POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga

RedaksiOleh Redaksi
January 25, 2026
Moral Masyarakat dalam Bencana
🔊

Dengarkan Artikel

Antara Persoalan, Antisipasi, dan Solusi.

Oleh : Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Mahasiswa Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Kondisi geopolitik global pada awal 2026 menunjukkan tingkat ketegangan yang tinggi dan saling terkait, membuat dunia berada dalam situasi yang sangat rapuh. Sejumlah konflik besar berlangsung bersamaan: perang yang belum berakhir di Ukraina, konflik berkepanjangan di Timur Tengah, meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan, hingga memburuknya hubungan Amerika Serikat dengan Venezuela. Titik-titik ketegangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkelindan dan melibatkan negara-negara besar pemilik senjata nuklir. Karena itu, risiko eskalasi global tidak lagi bersifat hipotetis, tetapi menjadi ancaman nyata yang patut diwaspadai.

Pada saat yang sama, persaingan antara Amerika Serikat dan NATO dengan Rusia serta Tiongkok semakin mengeras. Rivalitas ini tidak hanya berlangsung di bidang militer, tetapi juga merambah ekonomi, teknologi, dan pengaruh geopolitik global. Dunia pun kian terbelah ke dalam blok-blok kekuatan yang saling berhadapan. Polarisasi semakin dalam, sementara ruang dialog, kepercayaan, dan kerja sama internasional justru semakin menyempit.

Situasi ini diperparah oleh krisis energi dan pangan global. Perubahan iklim, terganggunya rantai pasok, serta konflik geopolitik membuat harga dan ketersediaan energi serta pangan menjadi tidak stabil. Dampak terberat dirasakan negara-negara berkembang, di mana tekanan ekonomi sering kali berujung pada gejolak sosial dan politik. Dalam kondisi seperti ini, ketegangan global tidak lagi menjadi isu elite internasional, tetapi langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat luas.

Berbagai upaya pencegahan terus dibahas untuk menghindari eskalasi krisis global atau bahkan Perang Dunia Ketiga. Penguatan diplomasi multilateral melalui PBB dan organisasi regional menjadi sangat penting agar jalur dialog tetap terbuka. Banyak negara juga mulai memperkuat kemandirian ekonomi, ketahanan energi dan pangan, serta pertahanan siber. Konflik modern tidak lagi hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga melalui serangan digital yang menargetkan sistem keuangan, energi, dan infrastruktur vital. Namun, langkah-langkah teknis ini tidak akan cukup tanpa solusi jangka panjang berupa pengendalian persenjataan strategis, kerja sama internasional yang adil, serta pembangunan global yang berkelanjutan. Dialog, saling menghormati, dan toleransi antarbangsa menjadi fondasi utama pencegahan konflik.

Jika ditarik lebih jauh, situasi global hari ini sesungguhnya mencerminkan pola berulang dalam sejarah peradaban manusia. Setiap satu abad selalu ditandai oleh munculnya sumber daya atau nilai ekonomi strategis yang menjadi penopang kehidupan sekaligus objek perebutan kekuasaan. Pada masa awal peradaban, pangan dari pertanian dan perkebunan menjadi fondasi utama. Memasuki abad ke-15, rempah-rempah seperti cengkeh, lada, dan pala menjadi komoditas strategis yang mendorong kolonialisme dan perebutan jalur perdagangan, terutama di Asia dan Nusantara.

Abad-abad berikutnya ditandai oleh penguasaan tanah, tenaga kerja, dan praktik perbudakan sebagai fondasi kekuatan imperium. Dan berlanjut di revolusi Industri pada abad ke-19 menjadikan batu bara, gas, dan minyak bumi sebagai penggerak utama industri, ekonomi, dan kekuatan militer. Abad ke-20 kemudian ditandai oleh dominasi teknologi, informasi, dan ideologi, yang melahirkan negara-negara adidaya serta konflik besar seperti Perang Dunia I, II dan Perang Dingin.

