POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mahasiswa Warung Kopi Abad 21 di Aceh

RedaksiOleh Redaksi
February 9, 2026
Mahasiswa Warung Kopi Abad 21 di Aceh
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Fenomena mahasiswa nongkrong di warung kopi atau coffee shop pada abad ke-21 telah menjadi bagian penting dari budaya populer generasi muda masa kini. Warung kopi tidak lagi sekadar tempat minum, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang publik yang fleksibel: tempat belajar, berdiskusi, bersosialisasi, bahkan membangun identitas diri. Banyak mahasiswa menjadikannya sebagai “kampus kedua” karena suasananya nyaman, tersedia Wi-Fi, colokan listrik, serta ruang yang mendukung produktivitas seperti mengerjakan tugas, menyusun skripsi, atau rapat organisasi.

Di sisi lain, nongkrong di coffee shop juga sering menjadi simbol gaya hidup urban yang mencerminkan eksistensi, modernitas, bahkan prestise. Meski demikian, sebagian mahasiswa lebih memilih street coffee yang lebih terjangkau dan akrab. Fenomena ini mencerminkan pergeseran perilaku konsumsi mahasiswa, dari sekadar memenuhi kebutuhan menjadi bagian dari gaya hidup. Di satu sisi, kebiasaan ini bisa berdampak positif karena membuka ruang untuk membangun jejaring sosial dan interaksi yang lebih luas. Namun di sisi lain, muncul pula keluhan pemilik kafe tentang fenomena “rojali”, yaitu rombongan yang berlama-lama nongkrong tetapi hanya sedikit melakukan pembelian.

Untuk memahami fenomena ini lebih jauh, kita perlu melihat bahwa kopi bukan sekadar minuman biasa. Secara historis, kopi berasal dari Ethiopia pada abad ke-9, dikenal melalui legenda Kaldi, lalu menyebar ke Yaman pada abad ke-15 dan dipopulerkan kaum Sufi untuk mendukung ibadah malam. Dari Pelabuhan Mocha, kopi berkembang ke Eropa pada abad ke-17 hingga akhirnya dibudidayakan besar-besaran oleh Belanda di Jawa pada akhir 1600-an, menjadikan Indonesia salah satu pusat produksi kopi dunia.

Sejarah kopi Indonesia dimulai tahun 1696 ketika VOC membawa bibit Arabika ke Batavia. Setelah berhasil ditanam pada 1699, kopi Jawa menjadi komoditas ekspor unggulan hingga terkenal dengan istilah “A Cup of Java”. Namun wabah karat daun pada akhir abad ke-19 membuat Belanda memperkenalkan kopi Robusta pada 1900 yang lebih tahan penyakit dan kini mendominasi produksi nasional.

Di Aceh, kopi Arabika mulai dikembangkan intensif pada masa kolonial Belanda di Dataran Tinggi Gayo sekitar 1908–1930-an. Perkebunan seperti Belang Gele menjadi awal kopi sebagai komoditas utama rakyat yang berkembang pesat pasca kemerdekaan dan dikelola mandiri oleh masyarakat. Kopi Gayo yang tumbuh di ketinggian 900–1700 mdpl dikenal dunia karena aroma harum, rasa gurih, dan keasaman rendah, menjadikannya simbol kebanggaan Aceh di panggung global.

Sejalan dengan itu, warung kopi di Aceh berakar sejak awal abad ke-20 dan berkembang menjadi pusat interaksi sosial yang sangat mengakar dalam budaya lokalnya. Tradisi “jep kupi” melahirkan keude kuphi sebagai ruang komunitas, diskusi, dan pertukaran informasi. Pasca konflik dan tsunami 2004, warung kopi tumbuh semakin pesat sebagai ruang solidaritas sosial dan identitas masyarakat Aceh. Ikon seperti kopi sanger dan kupi weng, serta warung legendaris seperti Kopi Solong sejak 1974, menegaskan bahwa budaya ngopi Aceh jauh lebih tua dibanding tren coffee shop modern di era sekarang.

