibersihkan, tarawih kembali dilaksanakan di ruang yang beberapa waktu lalu masih dipenuhi lumpur. Saf-saf jamaah berdiri dalam kesederhanaan yang terasa jauh lebih khusyuk.
Seolah setiap rakaat menjadi bentuk syukur karena masih diberi kesempatan untuk berdiri bersama.
Sementara di tempat lain, yang masjid dan meunasahnya belum bisa digunakan, masyarakat berkumpul di ruang-ruang sederhana.
Kadang di rumah yang setengah rusak.
Kadang di halaman yang diterangi lampu seadanya.
Kadang di dalam tenda-tenda pengungsian.
📚 Artikel Terkait
Di sanalah Ramadhan tetap hidup.
Selepas tarawih, tradisi yang paling khas dalam Ramadhan di Aceh kembali berlangsung: tadarus Al-Qur’an.
Di beberapa masjid yang telah dibersihkan, anak-anak dan remaja duduk bersila membaca Al-Qur’an hingga larut malam.
Namun di tempat lain, pemandangan yang jauh lebih sunyi terlihat.
Sekelompok warga membaca Al-Qur’an di dalam tenda pengungsian.
Lampu kecil menggantung di kain terpal. Mushaf dibuka perlahan. Ayat demi ayat dibaca bergantian.
Di luar tenda, malam terasa dingin dan panjang.
Di dalamnya, suara ayat-ayat suci mengalun pelan.
Menjaga harapan tetap hidup di tengah kehilangan.
Tadarus berlangsung hingga sahur.
Ketika waktu sahur tiba, keluarga-keluarga kembali berkumpul di dalam tenda yang sama. Nasi sederhana kembali dihidangkan. Tidak banyak yang bisa disajikan, tetapi kebersamaan itu terasa jauh lebih bermakna daripada kemewahan apa pun.
Malam Nuzulul Qur’an tahun ini terasa memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Wahyu pertama turun sebagai cahaya di tengah kegelisahan manusia. Ia tidak datang dalam kemewahan, tetapi di saat manusia sedang menghadapi keguncangan hidupnya.
Dan di Aceh malam ini, setelah banjir, lumpur, dan kehilangan, cahaya itu terasa kembali sangat dekat.
Masjid yang baru dibersihkan dari lumpur dipenuhi suara tadarus.
Meunasah yang masih berdiri tegak kembali hidup oleh bacaan Al-Qur’an.
Sementara di beberapa gampong, ayat-ayat suci justru bergema dari tempat yang paling sederhana: dari dalam tenda-tenda pengungsian.
Pemandangan itu sederhana.
Tetapi menyimpan kekuatan yang sangat besar.
Sebuah masyarakat yang mungkin kehilangan rumah, kehilangan harta, bahkan kehilangan banyak hal yang mereka cintai, namun tidak kehilangan iman dan harapan.
Aceh telah berkali-kali diuji oleh sejarah.
Tetapi setiap kali ujian datang, masyarakatnya selalu kembali menyalakan cahaya di tempat yang sama: di masjid, di meunasah, atau bahkan di dalam tenda tempat Al-Qur’an masih dibaca bersama.
Dan pada malam Nuzulul Qur’an di bulan Ramadhan ini, dari gampong-gampong Aceh yang sebagian warganya masih berbuka, bersahur, dan bertadarus di tenda-tenda pengungsian, suara ayat-ayat suci yang mengalun hingga sahur membawa satu pesan yang sangat sunyi namun mendalam:
bahwa selama Al-Qur’an masih dibaca di bumi ini,
selama ayat-ayatnya masih hidup di dada manusia,
maka harapan tidak akan pernah benar-benar tenggelam
bahkan setelah banjir, lumpur, dan kehilangan sekalipun.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






