Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Ini cerpen pertama saya di Februari 2026. Cerpen berdasarkan kisah nyata (based on true story). Kisah seorang ibu, guru agama mengalami nasib malang, dianiaya oleh kepala sekolahnya sendiri. Simak kisahnya, siapkan tisu dan Koptagulnya, wak!
Pulau Sebatik tidak pernah ribut. Ia pulau perbatasan, tempat angin lebih sering bicara daripada manusia. Pagi di sana lahir dari laut, disusui kabut, lalu diserahkan pada sekolah negeri yang dindingnya penuh slogan moral. Di salah satu ruang kelas itulah Sitti Halimah mengajarkan Tuhan, bukan dengan suara keras, tapi dengan kesabaran. Ia guru agama di SD Negeri 001 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Profesi yang katanya suci, tapi nasibnya sering lebih hina dari bangku reyot di sudut kelas.
Sitti Halimah bukan siapa-siapa. Ia bukan pejabat. Ia bukan pemilik kuasa. Ia hanya guru yang datang tepat waktu, pulang paling akhir, dan membawa pulang senyum palsu agar anak-anaknya tak ikut menanggung beban. Di rumah, ia ibu. Di sekolah, ia seharusnya pendidik. Namun takdir menuliskannya sebagai korban.
Segalanya bermula dari pengucilan. Ia dilarang masuk ruang guru. Ruang yang seharusnya jadi tempat berbagi lelah. Ia diasingkan ke perpustakaan, tanpa fasilitas, tanpa kursi layak, tanpa hak berbincang. Ia tak boleh ikut kegiatan sekolah. Namanya dicoret dari grup komunikasi. Dalam sunyi itu, martabatnya dilucuti pelan-pelan. Bullying tidak selalu berteriak, kadang ia berbisik, tapi mematikan.
Lalu kekerasan itu datang, telanjang dan brutal. Kursi melayang. Sekop sampah menyusul. Benda-benda mati dijadikan alat kuasa. Di sekolah. Di hadapan nilai-nilai yang setiap hari ia ajarkan. Ironi itu menusuk. Guru agama diajari kekerasan oleh pemimpin pendidikan. Jika ini bukan satire paling kejam, entah apa namanya.
Tubuh Sitti Halimah menanggung luka. Psikologinya runtuh. Kondisinya merosot tajam hingga harus dirawat dan dirujuk ke Kota Tarakan. Foto dirinya terbaring lemah di ranjang rumah sakit menyebar. Kerudung cokelat, wajah pucat, selang infus terpasang. Seorang perempuan yang selama ini menampung beban orang lain, akhirnya tak sanggup lagi menampung dirinya sendiri.
📚 Artikel Terkait
Namun penderitaan tidak berhenti pada tubuh. Ia menjalar ke perut. Ke dapur. Ke rekening yang kosong. Kepala sekolah diduga menahan tanda tangan administratif, sebuah goresan pena yang menentukan hidup. Akibatnya, tunjangan sertifikasi selama satu tahun tak cair. Angkanya jelas, sekitar Rp45 juta. Setahun penuh bekerja, setahun penuh menunggu, setahun penuh dihukum tanpa pengadilan. Tanda tangan itu berubah menjadi algojo yang rapi, membunuh perlahan tanpa darah.
Kisah ini meledak bukan karena pejabat bicara, melainkan karena seorang anak menulis. Muhammad Nurhidayat, anak kandung Sitti Halimah, menumpahkan luka yang selama ini disimpan ibunya. Ia menulis tentang senyum yang dipaksakan, tentang kesabaran yang diperas habis, tentang seorang ibu yang tetap tegar meski dilempar kursi dan sekop sampah. “Mama dizolimi,” tulisnya. Kalimat sederhana yang menghantam nurani ribuan orang.
Warganet marah. Empati menjelma amarah kolektif. Nama kepala sekolah disebut dengan kecaman. Namun dari pihak terduga pelaku, sunyi. Sang Kepsek seperti ditelan bumi. Ia menghilang.
Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan akan melakukan investigasi. Sementara dari luar sekolah, suara datang lebih keras. Ikatan Alumni STIT Ibnu Khaldun Nunukan mengecam keras. Mereka menyebut tindakan itu melampaui batas kewenangan, mencederai martabat guru, melanggar kode etik pendidik.
Ini bukan sekadar konflik internal sekolah. Ini tragedi tentang kuasa yang lupa diri. Tentang pendidikan yang berubah jadi ruang intimidasi. Tentang guru agama yang mengajarkan sabar, tapi tak diberi keadilan. Jika pembaca menangis, jangan malu. Air mata adalah satu-satunya hal yang masih jujur di negeri kursi terbang dan tanda tangan yang membunuh perlahan.
Foto Ai hanya ilustrasi, sumber berita: msn.com
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