Di abad ke-21, mahasiswa tidak lagi sepenuhnya identik dengan ruang kelas, perpustakaan kampus, atau forum diskusi formal sebagaimana dibayangkan dalam tradisi akademik lama. Kehidupan mahasiswa hari ini bergerak lebih cair, fleksibel, sekaligus kompleks. Di tengah dunia yang semakin digital, cepat, dan penuh tekanan, mahasiswa justru menemukan ruang baru yang perlahan menjelma menjadi simbol penting kehidupan generasi muda modern, yaitu warung kopi.

Dari Banda Aceh hingga Yogyakarta, warung kopi dan coffee shop telah berubah fungsi menjadi semacam “kampus kedua”. Mahasiswa datang bukan hanya untuk meminum kopi, tetapi juga untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, membangun jaringan sosial, bahkan mencari identitas diri dalam dinamika kehidupan urban. Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup populer, melainkan realitas sosial baru yang mencerminkan perubahan budaya intelektual mahasiswa di abad ini.

Bagi sebagian besar mahasiswa perantau, kos atau asrama sering kali hanya menjadi ruang tidur. Kampus adalah ruang kewajiban akademik. Sementara warung kopi hadir sebagai ruang antara: tidak seformal kampus, tidak sesempit kamar kos, tetapi cukup nyaman untuk menjadi tempat “bernaung” dalam keseharian. Di sinilah warung kopi menjelma menjadi rumah kedua mahasiswa abad 21.

Mahasiswa datang bukan semata karena kopi, tetapi karena kebutuhan ruang sosial dalam tradisi. Di warung kopi mereka menemukan suasana hangat, cair, dan bebas. Mereka bisa duduk berjam-jam tanpa tekanan, berbicara tentang apa saja, dari tugas kuliah hingga keresahan hidup. Warung kopi menjadi tempat membangun rasa kebersamaan, terutama bagi mereka yang jauh dari keluarga dan hidup dalam rutinitas akademik yang melelahkan.

Dalam tradisi intelektual dunia, kedai kopi memang bukan ruang asing. Jurgen Habermas dalam teorinya tentang public sphere menjelaskan bahwa ruang publik seperti kafe di Eropa abad ke-18 menjadi pusat munculnya diskursus demokratis masyarakat modern. Ruang informal semacam itu menjadi arena percakapan publik yang melampaui batas institusi resmi.

Dalam konteks Aceh, posisi warung kopi bahkan lebih kuat. Ia bukan hanya tempat minum kopi, melainkan ruang komunikasi sosial masyarakatnya sehari-hari. Penelitian Rahmat Fajri (2020) menegaskan bahwa kedai kopi di Aceh melahirkan percakapan publik, mulai dari isu politik, agama, hingga persoalan kehidupan bersama. Mahasiswa kemudian mengambil peran penting di dalamnya, menjadikan warung kopi sebagai ruang alternatif yang lebih cair dibanding ruang akademik formal.

📚 Artikel Terkait

Fauziah: Songket Banda Aceh Sangat Diminati oleh Wisatawan

Uang, Perang, dan Damai

Syekh Abdurrauf al-Singkili; Pemuka Ulama Aceh

Bumiku Menangis

Fenomena mahasiswa warung kopi juga terkait erat dengan budaya digital generasi muda. Laporan We Are Social & Hootsuite Digital Report 2024 menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tujuh jam per hari dalam aktivitas digital berbasis internet. Gaya hidup ini menciptakan kebutuhan ruang pertemuan baru yang fleksibel, santai, tetapi tetap terkoneksi dengan dunia digital. Warung kopi menjawab kebutuhan itu dengan menyediakan Wi-Fi, suasana terbuka, serta kebebasan waktu yang tidak dibatasi jam akademik.

Bagi banyak mahasiswa, warung kopi benar-benar menjadi ruang akademik alternatif. Di sana mereka mengerjakan skripsi, menyusun proposal riset, membaca jurnal online, berdiskusi tentang politik kampus, hingga mengadakan rapat organisasi. Warung kopi menawarkan suasana hidup: ada suara percakapan, ada interaksi sosial, dan ada rasa kebersamaan yang membuat mahasiswa tidak merasa sendirian menghadapi tekanan studi.

