POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Banjir ke Kebijakan: Sejauh Mana Pemerintah Aceh Menjawab Krisis Ekologi?

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 4, 2026
Menggali Makna Banjir
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Banjir dan longsor besar yang melanda Aceh pada akhir 2025 bukan sekadar peristiwa alam yang datang lalu pergi. Ia meninggalkan jejak luka yang panjang, bukan hanya pada bentang alam, tetapi juga pada ingatan kolektif masyarakat. Data sementara yang dihimpun dari berbagai posko darurat, laporan lapangan, dan estimasi lembaga kebencanaan menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa di Aceh diperkirakan telah melampaui seribu orang, dengan ribuan lainnya luka-luka dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi ke tenda-tenda darurat selama berminggu-minggu.

Wilayah seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar, dan sebagian kawasan Pidie menjadi daerah yang terdampak paling parah. Permukiman di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) luluh lantak, lahan pertanian terendam, dan akses transportasi terputus. Ribuan rumah rusak—dari ringan hingga hancur total—sementara sekolah, puskesmas, dan rumah ibadah ikut terdampak. Di banyak tempat, masyarakat bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan.

Fenomena serupa juga terjadi di luar Aceh. Sumatera Utara (Tapanuli, Sibolga, Padangsidimpuan) dan Sumatera Barat (Agam, Tanah Datar) mengalami bencana dengan pola yang mirip: banjir bandang, longsor, dan kerusakan besar pada infrastruktur serta lingkungan. Ini menandakan bahwa bencana yang terjadi bukan persoalan lokal semata, melainkan krisis ekologis regional di Pulau Sumatra.

Banjir Bukan Lagi Peristiwa “Biasa”

Aceh memang bukan wilayah yang asing dengan hujan lebat. Namun, ketika banjir datang berulang dengan intensitas dan dampak yang semakin luas, kita perlu bertanya lebih jauh. Curah hujan ekstrem hanyalah pemicu. Yang menentukan besarnya kerusakan adalah kondisi lanskap ekologis di bawahnya.

Hutan yang dulu berfungsi sebagai penyerap air kini semakin menyempit. Daerah hulu sungai yang seharusnya menjadi benteng ekologis perlahan berubah akibat pembukaan lahan, pertambangan, dan alih fungsi kawasan. Ketika hujan turun deras, tanah kehilangan kemampuannya menahan air. Sungai meluap, arus menjadi liar, dan kampung-kampung di hilir menanggung akibatnya.

Dalam konteks ini, banjir tidak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa alam semata, melainkan sebagai ekspresi dari krisis tata kelola lingkungan.

Respons Cepat, Tetapi Masih Kuratif

Pemerintah Aceh, bersama pemerintah pusat, tentu patut diapresiasi atas respons darurat: evakuasi, distribusi bantuan, pembukaan akses jalan, serta pemulihan infrastruktur dasar. Langkah-langkah ini menyelamatkan banyak nyawa dan membantu masyarakat bertahan dalam masa krisis.

Namun, jika dicermati lebih dalam, pola kebijakan yang muncul masih dominan kuratif—menangani dampak setelah bencana terjadi. Perhatian besar diberikan pada normalisasi sungai, perbaikan tanggul, dan rehabilitasi fisik. Sementara itu, upaya pencegahan yang menyentuh akar persoalan ekologis masih tampak terbatas dan belum menjadi agenda utama.

Pendekatan seperti ini ibarat merawat luka tanpa mengobati penyebab penyakitnya. Bencana boleh reda, tetapi risiko tetap tinggal.

Agenda Lingkungan: Ada, tetapi Belum Menjadi Arah

📚 Artikel Terkait

SUNYI DI PENJARA YANG TIDAK BERJERUJI

Petunjuk Ulama di Pilkada Aceh 2024: Ijtihad ataukah Ilham?

Surat Wasiat Christiaan Snouck Hurgronje akan Dibuka Tahun 2036 oleh Notaris di Leiden, Belanda

Menanyakan Peran dan Posisi TNI Dalam Penegakan Demokrasi dan Konstitusi (1)

Dalam dokumen perencanaan pembangunan Aceh, isu lingkungan hidup sebenarnya tidak absen. Istilah pembangunan berkelanjutan, ketahanan ekologi, dan mitigasi bencana kerap muncul. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada keberanian politik untuk menjadikannya kebijakan yang mengikat.

Evaluasi izin pertambangan dan perkebunan di kawasan rawan bencana belum dilakukan secara menyeluruh. Penegakan tata ruang sering kali kalah oleh kepentingan jangka pendek. Akibatnya, lingkungan hidup lebih sering hadir sebagai wacana normatif, bukan sebagai fondasi pengambilan keputusan.

Di sinilah terlihat jarak antara rencana di atas kertas dan realitas di lapangan.

Biaya Ekologi yang Ditanggung Manusia

Kerusakan lingkungan selalu memiliki wajah manusia. Di balik angka korban jiwa dan kerusakan material, terdapat cerita anak-anak yang terputus sekolah, petani yang kehilangan sawah, dan keluarga yang harus memulai hidup dari nol di pengungsian.

Bencana ini juga meninggalkan trauma sosial yang tidak mudah diukur. Kehilangan rasa aman terhadap ruang hidup sendiri adalah kerugian yang sering luput dari perhitungan ekonomi. Ketika rumah, ladang, dan sungai tidak lagi memberi rasa aman, maka krisis ekologis berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Peringatan yang Datang Lebih Dulu dari Publik

Menariknya, peringatan tentang kerusakan ekologis Aceh telah lama disuarakan oleh akademisi, aktivis lingkungan, dan masyarakat sipil. Mereka mengingatkan tentang degradasi hutan, rusaknya DAS, dan lemahnya pengawasan izin. Sayangnya, peringatan ini sering dianggap sebagai suara pinggiran—hingga akhirnya dibuktikan oleh bencana.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal sering menjadi sensor paling awal terhadap perubahan lingkungan. Ketika suara-suara ini diabaikan, alam akan berbicara dengan caranya sendiri—dan biayanya selalu mahal.

Dari Pembangunan ke Ketahanan Ekologi

Aceh kini berada di persimpangan penting. Pembangunan tetap dibutuhkan, tetapi tanpa fondasi ekologi yang kuat, pembangunan justru memperbesar risiko bencana. Ketahanan ekologi seharusnya tidak diposisikan sebagai hambatan pembangunan, melainkan sebagai investasi jangka panjang.

Perlindungan kawasan hulu, restorasi hutan dan DAS, evaluasi izin berbasis data ilmiah, serta penegakan tata ruang yang konsisten perlu ditempatkan di jantung kebijakan publik. Tanpa itu, siklus bencana dan pemulihan akan terus berulang.

Penutup: Sebuah Pertanyaan

Setelah air surut dan tenda-tenda pengungsian dibongkar, pertanyaan penting tetap menggantung: apakah Aceh hanya akan terus merespons bencana, atau mulai berani menjawab akar krisis ekologinya?

Pilihan ini bukan sekadar teknis kebijakan, melainkan pilihan moral tentang bagaimana kita memperlakukan alam—sebagai sekutu kehidupan, atau sekadar sumber daya yang dieksploitasi hingga batas terakhirnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 209x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 183x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 143x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 134x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
182
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Serumpun Puisi Zulkifli Hj. Mohd Top@1

Serumpun Puisi Zulkifli Hj. Mohd Top@1

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00