POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
January 31, 2026
Bincang Buku Membumikan Literasi
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Tabrani Yunis

Era Digital dan Perubahan Gaya Hidup

Digitalisasi kini merambah ke seluruh aspek kehidupan dengan kecepatan yang sulit terbendung. Ia menembus sekat-sekat tradisi, norma, bahkan nilai-nilai yang selama ini menjadi penopang masyarakat. Kehadiran gadget dan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, belajar, hingga beristirahat. Perubahan ini bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan sebuah disrupsi yang mengguncang tatanan lama dan melahirkan pola hidup baru.

Lahirnya Kebiasaan Baru: Doom Scrolling

Di tengah derasnya arus digital, muncul berbagai istilah atau terminologi baru untuk menggambarkan kebiasaan baru manusia. Salah satunya adalah doom scrolling— yang dipahami sebagai aktivitas terus-menerus menggulir layar gadget, mengonsumsi informasi tanpa henti, sering kali tanpa tujuan jelas. Sehingga, gadget semakin sulit lepas dari genggaman. Gadget menjadi alat yang memuaskan batin dan terbawa mengarungi sajian tayangan-tayangan singkat yang mengasyikan.

Sekilas, doom scrolling tampak sepele. Namun, kebiasaan ini menyedot waktu, mengganggu produktivitas, dan menjerumuskan kita ke dalam siklus negatif. Banyak pekerjaan terbengkalai, fokus hilang, bahkan kesehatan mental terganggu karena paparan informasi yang berlebihan dan sering kali bernuansa negatif.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kebiasaan melakukan doom scrolling dalam keseharian kita, di satu sisi membantu kita mendapatkan berbagai sajian hiburan yang menyenangkan dan memuaskan hati. Apalagi ketika kita berada dalam posisi kurang hiburan. Maka sajian yang ada di platform media sosial menjadi pilihan yang tepat. Namun sering, tanpa disadari pula kebiasaan ini membawa banyak dampak buruk bagi kehidupan kita.

Dampak yang Masif dan Lintas Generasi

Fenomena doom scrolling ini tidak mengenal batas usia, gender, atau profesi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang seharusnya memiliki kesadaran tinggi, sama-sama terjebak dalam perilaku ini. Doom scrolling telah menjadi kebiasaan massal yang menyelimuti kehidupan modern.

📚 Artikel Terkait

National School of Drama (NSD) New Delhi Menutup Acara Asia Pacific Bond for Theatre School (APB)

Diskopukmdag Lakukan Temu Kemitraan UMKM Banda Aceh

Belajar di Saat Dunia Berguncang

RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH

Lebih jauh, dampaknya terhadap generasi muda sangat mengkhawatirkan. Alih-alih tumbuh menjadi generasi cerdas dan kritis, generasi emas, mereka berisiko mengalami brain rot—kerusakan fungsi otak akibat terlalu bergantung pada mesin pencari dan kecerdasan buatan. Informasi tidak lagi disimpan dalam memori otak, melainkan sekadar diakses instan. Akibatnya, kemampuan literasi menurun, daya pikir kritis melemah, dan lahirlah generasi yang rapuh. Generasi rapuh yang tidak memiliki daya tahan hidup yang prima, mudah diserang berbagai penyakit di usia muda, dan tidak mampu menghadapi tantangan alam yang berat. Sehingga setiap kali musibah atau bencana terjadi, korban jiwa tak dapat terhindari.

Ancaman terhadap Masa Depan

Jadi, jika kebiasaan buruk ini dibiarkan, doom scrolling akan melahirkan generasi yang kehilangan jati diri, tidak mampu berpikir mandiri, dan mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Apalagi dalam catatan sejarah bangsa ini, kemampuan literasi masyarakat bangsa kita saat ini sedang berada di titik nadir. Literasi yang seharusnya menjadi fondasi peradaban, perlahan kehilangan makna.

Lebih parah lagi, generasi bangsa ini berisiko menjadi “pengguna pasif” yang hanya mengonsumsi informasi tanpa mengolahnya. Padahal, masa depan membutuhkan anak-anak muda yang tangguh, kritis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan global.

Jalan Bijak Menghadapi Arus Global

Nah, pertanyaan yang mungkin kita harus lontarkan ke publik adalah bagaimana kita harus bersikap? Apakah kita harus menghentikan digitalisasi dan semua aktivitas doom scrolling tersebut?

Tentu saja, menghentikan digitalisasi tentu mustahil. Namun, kita bisa memilih untuk bijak dalam menghadapinya. Edukasi literasi digital, pembiasaan membaca yang sehat, serta penguatan nilai-nilai budaya dan spiritual harus menjadi benteng utama.

Generasi muda perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan yang kreatif, kritis, dan berdaya. Dengan begitu, arus globalisasi digital tidak akan menghancurkan, melainkan justru memperkuat kualitas bangsa. Bisakah ini dilakukan? Semua tergantung kita. Namun, hal yang harus dikuatkan adalah upaya membangun kembali kemampuan literasi agar masyarakat kita mampu membaca, mengidentifikasi segala masalah serta menganalisis secara kritis, hingga mampu mencari solusi yang bijak, solusi yang mampu beradaptasi, tanpa mematikan kemampuan diri. Semoga.

—

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 130x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 110x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 108x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 88x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 79x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
168
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00