Memasuki abad ke-21, krisis iklim dan keterbatasan energi mendorong pergeseran menuju sumber daya terbarukan. Dalam konteks ini, sektor perkebunan terutama kelapa sawit, muncul sebagai kekuatan strategis baru. Sawit tidak hanya penting bagi pangan dan industri, tetapi juga sebagai energi terbarukan melalui bioenergi dan biodiesel. Negara-negara produsen sawit, termasuk Indonesia, memiliki posisi strategis dalam transisi energi global, sekaligus menghadapi tarik-menarik kepentingan ekonomi, isu lingkungan, dan standar perdagangan internasional. Maka dalam hal ini, yang berubah dari abad ke abad hanyalah objek yang diperebutkan; dorongan untuk menguasai sumber daya dan kekuasaan tetap menjadi benang merah sejarah umat manusia sampai hari ini.

Pola ini kembali terasa relevan hari ini. Globalisasi memang membuat dunia semakin terhubung, tetapi sekaligus menciptakan ketergantungan yang membuat sistem global rapuh. Optimisme globalisasi yang dulu menjanjikan kesejahteraan bersama kini berubah menjadi kecemasan akibat krisis yang datang bertubi-tubi. Ekonomi, iklim, kesehatan, energi, dan geopolitik. Dalam konteks inilah wacana Perang Dunia Ketiga kembali menguat, bukan sekadar ketakutan, melainkan kemungkinan nyata jika persoalan global terus gagal dikelola secara adil dan berkelanjutan.

Jika perang global benar-benar terjadi, besar kemungkinan ia tidak diawali deklarasi resmi, melainkan muncul perlahan melalui konflik regional yang saling terhubung, perang proksi, tekanan ekonomi, sanksi politik, serangan siber, dan kegagalan diplomasi. Dunia kini seolah berdiri di tepi jurang sejarah, di mana satu keputusan keliru dapat menyeret umat manusia ke dalam konflik besar yang mengancam masa depan peradaban manusia.

Krisis Global dan Retaknya Tata Dunia Internasional

Dunia saat ini menghadapi krisis global yang saling berkaitan dan kian berbahaya. Krisis ekonomi tidak lagi sekadar soal naik-turunnya pasar, melainkan mencakup inflasi yang tinggi, kesenjangan ekonomi yang melebar, lonjakan utang negara, serta ketergantungan pada sistem keuangan global yang rapuh. Situasi ini membuat banyak negara berada dalam posisi rentan, terutama negara-negara berkembang yang memiliki ruang kebijakan terbatas dan sangat bergantung pada perdagangan serta arus modal internasional.

📚 Artikel Terkait

Pemko Apresiasi Pelaksanaan Coaching Clinic KUR Syariah oleh Kemenparekraf

Uang

Lidia Utami dari Agam Berhasil Meraih Tiket ke Turkey, Sumbar Talenta 16

Kafka dan Trio RRT Di Depan Hukum

Dalam kondisi tersebut, negara-negara kuat cenderung lebih mampu mengalihkan beban krisis ke kawasan lain melalui kebijakan perdagangan yang timpang, sanksi ekonomi, dan penguasaan sumber daya strategis. Ketimpangan ini memperdalam ketidakadilan dalam sistem ekonomi global dan secara langsung meningkatkan potensi konflik antarnegara. Keadaan semakin rumit ketika krisis energi dan pangan ikut menghantam dunia. Konflik di wilayah penghasil energi dan pangan utama menyebabkan lonjakan harga dan kelangkaan kebutuhan pokok. Ketika energi dan pangan dijadikan alat tekanan politik, krisis kemanusiaan seperti kelaparan, kemiskinan ekstrem, dan gelombang migrasi besar-besaran akan menjadi sulit dihindari.

Di sisi lain, krisis iklim turut memperparah situasi global. Bencana alam yang semakin sering terjadi dan ancaman ekstrem, mulai dari kekeringan panjang hingga banjir besar dan kenaikan permukaan laut, memicu perebutan sumber daya vital seperti air, energi, dan lahan. Sepanjang sejarah, konflik atas sumber daya kerap menjadi pemicu peperangan. Bedanya, di era global konflik berlangsung lintas negara dengan banyak aktor terlibat, sehingga potensi eskalasinya jauh lebih besar dan semakin sulit dikendalikan.

