Dengarkan Artikel
Oleh Novita Sari Yahya
Bagian prolog : Utusan Khusus di Balik Pintu Tertutup
“Baron tetaplah di ruangan ini, temani aku berbicara tentang urusan khusus PBB.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada tenang, tetapi memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. Pintu ruangan tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa lebih padat dari sebelumnya. Cahaya siang menembus tirai tipis, membentuk garis lembut di lantai marmer. Suasana formal bercampur dengan keakraban yang aneh, seolah pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan ruang tempat kepentingan besar dipertaruhkan.
Utusan khusus itu duduk tegap, map tipis berada di pangkuannya. Tatapannya lurus, profesional, dan terlatih untuk membaca situasi.
“Saya utusan khusus untuk wilayah yang selama ini dianggap berkonflik dengan militer karena dituduh sebagai gerakan separatis,” katanya datar.
“Kami bertemu dengan ketua adat dan masyarakat setempat. Temuan kami menunjukkan hal yang berbeda. Ada tindakan represif militeristik yang dikendalikan oleh rezim berkuasa. Jika Anda menjadi presiden bagi lebih dari 300 juta orang, dan Anda seorang perempuan, bagaimana Anda akan menjamin kehidupan masyarakat adat sekaligus menyelesaikan persoalan separatisme?”
Pertanyaan itu meluncur tanpa tekanan nada, tetapi bobotnya terasa berat di udara. Itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan pengukuran visi dan keberanian.
Wulan tersenyum tipis. Ia duduk tegak, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Matanya tenang, menyiratkan keyakinan yang lahir dari perjalanan panjang.
“Saya merasa terhormat atas kunjungan ini,” jawabnya. “Meski saya hanya salah satu kandidat dalam pemilihan presiden 2029.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara mantap.
“Saya berdiri di atas legacy politik keluarga kami selama seratus tahun. Kakek saya adalah salah satu pendiri bangsa. Prinsip kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah fondasi kebijakan saya. Sebagai seorang muslim, kewajiban saya memastikan keadilan hadir dan memperbaiki karakter bangsa sebagai negara merdeka.”
Nada suaranya tetap lembut, tetapi setiap kata terasa jelas.
“Kami akan memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Kami akan menempatkan pejabat yang kompeten dan berintegritas. Kami memahami sejarah bangsa ini rumit, tetapi banyak persoalan lahir dari campur tangan asing. Karena itu kami harus kembali pada pembangunan karakter bangsa sebagaimana dirintis para pendiri.”
Ia menatap langsung ke mata utusan itu.
“Jika dunia percaya kami mampu menyelesaikan persoalan HAM, maka kedaulatan negara kami juga harus dihormati.”
Aku melihat utusan khusus itu mengangguk kecil. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian berlebihan, tetapi sorot matanya menunjukkan pengakuan. Jawaban itu bukan retorika kosong.
Pertemuan kemudian mencair. Mereka makan siang bersama di ruang makan rumah. Hidangan sederhana tersaji: sup hangat, nasi, dan beberapa lauk rumahan. Tawa kecil mulai terdengar, menggantikan ketegangan formal.
Utusan itu berkeliling rumah, memperhatikan foto keluarga di dinding. Ia berhenti cukup lama di depan sebuah foto lama, seolah mencoba memahami manusia di balik sosok politik yang baru saja berdiskusi serius dengannya.
Setelah ia pergi, rumah kembali sunyi.
Wulan memanggilku ke ruang tamu.
“Baron, kamu dengar sendiri maksud mereka,” katanya tanpa basa-basi. “Bahasa kasarnya, jika kita tidak mampu mengurus konflik itu, mereka bisa masuk dengan alasan memerdekakan wilayah tersebut.”
Nada suaranya kini berbeda. Lebih jujur, lebih berat.
“Aku tidak peduli pada sumber daya alamnya,” lanjutnya. “Aku peduli pada rakyat yang setia pada negara. Aku tidak mau mereka saling berhadapan. Korban selalu masyarakat sipil, perempuan, dan anak-anak.”
📚 Artikel Terkait
Ia menatapku dalam.
“Kamu urus komunikasi dengan petinggi militer. Termasuk mereka yang punya bisnis di sana. Ekspansi mereka harus dikendalikan.”