Sosiolog Ray Oldenburg menyebut ruang semacam ini sebagai third place, yakni ruang ketiga setelah rumah dan sekolah atau kantor, tempat masyarakat membangun komunitas dan solidaritas sosial. Dalam konteks mahasiswa abad 21, warung kopi menjadi ruang ketiga yang sangat menentukan.

Namun pertanyaan kritisnya tetap relevan: apakah warung kopi masih menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis mahasiswa abad ke-21, tempat merumuskan persoalan, mencari solusi, dan melahirkan aksi nyata bagi perubahan peradaban, atau justru hanya menjadi simbol gaya nongkrong tanpa kedalaman intelektual?

Di sinilah sisi dilematisnya muncul. Warung kopi memang bisa menjadi ruang produktif, tetapi juga sangat mudah berubah menjadi ruang distraksi. Mahasiswa datang dengan niat mengerjakan tugas, tetapi akhirnya tenggelam dalam aktivitas tanpa arah: scroll TikTok tanpa sadar, bermain game online, ngobrol berjam-jam, atau nongkrong sampai larut malam.

Fenomena ini selaras dengan istilah doom scrolling, yakni kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti dalam konsumsi informasi yang melelahkan. Banyak mahasiswa terjebak dalam ilusi produktif: duduk dengan laptop terbuka, tetapi pikiran terseret ke layar ponsel. Penelitian American Psychological Association (APA) tahun 2022 menunjukkan generasi muda mengalami peningkatan stres dan kecemasan akibat tekanan sosial dan digital, sehingga mencari ruang pelarian yang nyaman. Warung kopi menjadi salah satu bentuk pelarian sosial yang tampak “produktif”, tetapi sering tidak benar-benar menghasilkan kerja secara substansial.

Warung kopi juga tidak bisa dilepaskan dari logika ekonomi dan kapitalisme gaya hidup. Kopi hari ini bukan lagi sekadar minuman, melainkan simbol identitas dan bagian dari budaya konsumsi modern. Laporan International Coffee Organization (ICO) tahun 2023 menunjukkan konsumsi kopi global meningkat signifikan, termasuk di Asia Tenggara. Mahasiswa menjadi target pasar utama karena kopi dibeli bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena pengalaman sosial dan gaya hidup yang melekat di dalamnya.

Akibatnya, warung kopi perlahan berubah menjadi ruang kapitalisme gaya hidup. Mahasiswa yang seharusnya hidup sederhana kadang terjebak dalam pola konsumsi rutin yang mahal: kopi susu kekinian, snack premium, hingga kebiasaan nongkrong harian. Di sinilah paradoks muncul: mahasiswa dikenal sebagai agen perubahan, tetapi sekaligus menjadi konsumen aktif industri modern.

Dalam konteks Aceh, warung kopi memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar ruang gaya hidup. Ia menjadi ruang budaya, ruang politik, sekaligus infrastruktur sosial yang hidup dalam keseharian masyarakat, tempat ketahanan sosial Aceh kerap tumbuh dari ruang sederhana. Dalam tulisan saya sebelumnya Warung Kopi dalam Ketahanan Bencana di Aceh, saya menegaskan bahwa warung kopi bukan hanya tempat santai, tetapi simpul solidaritas yang penting. Saat bencana terjadi, ketika listrik padam dan komunikasi terganggu, warung kopi sering menjadi titik berkumpul masyarakat untuk berbagi informasi, mengisi daya perangkat, dan saling menguatkan. Sementara dalam tulisan saya yang lain, Budaya Ngopi dalam Perspektif Anak Muda, saya menyoroti warung kopi sebagai ruang belajar informal, ekspresi identitas, serta jejaring sosial generasi muda yang lebih bebas dibanding ruang formal.