Dari perspektif geopolitik, dunia juga sedang mengalami pergeseran besar dalam peta kekuatan global. Dominasi satu kekuatan utama pasca-Perang Dingin kini mulai ditantang oleh munculnya kekuatan-kekuatan baru. Persaingan antarnegara besar tidak lagi terbatas pada ideologi, tetapi meluas ke bidang ekonomi, teknologi, militer, dan pengaruh politik. Akibatnya, dunia semakin terbelah ke dalam blok-blok kepentingan yang saling bersaing dan dipenuhi rasa saling curiga.

Ketegangan ini tampak jelas dalam konflik di Eropa Timur, Timur Tengah, dan kawasan Asia Pasifik, yang banyak berlangsung dalam bentuk perang proksi. Negara-negara besar jarang berhadapan secara langsung, tetapi memberikan dukungan politik, ekonomi, dan militer kepada pihak-pihak yang bertikai demi menjaga kepentingannya. Pola ini sangat berbahaya karena memperpanjang konflik, meningkatkan penderitaan warga sipil, dan membuka peluang eskalasi yang sulit dikendalikan.

Pada saat yang sama, lembaga-lembaga internasional yang seharusnya menjaga perdamaian dunia justru mengalami krisis kepercayaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa kerap tersandera kepentingan politik negara-negara besar melalui hak veto, sementara hukum internasional diterapkan secara tidak konsisten. Ketika rasa keadilan global melemah, kepercayaan terhadap penyelesaian konflik secara damai pun ikut runtuh. Dalam kondisi ini, kekerasan dan konfrontasi semakin dianggap sebagai pilihan yang “realistis”, membuat dunia kian rentan terhadap konflik terbuka berskala besar.

Indonesia dan Dunia di Tengah Ketidakpastian Global

Bagi Indonesia, ancaman Perang Dunia Ketiga bukan isu yang jauh atau abstrak. Jika konflik global benar-benar pecah, dampaknya akan langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tekanan ekonomi, krisis pangan dan energi, terganggunya perdagangan internasional, hingga meningkatnya ketidakstabilan kawasan. Di dunia yang saling terhubung, perang besar hampir mustahil dibatasi pada satu wilayah. Efek domino akan menjalar ke berbagai negara, termasuk mereka yang memilih bersikap netral.

Dalam situasi global yang rapuh ini, politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan prinsip bebas dan aktif menjadi modal strategis. Namun, prinsip tersebut tidak boleh berhenti pada sikap tidak memihak semata. Politik luar negeri bebas aktif harus diterjemahkan dalam diplomasi yang benar-benar aktif, konsisten, dan bermoral, bukan hanya untuk menjaga kepentingan nasional, tetapi juga untuk berkontribusi nyata dalam merawat perdamaian dunia.

Sebagai negara besar di dunia berkembang dan aktor penting dalam berbagai forum internasional, Indonesia memiliki kepentingan sekaligus tanggung jawab moral untuk mendorong multilateralisme, keadilan global, dan penyelesaian konflik melalui dialog. Dunia hari ini lebih membutuhkan jembatan kerja sama dan komunikasi daripada tembok konflik serta rivalitas kekuasaan yang hanya memperdalam perpecahan.

Dalam konteks ini, peringatan keras juga datang dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Berdasarkan pengamatannya terhadap dinamika geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir, SBY menilai bahwa Perang Dunia Ketiga bukan lagi sekadar skenario fiksi atau wacana spekulatif. Ia bahkan mengingatkan bahwa jika perang global benar-benar pecah, jumlah korban jiwa berpotensi melampaui lima miliar orang, lebih dari separuh populasi dunia, yang akan menjadikannya tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia. SBY tidak hanya menyampaikan peringatan, tetapi juga mendorong tindakan nyata. Ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera menggelar sidang darurat Majelis Umum, mempertemukan para pemimpin dunia guna membuka kembali ruang dialog tingkat tinggi, serta merumuskan langkah kolektif yang konkret untuk mencegah eskalasi konflik global.

