• Latest
Bincang Buku Membumikan Literasi

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Januari 31, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Januari 31, 2026
in digital, Digitalisasi, Era digital, literasi digital, Opini, POTRET Budaya
Reading Time: 3 mins read
0
Bincang Buku Membumikan Literasi
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh Tabrani Yunis

Era Digital dan Perubahan Gaya Hidup

Digitalisasi kini merambah ke seluruh aspek kehidupan dengan kecepatan yang sulit terbendung. Ia menembus sekat-sekat tradisi, norma, bahkan nilai-nilai yang selama ini menjadi penopang masyarakat. Kehadiran gadget dan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, belajar, hingga beristirahat. Perubahan ini bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan sebuah disrupsi yang mengguncang tatanan lama dan melahirkan pola hidup baru.

Lahirnya Kebiasaan Baru: Doom Scrolling

Di tengah derasnya arus digital, muncul berbagai istilah atau terminologi baru untuk menggambarkan kebiasaan baru manusia. Salah satunya adalah doom scrolling— yang dipahami sebagai aktivitas terus-menerus menggulir layar gadget, mengonsumsi informasi tanpa henti, sering kali tanpa tujuan jelas. Sehingga, gadget semakin sulit lepas dari genggaman. Gadget menjadi alat yang memuaskan batin dan terbawa mengarungi sajian tayangan-tayangan singkat yang mengasyikan.

Sekilas, doom scrolling tampak sepele. Namun, kebiasaan ini menyedot waktu, mengganggu produktivitas, dan menjerumuskan kita ke dalam siklus negatif. Banyak pekerjaan terbengkalai, fokus hilang, bahkan kesehatan mental terganggu karena paparan informasi yang berlebihan dan sering kali bernuansa negatif.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kebiasaan melakukan doom scrolling dalam keseharian kita, di satu sisi membantu kita mendapatkan berbagai sajian hiburan yang menyenangkan dan memuaskan hati. Apalagi ketika kita berada dalam posisi kurang hiburan. Maka sajian yang ada di platform media sosial menjadi pilihan yang tepat. Namun sering, tanpa disadari pula kebiasaan ini membawa banyak dampak buruk bagi kehidupan kita.

Dampak yang Masif dan Lintas Generasi

Fenomena doom scrolling ini tidak mengenal batas usia, gender, atau profesi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang seharusnya memiliki kesadaran tinggi, sama-sama terjebak dalam perilaku ini. Doom scrolling telah menjadi kebiasaan massal yang menyelimuti kehidupan modern.

Lebih jauh, dampaknya terhadap generasi muda sangat mengkhawatirkan. Alih-alih tumbuh menjadi generasi cerdas dan kritis, generasi emas, mereka berisiko mengalami brain rot—kerusakan fungsi otak akibat terlalu bergantung pada mesin pencari dan kecerdasan buatan. Informasi tidak lagi disimpan dalam memori otak, melainkan sekadar diakses instan. Akibatnya, kemampuan literasi menurun, daya pikir kritis melemah, dan lahirlah generasi yang rapuh. Generasi rapuh yang tidak memiliki daya tahan hidup yang prima, mudah diserang berbagai penyakit di usia muda, dan tidak mampu menghadapi tantangan alam yang berat. Sehingga setiap kali musibah atau bencana terjadi, korban jiwa tak dapat terhindari.

Ancaman terhadap Masa Depan

Jadi, jika kebiasaan buruk ini dibiarkan, doom scrolling akan melahirkan generasi yang kehilangan jati diri, tidak mampu berpikir mandiri, dan mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Apalagi dalam catatan sejarah bangsa ini, kemampuan literasi masyarakat bangsa kita saat ini sedang berada di titik nadir. Literasi yang seharusnya menjadi fondasi peradaban, perlahan kehilangan makna.

Lebih parah lagi, generasi bangsa ini berisiko menjadi “pengguna pasif” yang hanya mengonsumsi informasi tanpa mengolahnya. Padahal, masa depan membutuhkan anak-anak muda yang tangguh, kritis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan global.

Jalan Bijak Menghadapi Arus Global

Nah, pertanyaan yang mungkin kita harus lontarkan ke publik adalah bagaimana kita harus bersikap? Apakah kita harus menghentikan digitalisasi dan semua aktivitas doom scrolling tersebut?

Tentu saja, menghentikan digitalisasi tentu mustahil. Namun, kita bisa memilih untuk bijak dalam menghadapinya. Edukasi literasi digital, pembiasaan membaca yang sehat, serta penguatan nilai-nilai budaya dan spiritual harus menjadi benteng utama.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026

Generasi muda perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan yang kreatif, kritis, dan berdaya. Dengan begitu, arus globalisasi digital tidak akan menghancurkan, melainkan justru memperkuat kualitas bangsa. Bisakah ini dilakukan? Semua tergantung kita. Namun, hal yang harus dikuatkan adalah upaya membangun kembali kemampuan literasi agar masyarakat kita mampu membaca, mengidentifikasi segala masalah serta menganalisis secara kritis, hingga mampu mencari solusi yang bijak, solusi yang mampu beradaptasi, tanpa mematikan kemampuan diri. Semoga.

—

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Amazon Introduces Olympus AI for Enterprise Applications

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com