Menariknya, warung kopi juga menjadi ruang politik mahasiswa. Di meja kopi, isu syariat, demokrasi, konflik sosial, hingga kebijakan pemerintah sering dibicarakan. Namun tantangannya adalah apakah diskusi itu berujung pada tindakan nyata atau berhenti sebatas wacana. Mahasiswa warung kopi kerap larut dalam kritik dan diskusi panjang, namun tidak selalu mampu menerjemahkannya menjadi kontribusi nyata. Warung kopi pun berisiko berubah menjadi ruang yang ramai oleh kata-kata, tetapi sunyi dari gerakan: kaya komentar, dan minim aksi nyata.

Pada akhirnya, warung kopi di Aceh adalah ruang yang sangat kaya makna. Ia bisa menjadi tempat lahirnya gagasan, ruang tumbuhnya solidaritas sosial, dan simpul diskursus publik yang penting bagi demokrasi serta budaya intelektual mahasiswanya. Namun ia juga dapat bergeser menjadi ruang pelarian, distraksi digital, dan simbol gaya hidup tanpa kejelasan. Karena itu, yang keliru bukanlah warung kopinya atau budaya nongkrongnya, melainkan bagaimana ruang itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Warung kopi bisa menjadi ruang produktif untuk belajar dan berdiskusi, tetapi juga bisa menyia-nyiakan masa muda jika tanpa kesadaran mengatur waktu. Di Aceh, di mana mayoritas mahasiswa beragama Islam, warung kopi semestinya tidak menjauhkan dari nilai-nilai spiritual. Ketika azan berkumandang, kewajiban utama tetap harus didahulukan. Nongkrong tidak boleh membuat lupa waktu kewajiban dan pulang apabila sudah waktunya tiba, apalagi terjebak dalam scrolling berlebihan yang perlahan menghabiskan energi muda tanpa arah.

Mari menjadikan warung kopi sebagai ruang manfaat: tempat tumbuhnya intelektualitas, solidaritas sosial, dan produktivitas. Sebab masa muda adalah modal dan aset yang sangat berharga. Jangan sampai meja kopi hanya menjadi saksi waktu yang terbuang, lalu penyesalan datang ketika semuanya sudah terlambat. Warung kopi seharusnya menjadi ruang lahirnya inspirasi, ide, gagasan, dan wawasan, tetapi yang paling penting adalah aksi nyata. Dari ruang sederhana ini, generasi muda dapat membangun mimpi besar: kemandirian, kreativitas, bahkan menuju financial freedom agar mampu berdiri kuat di tengah tantangan zaman.

Harapannya, generasi Aceh di masa depan tidak hanya kuat secara moral dan spiritual, tetapi juga unggul secara intelektual dan mandiri secara ekonomi. Dengan begitu, Aceh dapat kembali maju, menghidupkan cita peradaban besar seperti masa Iskandar Muda, sebuah kejayaan yang tidak hanya dikenang dalam sejarah, tetapi diwujudkan kembali oleh generasi mudanya yang mau berpikir, mencipta, bergerak, dan sejajar dengan daerah maju lain di Indonesia, bahkan dunia.

Terakhir, warung kopi akan selalu menjadi bagian dari Aceh di abad ke-21. Namun masa depan Aceh tidak ditentukan oleh kopi dan warung kopinya semata, melainkan oleh generasi mudanya: apakah mereka hanya akan duduk berbicara, atau bangkit mencipta perubahan nyata. Meja kopi bisa menjadi tempat lahirnya ide besar, tetapi juga dapat menjadi saksi bisu waktu muda yang terbuang jika tidak diiringi kesadaran dan aksi.

Sejalan dengan itu, terdapat nasihat bermakna dari tokoh pejuang Aceh masa lampau, Teuku Umar, yang dikenal kerap singgah di kedai kopi rakyat. Dalam ungkapannya ia berkata:

(“Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid”

(Besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh, atau saya akan syahid).

Ungkapan ini mengandung makna mendalam tentang filosofi kopi sebagai simbol keberanian dan perjuangan. Maka hari ini, warung kopi semestinya tetap menjadi ruang lahirnya kesadaran, gagasan, dan gerakan nyata, agar generasi Aceh tidak hanya kuat dalam wacana, tetapi juga mampu mewujudkan perubahan bagi masa depan daerahnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 183x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 135x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 114x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 110x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
192
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Inmemoriam Agus Widjojo

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00