POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Zaid bin Tsabit, Sang Arsitek Keabadian Alquran

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
February 24, 2026
Zaid bin Tsabit, Sang Arsitek Keabadian Alquran
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Tulisan ke-12 Edisi Ramadan. Kalian yang lagi tadarus abis tarawih atau habis sahur, pernahkah bertanya, siapa pertama kali menulis Alquran itu? Dialah Zaid bin Tsabit, dikenal sang arsitek keabadian Alquran. Mari kita berkenalan dengan beliau sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau sejarah Islam itu film blockbuster, maka cameo paling gila justru bukan adegan pedang beradu di Badar, bukan teriakan takbir di Uhud, tapi suara lirih, “Zaid, tulis!” Muncullah Zaid bin Tsabit, bocah kelahiran sekitar 611 M dari Bani Najjar, Madinah. Ia anak yatim sejak usia enam tahun karena ayahnya gugur di Perang Bu’ath. Kelak ia membuat seluruh umat manusia berutang pada ujung penanya.

Ibunya, An-Nawar binti Malik, bukan buzzer, bukan komisaris BUMN literasi. Ia cuma perempuan salehah yang rutin mengantar makanan ke rumah Rasulullah SAW. Tapi dari tangan lembut itulah lahir seorang anak yang lebih tajam dari algoritma mana pun. Usia sebelas tahun, saat hijrah 622 M, Zaid sudah hafal 16–17 surah Alquran. Enam belas sampai tujuh belas. Bukan “hafal garis besarnya”, bukan “kurang dikit lagi”. Hafal sempurna. Ketika dibawa menghadap Nabi, ia membaca dengan suara jernih. Rasulullah tersenyum, dan sejarah pun diam-diam bergeser.

Di usia belasan, ia sudah bisa baca-tulis Arab Hijazi, tanpa titik, tanpa harakat. Kita hari ini salah ketik satu huruf saja bisa bikin makna jungkir balik. Zaid belajar dari lingkungan Yahudi Bani Qainuqa yang punya tradisi literasi. Multikulturalisme level dewa. Bukan seminar toleransi sambil rebutan mikrofon. Karena kecerdasannya, Rasulullah menjadikannya katib al-wahy, penulis wahyu.

Nuan bayangkan beban itu. Wahyu turun dari langit, malaikat menyampaikan, Nabi membacakan, lalu seorang remaja mencatatnya di pelepah kurma, kulit binatang, tulang belikat unta. Setelah itu ia membacakan ulang untuk verifikasi. Verifikasi! Kata yang di zaman sekarang sering kalah oleh kata “viral”.

Bahkan ketika surat-surat Nabi dikirim ke Yahudi, Romawi, Persia, muncul kekhawatiran manipulasi. Nabi bersabda, “Pelajarilah aksara Yahudi.” Zaid? Lima belas hari. Ulangi pelan-pelan, lima belas hari sudah menguasai Ibrani lisan dan tulisan. Tujuh belas hari kemudian, Suryani pun takluk. Persia, Koptik, Yunani, ia kuasai. Otaknya seperti server pusat abad ketujuh, tanpa buffering, tanpa error 404.

Ia memang sempat ditolak ikut Badar dan Uhud karena terlalu muda. Tapi di Perang Khandaq (5 H) ia ikut. Bahkan saat Tabuk, ia memegang bendera Bani Najjar. Rasulullah berkata, “Alquran lebih utama, dan engkau hafalnya paling banyak.” Jadi jangan heran, kadang yang kelihatan tak turun ke medan tempur justru memegang senjata paling mematikan, ilmu.

Lalu datang momen yang bikin merinding. Perang Yamamah. Banyak huffaz gugur. Umar bin Khattab khawatir Alquran tercecer bersama para syuhada. Ia mendesak Abu Bakar as-Siddiq untuk membukukannya. Abu Bakar memanggil Zaid. Tugasnya? Mengumpulkan seluruh ayat menjadi satu mushaf. Zaid berkata, “Demi Allah, memindahkan gunung lebih ringan bagiku.” Itu bukan drama. Itu rasa takut pada amanah.

📚 Artikel Terkait

Teuku Markam Saudagar Aceh Penyumbang Emas di Puncak Monas

MEMBACA DAN MEMAHAMI SEJARAH ISLAM

Ketika Demokrasi Bercermin: Antara Efisiensi, Ingatan dan Hak untuk Memilih

Begitu Susahkah Mencari Pekerjaan di Negeri ini?

Ia menyisir pelepah, kulit, batu, hafalan sahabat. Syaratnya tegas. Setiap ayat harus disaksikan dua orang yang mendengarnya langsung dari Nabi. Dua saksi! Standar forensik abad ketujuh yang membuat standar klarifikasi zaman sekarang tampak seperti status “katanya”.

Hasilnya, suhuf yang disimpan oleh Hafshah RA. Lalu pada masa Utsman bin Affan, ketika perbedaan dialek mengancam persatuan, Zaid kembali ditunjuk. Mushaf standar Quraisy disalin. Tujuh eksemplar dikirim ke Mekkah, Kufah, Basrah, Syam. Varian lain dibakar demi kesatuan bacaan. Itulah Mushaf Utsmani yang kita baca hari ini. Setiap hurufnya, setiap fathah-dammah-kasrah yang kini disempurnakan, berutang pada ketelitian seorang Zaid.

Belum selesai. Rasulullah bersabda, “Zaid paling tahu ilmu waris di antara umatku.” Ia jadi ahli faraidh nomor satu. Ia meriwayatkan 92 hadis, sebagian tercatat dalam Shahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Ia menjadi hakim, mufti Madinah, bendahara Baitul Mal. Pada tahun 45 H, di masa Muawiyah bin Abi Sufyan, ia wafat dalam usia sekitar 54–56 tahun. Ibnu Abbas menangis, “Hari ini ilmu pergi.” Abu Hurairah berkata, “Hari ini wafat tintanya umat ini.”

Coba berhenti sejenak. Satu anak yatim. Dua kali memikul tugas mustahil. Hasilnya? Kitab yang dibaca miliaran manusia hingga hari kiamat.

Di zaman ketika tulisan sering dipakai untuk menggiring opini, menjatuhkan lawan, atau sekadar panen like, Zaid menunjukkan, pena bisa menjadi penjaga wahyu. Ia tidak mencari panggung. Ia tidak menjual sensasi. Ia hanya teliti, jujur, dan takut pada Allah.

Semua kisah ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari (4679, 4986–4987), Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, At-Tabaqat al-Kubra, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Siyar A’lam an-Nubala’, Fath al-Bari. Data lengkap. Sumber jelas. Bukan dongeng motivasi.

Maka kalau hari ini kita masih ragu menulis kebenaran, masih malas belajar serius, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan zaman, tapi nyali. Karena sejarah sudah membuktikan. Seorang remaja dengan pena dan integritas bisa menjaga wahyu untuk selamanya. Nama itu adalah Zaid bin Tsabit. Kagum? Seharusnya.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 68x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 67x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
128
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
206
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
94
Postingan Selanjutnya
Menjadi Ratu di Hati Rakyat

Menjadi Ratu di Hati Rakyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00