POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah

Fileski Walidha TanjungOleh Fileski Walidha Tanjung
February 28, 2026
Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah
🔊

Dengarkan Artikel

Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah

oleh Fileski Walidha Tanjung 

Saya Fileski, datang ke sebuah malam yang tampaknya sederhana: duduk, mendengar, bersuara. Namun justru dari kesederhanaan itulah saya menemukan sebuah etika kebudayaan yang kian langka di zaman serba cepat ini. Malam itu bertajuk Melekan Bersama Dhalang Poer, sebuah forum diskusi kebudayaan yang digelar oleh Lesbumi NU Ngawi pada 27 Februari 2026, dari pukul 21.00 hingga menjelang sahur, di sanggar Lesbumi NU Ngawi, Dukuh Tanon, Sidorejo, Kendal, Ngawi. Melekan, dalam konteks ini, bukan sekadar menahan kantuk, melainkan memilih untuk hadir sepenuhnya, membuka telinga, dan menajamkan nurani.

Saya diundang oleh Dhalang Poer, seorang dalang wayang yang juga musisi dengan lagu-lagu populer berbahasa Jawa seperti Langit Mendung Kutho Ngawi dan Gusdur Pendekar Rakyat. Namun menyebut beliau hanya sebagai dalang atau musisi terasa terlalu sempit. Bagi saya, ia adalah guru kebudayaan yang menyampaikan ajaran melalui petuah dan syair Jawa yang sarat perenungan. Dalam salah satu jeda percakapan, ia menyatakan bahwa kesenian tidak boleh berhenti pada tepuk tangan penonton, melainkan harus berani masuk ke ruang batin masyarakat, mengurai kegelisahan sosial, dan menawarkan arah pulang bagi nilai-nilai yang tercerai-berai. Pernyataan itu terasa seperti gema dari nasihat Aristoteles yang kini sering dikutip ulang: seni bukan sekadar meniru realitas, melainkan membantu manusia memahami makna di baliknya.

Malam itu saya hadir bersama budayawan Titus Tri Wibowo dan Apung Purwanto, serta koreografer tari Nugroho Budi yang berkolaborasi menghadirkan pertunjukan gerak dan puisi. Saya membacakan puisi-puisi dari buku terbaru saya, kumpulan puisi Menyala dalam Senyap, yang kelak pada 30 Mei 2026 akan dibawakan dalam konser resital tembang puitik di Melbourne-Australia oleh soprano Elizabeth Rusli dan pianis Joseph Beckitt, dengan komposisi musik oleh Ananda Sukarlan. Bagi saya, perjalanan puisi dari Ngawi ke Melbourne bukanlah soal prestise geografis, melainkan bukti bahwa bahasa dan kejujuran estetik memiliki daya jelajah universal.

📚 Artikel Terkait

Ijazah Penting

Projek Dosen Menulis

Hidup Bukan Lomba, Tapi Perjalanan: Untukmu, yang Baru Lulus Tapi Belum Jadi Apa-Apa

Paradoks Indonesia Dalam Pandangan Prabowo Subianto

Yang membuat saya tertarik pada gagasan Dhalang Poer adalah kegelisahannya tentang ekosistem kesenian. Ia menolak pandangan bahwa seni cukup hidup dari popularitas dan keuntungan konser. Baginya, seni harus berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Dalam dialog malam itu, ia menyebut rencananya bersama para pegiat budaya setempat, membangun destinasi budaya Sumbernogo, sebuah ruang yang akan menjadi ponpes kebudayaan di bawah Lesbumi NU Ngawi, tempat musik, tari, teater tradisional, pameran seni rupa, dan diskusi kebudayaan berlangsung secara rutin. Saya teringat ucapan Rabindranath Tagore, “Peradaban yang besar tidak diukur dari gedung-gedungnya, melainkan dari kedalaman jiwanya.” Sumbernogo, dalam bayangan saya, adalah upaya merawat kedalaman jiwa itu.

Budayawan Titus Tri Wibowo dalam perbincangan malam itu menyatakan bahwa inisiatif seperti Sumbernogo penting untuk mengembalikan seni ke fungsi asalnya sebagai tuntunan, bukan sekadar tontonan. Ia melihatnya sebagai upaya membangun ruang belajar bersama, tempat generasi muda tidak hanya mengonsumsi estetika, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas makna yang mereka produksi. Senada dengan itu, perupa Yos Ponco yang hadir bersama Ahmad Rosyidin dari Sanggar Jatiswara menilai bahwa kolaborasi lintas disiplin seni pada malam tersebut menunjukkan bagaimana estetika bisa menjadi bahasa pemersatu di tengah fragmentasi sosial. Ahmad Rosyidin bahkan menyebut bahwa ia jarang menyaksikan forum yang mampu menjaga intensitas dialog hingga dini hari tanpa kehilangan kedalaman gagasan.

Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika wacana publik sering dipersempit oleh algoritma dan polarisasi, melekan bersama seni adalah tindakan kebudayaan dalam arti yang paling luhur. Ia menolak ketergesaan, menunda kesimpulan instan, dan memberi ruang bagi empati. Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa ilmu tanpa penyucian hati hanya akan melahirkan kesombongan. Kesenian, jika dipraktikkan sebagai latihan nurani, justru melatih manusia untuk tidak serakah, untuk mendengar sebelum berbicara, untuk merasakan sebelum menghakimi. Karakter semacam ini, saya percaya, tidak bisa dibentuk hanya dengan nasihat moral, tetapi melalui latihan estetika yang berkelanjutan.

Malam itu juga tampil penyair Sang Bayang yang untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan tari Nugroho Budi. Sajian tersebut menghadirkan ketegangan indah antara kata dan gerak, membuat hadirin tertegun, seolah diajak masuk ke ruang batin yang jarang dikunjungi. Saya melihat di wajah para hadirin, termasuk Yos Ponco, sebuah kesalutan yang bukan semata pada teknik, melainkan pada keberanian untuk jujur pada pengalaman manusiawi.

Di penghujung malam, ketika waktu sahur mendekat, saya menyadari bahwa “melekan” adalah metafora bagi pilihan kebudayaan kita hari ini. Apakah kita akan terus terlelap dalam kenyamanan hiburan instan, atau bersedia terjaga, meski lelah, demi merawat makna bersama. Friedrich Nietzsche pernah menulis bahwa manusia membutuhkan seni agar tidak mati oleh kebenaran.

Pertanyaannya kini bergeser: seni seperti apa yang kita butuhkan agar tidak mati oleh kekosongan? Dan sejauh mana kita berani hadir, terjaga, dan terlibat, untuk menjadikan kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan laku hidup yang menuntun kita menuju kehidupan yang lebih berempati, adil, dan bermakna. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 82x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 73x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
142
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Ramadan dan Titik Balik Aceh: Dari Ritual ke Arsitektur Keadilan Sosial

Ramadan dan Rekonstruksi Peradaban: Spiritualitas, Solidaritas, dan Etika Kekuasaan dalam Dialektika Timur–Barat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00