Dengarkan Artikel
Oleh : Isya Fakriani
Taruni Kelas X APAT SMK Negeri 1 Jeunib, Bireuen
Pagi itu terasa berbeda. Udara di sekolah seperti lebih berat dari biasanya. Langit memang cerah, tetapi hati para guru dan siswa dipenuhi mendung. Kabar yang beberapa hari lalu hanya terdengar sebagai bisikan kini menjadi kenyataan: Bapak Irwan, kepala sekolah yang mereka cintai, resmi pindah tugas ke sekolah lain.Takdir telah menetapkan jalannya.
Bagi banyak orang, Bapak Irwan bukan sekadar kepala sekolah. Ia adalah sosok ayah di lingkungan sekolah. Ia hadir bukan hanya untuk mengatur, tetapi juga untuk mendengar. Ia menegur dengan lembut dan memuji dengan tulus. Setiap pagi, ia berdiri di gerbang dengan senyum hangat, seolah mengajarkan bahwa memulai hari dengan kebaikan adalah bagian dari pengabdian.
Namun takdir selalu berjalan sesuai rencana-Nya. Ketika surat keputusan itu turun, suasana ruang guru mendadak sunyi. Beberapa guru menunduk, sebagian menarik napas panjang. Siswa-siswa saling bertanya, berharap kabar itu keliru. Tetapi kenyataan tetaplah kenyataan. Takdir telah memanggilnya untuk melanjutkan amanah di tempat lain.
Di antara banyak hati yang merasa kehilangan, hati Ibu Cinta adalah yang paling rapuh. Selama ini, ia sering berdiskusi dengan Bapak Irwan tentang siswa, tentang tanggung jawab, bahkan tentang kegelisahan kecil yang tak semua orang pahami.
📚 Artikel Terkait
“Ibu tidak sendiri. Kita jalani bersama,” pernah Bapak Irwan berkata saat ia merasa lelah.
Kini, kebersamaan itu harus dilepas. Bukan karena ingin, tetapi karena takdir menghendaki.
Hari perpisahan tiba. Tidak ada hiasan mewah, hanya doa dan air mata yang berusaha ditahan. Dalam sambutannya, Bapak Irwan tetap tenang. Ia berterima kasih, meminta maaf, dan berpesan agar semangat kebersamaan tetap dijaga.
“Perpisahan ini bukan akhir,” ucapnya lembut. “Ini hanya bagian dari perjalanan takdir.”
Kata-kata itu menyentuh hati Ibu Cinta. Ia sadar, takdir bukan untuk dilawan, melainkan untuk diterima. Air matanya jatuh, bukan sebagai tanda kelemahan, tetapi sebagai proses menuju keikhlasan.
Hari-hari setelah kepergian itu terasa sepi. Namun bel tetap berbunyi. Siswa tetap belajar. Guru tetap mengajar. Kehidupan terus berjalan, seakan mengajarkan bahwa takdir selalu membawa manusia pada fase baru.
Suatu sore, di bangku taman sekolah, Ibu Cinta merenung. Ia mulai memahami bahwa keikhlasan bukan berarti tidak merasa sedih. Keikhlasan adalah menerima keputusan Tuhan dengan hati yang lapang. Mengingat kebaikan tanpa terjebak dalam kesedihan. Mendoakan tanpa menyalahkan keadaan.
Perlahan, ia bangkit. Ia masuk kelas dengan senyum yang lebih tenang. Ia mengajak siswa berdoa untuk Bapak Irwan. Ia mengingatkan bahwa pemimpin yang baik akan selalu hidup dalam nilai-nilai yang ditanamkan.
Saat itulah ia benar-benar memahami makna takdir dan keikhlasan.Takdir mempertemukan dan memisahkan.
Keikhlasan menguatkan dan menenangkan.
Dan mereka semua belajar satu hal penting: bahwa mencintai berarti siap merelakan, dan menerima takdir adalah bagian dari kedewasaan iman. Karena pada akhirnya, takdir bukan tentang kehilangan, melainkan tentang belajar ikhlas dalam setiap perjalanan kehidupan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