Aku hanya mengangguk. Itu bukan sekadar perintah, melainkan amanah yang sarat risiko.
Keheningan kembali turun. Bukan keheningan kosong, melainkan keheningan yang dipenuhi kesadaran bahwa percakapan ini akan memengaruhi nasib banyak orang.
Di luar, angin berdesir pelan di sela jendela.
Wulan bersandar. Wajahnya tak lagi menunjukkan ekspresi kandidat presiden, melainkan seseorang yang memikul beban kemanusiaan. Pertemuan tadi mungkin telah selesai, tetapi persoalan sebenarnya baru dimulai.
Hari itu aku menyadari, kekuasaan, kemanusiaan, dan kedaulatan bisa bertemu dalam satu titik rapuh. Dan di titik itulah masa depan ditentukan.
Beberapa minggu kemudian, aku menyerahkan undangan pernikahanku yang ketiga kepada Wulan. Dalam hati, ada harapan yang bahkan tak berani kuakui sepenuhnya: mungkin ia akan menunjukkan sesuatu—kecemburuan, keterkejutan, atau setidaknya perubahan ekspresi.
Namun tidak.
“Aku akan hadir di pesta pernikahanmu, Baron,” katanya tenang.
Tidak ada drama. Tidak ada getar suara. Ia hanya menyerahkan selembar kertas berisi agenda pengamanannya menjelang pemilihan presiden.
“Aku berharap kamu tetap loyal setelah menikah,” katanya. “Supaya aku tahu kesetiaanmu bukan karena perasaan pribadi, tetapi karena keyakinan bahwa perubahan memang harus terjadi.”
Kata-kata itu menembus lebih dalam dari yang ia sadari.
Aku pergi ke kamar dan memutuskan mengasingkan diri ke kampung ibuku di Jawa Tengah. Di sana aku menemui Kiai Husein, guru spiritual yang selama ini membimbingku keluar dari dunia gelap politik jalanan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menangis di depannya.
“Mungkin separuh hidup saya di jalanan,” kataku pelan. “Saya melihat banyak ketidakadilan, bahkan menjadi bagian darinya. Tapi sejak mengenal Wulan, ada sesuatu yang berubah. Apa yang sebenarnya terjadi pada saya, Kiai?”
Kiai Husein tersenyum lembut.
“Dalam hidup, kita bertemu seseorang bukan untuk dimiliki,” katanya, “tetapi untuk belajar dan disadarkan.”
Aku terdiam lama.
“Saya jadi ragu dengan pernikahan ini,” kataku. “Apakah saya mencintai, atau hanya mencari sosok Wulan dalam diri perempuan lain?”
Kiai menatapku penuh pengertian.
“Pernikahan adalah komitmen, bukan sekadar keinginan,” ujarnya. “Mintalah petunjuk lewat tahajud. Jika hatimu tenang, itulah jawabannya.”
Selama sebulan aku tinggal di kampung. Semua komunikasi kumatikan. Aku hanya beribadah, berjalan pagi, dan berbicara seperlunya.
Menurut Roni, orang kepercayaanku di Jakarta, Desi berkali-kali menelepon sambil menangis. Ia bahkan datang ke rumah ibuku, memastikan keadaanku.
Wulan berbeda. Ia hanya menitip pesan: semoga aku sehat dan segera kembali karena masa kampanye akan segera dimulai.
Dua perempuan. Dua bentuk cinta. Dua cara peduli.
Aku tetap bertanya-tanya: perbedaan apa yang membuat Wulan selalu menjaga jarak? Mengapa selama lima belas tahun aku hanya bisa menyimpan rindu tanpa pernah benar-benar bersamanya?
Dan di situlah aku mulai memahami, bahwa kisah kami bukan sekadar tentang cinta. Ini tentang idealisme, kekuasaan, luka masa lalu, dan pilihan hidup yang tak selalu bisa dipersatukan.
Cerpen ini terdiri dari 7 bab dan ini adalah bab pertama prolog cerita. Cerita ini terdapat dalam buku siluet cinta, pelagi rindu yang segera akan terbit .
Lagu : Mencintaimu dalam diamku .
Pencipta lagu Gede Jerson
Berdasarkan puisi karya Novita sari yahya
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





