POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pendidikan Agama dan Paradoks Korupsi di Negeri Religius

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
February 3, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif

 Akademisi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Masjid ramai, umrah dan haji meningkat, sedekah diumumkan terbuka. Namun di saat yang sama, kasus korupsi terus bermunculan, bahkan melibatkan tokoh yang secara simbolik tampak saleh. Di titik inilah muncul pertanyaan yang tidak nyaman: ada apa dengan pendidikan agama kita?

Selama ini pendidikan agama diyakini sebagai benteng moral bangsa. Di sekolah, anak-anak diajari ayat, hadis, tata cara ibadah, dan akhlak. Tetapi fakta sosial menunjukkan paradoks. Kesalehan simbolik tidak selalu berbanding lurus dengan kejujuran dan integritas. Banyak orang tampak religius di ruang publik, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan uang dan kekuasaan.

Psikologi moral membantu menjelaskan fenomena ini melalui konsep moral licensing. Dalam penelitian Merritt, Effron, dan Monin (2010), dijelaskan bahwa setelah seseorang merasa telah melakukan banyak kebaikan, ia cenderung memberi “izin” pada dirinya sendiri untuk melakukan pelanggaran berikutnya. Moral tidak bekerja seperti kompas, tetapi seperti rekening: ketika merasa punya banyak tabungan kebaikan, toleransi terhadap kesalahan justru meningkat.

Agama, secara psikologis, menjadi sistem moral licensingyang sangat kuat. Ibadah besar seperti haji, umrah, puasa, dan sedekah menjadi “deposit moral”. Identitas sebagai orang saleh memberi rasa aman: “Saya ini orang baik.” Lalu tersedia pula mekanisme pembersihan cepat melalui taubat dan istighfar. Tidak ada institusi moral lain yang menyediakan sistem pembenaran batin selengkap ini.

Akibatnya muncul paradoks. Semakin besar simbol kesalehan, semakin luas ruang toleransi batin terhadap penyimpangan. Inilah yang menjelaskan mengapa korupsi bisa tumbuh subur di masyarakat religius. Pelaku tidak merasa dirinya jahat, melainkan “orang baik yang kebetulan salah”. Ia tetap rajin beribadah, bahkan dermawan, tanpa merasa integritasnya runtuh.

Fenomena ini sebenarnya sudah lama diingatkan Al-Qur’an. Dalam Surah An-Najm ayat 32, Allah melarang manusia merasa dirinya suci. Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bahwa perasaan sudah bersih oleh amal justru menipu manusia. Bahaya terbesar moral bukan pada dosa, tetapi pada perasaan sudah cukup baik.

Penelitian lanjutan menunjukkan moral licensing lebih kuat pada individu yang memiliki identitas moral tinggi dan aktif menampilkan simbol kesalehan. Maka tidak heran korupsi sering dibungkus dengan niat baik: demi keluarga, demi umat, demi perjuangan, bahkan demi bangsa dan negara. Dosa tidak lagi dipandang sebagai pengkhianatan amanah, melainkan sebagai “kesalahan kecil” yang tertutup oleh banyak amal.

📚 Artikel Terkait

HCI dan 6 Ranah Pengembangan di TK

Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Jambo Politek Aneuk Nanggroe

Di sinilah pendidikan agama di sekolah perlu dikritisi secara serius. Selama ini pendidikan agama terlalu fokus pada ritual dan hafalan, tetapi lemah dalam membangun kesadaran etis reflektif. Anak diajari cara shalat, tetapi jarang dilatih menghadapi godaan, konflik kepentingan, dan mekanisme pembenaran diri. Ia hafal dalil tentang haramnya korupsi, tetapi tidak cukup dibekali keberanian menolak ketika kesempatan itu datang.

Masalah kita bukan orang berdosa yang tidak beribadah. Masalah kita justru orang rajin beribadah yang merasa sudah cukup baik untuk menoleransi dosanya sendiri.

Dari sinilah lahir fenomena “koruptor dermawan”. Dalam kerangka moral licensing, sedekah bukan lagi penyesalan, melainkan legitimasi batin. Muncul logika bawah sadar: saya memang mengambil, tetapi saya juga memberi. Sedekah berubah menjadi “asuransi moral”.

Lebih berbahaya lagi, masyarakat sering ikut menormalisasi. Sedekah dari harta haram diterima demi takut kehilangan bantuan atau menjaga nama baik tokoh. Padahal dalam ajaran agama, sedekah dari harta haram tidak menghapus dosa dan tidak bernilai ibadah. Normalisasi inilah yang membuat korupsi terus hidup dalam lingkungan yang tampak religius.

Karena itu, pembenahan pendidikan agama menjadi mendesak. Pendidikan agama harus bergeser dari sekadar membentuk kesalehan simbolik menuju pendidikan integritas. Anak-anak perlu dilatih jujur pada diri sendiri, berani berkata tidak, dan sadar bahwa amal bukan tabungan untuk membeli dosa.

Agama tidak salah. Iman tidak bermasalah. Yang keliru adalah cara iman dipahami dan diproses secara psikologis dan sosial.

Sudah saatnya kita jujur bercermin. Pendidikan agama tidak boleh hanya melahirkan generasi yang pandai beribadah, tetapi juga berani jujur. Sekolah tidak cukup mengajarkan cara sujud, tetapi harus melatih keberanian menolak suap, menahan godaan, dan mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran. Karena di hadapan Tuhan, bukan banyaknya ritual yang akan ditanya, melainkan kejujuran hati dan bersihnya amanah.

Jika pendidikan agama berhasil menanamkan kesadaran ini, agama akan kembali menjadi kompas moral, bukan sekadar rekening tabungan kebaikan. Dan hanya dengan cara itulah kita bisa berharap korupsi benar-benar berkurang — bukan sekadar berganti wajah, tetap saleh di mimbar, tetapi curang di belakang meja.

POTRET Gallery Banda Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 187x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 170x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 152x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 133x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 121x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
181
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bisakah Aceh ‘Merdeka’ Secara Struktural di Bawah NKRI?

Aceh Pasca Segalanya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00