Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Era Digital dan Perubahan Gaya Hidup
Digitalisasi kini merambah ke seluruh aspek kehidupan dengan kecepatan yang sulit terbendung. Ia menembus sekat-sekat tradisi, norma, bahkan nilai-nilai yang selama ini menjadi penopang masyarakat. Kehadiran gadget dan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, belajar, hingga beristirahat. Perubahan ini bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan sebuah disrupsi yang mengguncang tatanan lama dan melahirkan pola hidup baru.
Lahirnya Kebiasaan Baru: Doom Scrolling
Di tengah derasnya arus digital, muncul berbagai istilah atau terminologi baru untuk menggambarkan kebiasaan baru manusia. Salah satunya adalah doom scrolling— yang dipahami sebagai aktivitas terus-menerus menggulir layar gadget, mengonsumsi informasi tanpa henti, sering kali tanpa tujuan jelas. Sehingga, gadget semakin sulit lepas dari genggaman. Gadget menjadi alat yang memuaskan batin dan terbawa mengarungi sajian tayangan-tayangan singkat yang mengasyikan.
Sekilas, doom scrolling tampak sepele. Namun, kebiasaan ini menyedot waktu, mengganggu produktivitas, dan menjerumuskan kita ke dalam siklus negatif. Banyak pekerjaan terbengkalai, fokus hilang, bahkan kesehatan mental terganggu karena paparan informasi yang berlebihan dan sering kali bernuansa negatif.
Sebagaimana kita ketahui bahwa kebiasaan melakukan doom scrolling dalam keseharian kita, di satu sisi membantu kita mendapatkan berbagai sajian hiburan yang menyenangkan dan memuaskan hati. Apalagi ketika kita berada dalam posisi kurang hiburan. Maka sajian yang ada di platform media sosial menjadi pilihan yang tepat. Namun sering, tanpa disadari pula kebiasaan ini membawa banyak dampak buruk bagi kehidupan kita.
Dampak yang Masif dan Lintas Generasi
Fenomena doom scrolling ini tidak mengenal batas usia, gender, atau profesi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang seharusnya memiliki kesadaran tinggi, sama-sama terjebak dalam perilaku ini. Doom scrolling telah menjadi kebiasaan massal yang menyelimuti kehidupan modern.
📚 Artikel Terkait
Lebih jauh, dampaknya terhadap generasi muda sangat mengkhawatirkan. Alih-alih tumbuh menjadi generasi cerdas dan kritis, generasi emas, mereka berisiko mengalami brain rot—kerusakan fungsi otak akibat terlalu bergantung pada mesin pencari dan kecerdasan buatan. Informasi tidak lagi disimpan dalam memori otak, melainkan sekadar diakses instan. Akibatnya, kemampuan literasi menurun, daya pikir kritis melemah, dan lahirlah generasi yang rapuh. Generasi rapuh yang tidak memiliki daya tahan hidup yang prima, mudah diserang berbagai penyakit di usia muda, dan tidak mampu menghadapi tantangan alam yang berat. Sehingga setiap kali musibah atau bencana terjadi, korban jiwa tak dapat terhindari.
Ancaman terhadap Masa Depan
Jadi, jika kebiasaan buruk ini dibiarkan, doom scrolling akan melahirkan generasi yang kehilangan jati diri, tidak mampu berpikir mandiri, dan mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Apalagi dalam catatan sejarah bangsa ini, kemampuan literasi masyarakat bangsa kita saat ini sedang berada di titik nadir. Literasi yang seharusnya menjadi fondasi peradaban, perlahan kehilangan makna.
Lebih parah lagi, generasi bangsa ini berisiko menjadi “pengguna pasif” yang hanya mengonsumsi informasi tanpa mengolahnya. Padahal, masa depan membutuhkan anak-anak muda yang tangguh, kritis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan global.
Jalan Bijak Menghadapi Arus Global
Nah, pertanyaan yang mungkin kita harus lontarkan ke publik adalah bagaimana kita harus bersikap? Apakah kita harus menghentikan digitalisasi dan semua aktivitas doom scrolling tersebut?
Tentu saja, menghentikan digitalisasi tentu mustahil. Namun, kita bisa memilih untuk bijak dalam menghadapinya. Edukasi literasi digital, pembiasaan membaca yang sehat, serta penguatan nilai-nilai budaya dan spiritual harus menjadi benteng utama.
Generasi muda perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan yang kreatif, kritis, dan berdaya. Dengan begitu, arus globalisasi digital tidak akan menghancurkan, melainkan justru memperkuat kualitas bangsa. Bisakah ini dilakukan? Semua tergantung kita. Namun, hal yang harus dikuatkan adalah upaya membangun kembali kemampuan literasi agar masyarakat kita mampu membaca, mengidentifikasi segala masalah serta menganalisis secara kritis, hingga mampu mencari solusi yang bijak, solusi yang mampu beradaptasi, tanpa mematikan kemampuan diri. Semoga.
—

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





