Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Tulisan ke-12 Edisi Ramadan. Kalian yang lagi tadarus abis tarawih atau habis sahur, pernahkah bertanya, siapa pertama kali menulis Alquran itu? Dialah Zaid bin Tsabit, dikenal sang arsitek keabadian Alquran. Mari kita berkenalan dengan beliau sambil seruput Koptagul, wak!
Kalau sejarah Islam itu film blockbuster, maka cameo paling gila justru bukan adegan pedang beradu di Badar, bukan teriakan takbir di Uhud, tapi suara lirih, “Zaid, tulis!” Muncullah Zaid bin Tsabit, bocah kelahiran sekitar 611 M dari Bani Najjar, Madinah. Ia anak yatim sejak usia enam tahun karena ayahnya gugur di Perang Bu’ath. Kelak ia membuat seluruh umat manusia berutang pada ujung penanya.
Ibunya, An-Nawar binti Malik, bukan buzzer, bukan komisaris BUMN literasi. Ia cuma perempuan salehah yang rutin mengantar makanan ke rumah Rasulullah SAW. Tapi dari tangan lembut itulah lahir seorang anak yang lebih tajam dari algoritma mana pun. Usia sebelas tahun, saat hijrah 622 M, Zaid sudah hafal 16–17 surah Alquran. Enam belas sampai tujuh belas. Bukan “hafal garis besarnya”, bukan “kurang dikit lagi”. Hafal sempurna. Ketika dibawa menghadap Nabi, ia membaca dengan suara jernih. Rasulullah tersenyum, dan sejarah pun diam-diam bergeser.
Di usia belasan, ia sudah bisa baca-tulis Arab Hijazi, tanpa titik, tanpa harakat. Kita hari ini salah ketik satu huruf saja bisa bikin makna jungkir balik. Zaid belajar dari lingkungan Yahudi Bani Qainuqa yang punya tradisi literasi. Multikulturalisme level dewa. Bukan seminar toleransi sambil rebutan mikrofon. Karena kecerdasannya, Rasulullah menjadikannya katib al-wahy, penulis wahyu.
Nuan bayangkan beban itu. Wahyu turun dari langit, malaikat menyampaikan, Nabi membacakan, lalu seorang remaja mencatatnya di pelepah kurma, kulit binatang, tulang belikat unta. Setelah itu ia membacakan ulang untuk verifikasi. Verifikasi! Kata yang di zaman sekarang sering kalah oleh kata “viral”.
Bahkan ketika surat-surat Nabi dikirim ke Yahudi, Romawi, Persia, muncul kekhawatiran manipulasi. Nabi bersabda, “Pelajarilah aksara Yahudi.” Zaid? Lima belas hari. Ulangi pelan-pelan, lima belas hari sudah menguasai Ibrani lisan dan tulisan. Tujuh belas hari kemudian, Suryani pun takluk. Persia, Koptik, Yunani, ia kuasai. Otaknya seperti server pusat abad ketujuh, tanpa buffering, tanpa error 404.
Ia memang sempat ditolak ikut Badar dan Uhud karena terlalu muda. Tapi di Perang Khandaq (5 H) ia ikut. Bahkan saat Tabuk, ia memegang bendera Bani Najjar. Rasulullah berkata, “Alquran lebih utama, dan engkau hafalnya paling banyak.” Jadi jangan heran, kadang yang kelihatan tak turun ke medan tempur justru memegang senjata paling mematikan, ilmu.
Lalu datang momen yang bikin merinding. Perang Yamamah. Banyak huffaz gugur. Umar bin Khattab khawatir Alquran tercecer bersama para syuhada. Ia mendesak Abu Bakar as-Siddiq untuk membukukannya. Abu Bakar memanggil Zaid. Tugasnya? Mengumpulkan seluruh ayat menjadi satu mushaf. Zaid berkata, “Demi Allah, memindahkan gunung lebih ringan bagiku.” Itu bukan drama. Itu rasa takut pada amanah.
📚 Artikel Terkait
Ia menyisir pelepah, kulit, batu, hafalan sahabat. Syaratnya tegas. Setiap ayat harus disaksikan dua orang yang mendengarnya langsung dari Nabi. Dua saksi! Standar forensik abad ketujuh yang membuat standar klarifikasi zaman sekarang tampak seperti status “katanya”.
Hasilnya, suhuf yang disimpan oleh Hafshah RA. Lalu pada masa Utsman bin Affan, ketika perbedaan dialek mengancam persatuan, Zaid kembali ditunjuk. Mushaf standar Quraisy disalin. Tujuh eksemplar dikirim ke Mekkah, Kufah, Basrah, Syam. Varian lain dibakar demi kesatuan bacaan. Itulah Mushaf Utsmani yang kita baca hari ini. Setiap hurufnya, setiap fathah-dammah-kasrah yang kini disempurnakan, berutang pada ketelitian seorang Zaid.
Belum selesai. Rasulullah bersabda, “Zaid paling tahu ilmu waris di antara umatku.” Ia jadi ahli faraidh nomor satu. Ia meriwayatkan 92 hadis, sebagian tercatat dalam Shahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Ia menjadi hakim, mufti Madinah, bendahara Baitul Mal. Pada tahun 45 H, di masa Muawiyah bin Abi Sufyan, ia wafat dalam usia sekitar 54–56 tahun. Ibnu Abbas menangis, “Hari ini ilmu pergi.” Abu Hurairah berkata, “Hari ini wafat tintanya umat ini.”
Coba berhenti sejenak. Satu anak yatim. Dua kali memikul tugas mustahil. Hasilnya? Kitab yang dibaca miliaran manusia hingga hari kiamat.
Di zaman ketika tulisan sering dipakai untuk menggiring opini, menjatuhkan lawan, atau sekadar panen like, Zaid menunjukkan, pena bisa menjadi penjaga wahyu. Ia tidak mencari panggung. Ia tidak menjual sensasi. Ia hanya teliti, jujur, dan takut pada Allah.
Semua kisah ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari (4679, 4986–4987), Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, At-Tabaqat al-Kubra, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Siyar A’lam an-Nubala’, Fath al-Bari. Data lengkap. Sumber jelas. Bukan dongeng motivasi.
Maka kalau hari ini kita masih ragu menulis kebenaran, masih malas belajar serius, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan zaman, tapi nyali. Karena sejarah sudah membuktikan. Seorang remaja dengan pena dan integritas bisa menjaga wahyu untuk selamanya. Nama itu adalah Zaid bin Tsabit. Kagum? Seharusnya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