Dalam pandangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ancaman perang dunia lahir dari kombinasi berbahaya antara meningkatnya ketegangan geopolitik, maraknya perang proksi, perlombaan senjata, termasuk senjata nuklir, serta melemahnya diplomasi multilateral. Sistem internasional pasca–Perang Dunia Kedua yang sejak awal dirancang untuk menjaga perdamaian global kini menunjukkan tanda-tanda keretakan serius, ketika kepentingan kekuasaan negara-negara besar semakin sering mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan internasional.

Pesan SBY pada dasarnya bukan sekadar peringatan politik, melainkan seruan moral bagi dunia. Di tengah polarisasi global yang semakin tajam, umat manusia membutuhkan dialog, bukan dendam. Kerja sama, bukan konfrontasi. Sebab dalam perang modern dengan daya hancur teknologi dan senjata nuklir, tidak akan ada pemenang sejati. Yang ada hanyalah kehancuran bersama yang mengancam masa depan peradaban manusia.

Solusi : Dari Kesadaran Global ke Tindakan Nyata

Jika Perang Dunia Ketiga benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya berupa pertempuran militer, tetapi krisis global yang melumpuhkan kehidupan sehari-hari: listrik padam, internet mati, distribusi pangan terganggu, dan ekonomi kacau. Karena itu, kunci utama bagi masyarakat bukan panik, melainkan siap. Untuk bertahan satu minggu hingga satu bulan, kebutuhan dasar seperti air minum, makanan tahan lama, senter dan baterai, radio darurat, obat-obatan, power bank, emas, uang tunai, serta dokumen penting perlu dipersiapkan. Mengetahui jalur evakuasi dan lokasi aman di sekitar tempat tinggal juga menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. Langkah kesiapsiagaan ini bukan untuk menanamkan ketakutan, melainkan menjaga ketenangan, membangun kemandirian, dan memperkuat ketahanan sosial ketika sistem publik mengalami gangguan sementara.

Perang di era modern juga tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi di ruang informasi. Karena itu, kemampuan menyaring informasi menjadi sangat krusial. Hoaks, propaganda, dan kepanikan massal bisa merusak ketahanan sosial lebih cepat daripada senjata. Masyarakat perlu membiasakan diri memantau informasi dari sumber resmi dan memverifikasinya secara kritis.

Dalam situasi krisis berkepanjangan, tempat perlindungan yang aman seperti bangunan beton yang kuat atau ruang perlindungan sederhana menjadi penting. Kemandirian pangan skala kecil, misalnya menanam sayuran cepat panen, serta kesiapan tas darurat (bug out bag) berisi kebutuhan pokok, dapat sangat membantu. Keahlian dasar seperti pertolongan pertama, mengawetkan makanan, dan bertahan hidup juga menjadi bekal penting agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar. Di saat yang sama, solidaritas komunitas dan ketahanan mental keluarga menjadi kunci, karena bertahan bersama selalu lebih kuat daripada bertahan sendirian.

Namun, Perang Dunia Ketiga bukanlah sesuatu yang tak bisa dicegah. Pencegahan hanya mungkin jika dunia berani menempatkan nilai kemanusiaan sebagai pusat kebijakan global. Keamanan sejati tidak lahir dari penumpukan senjata, melainkan dari keadilan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kepercayaan antarnegara. Reformasi lembaga internasional seperti PBB agar lebih adil dan efektif, serta penguatan diplomasi sebagai ruang dialog nyata, menjadi kebutuhan mendesak.

Perdamaian bukan semata tanggung jawab para pemimpin, melainkan tanggung jawab bersama. Pendidikan perdamaian, penghormatan terhadap martabat kemanusiaan, literasi informasi, serta kesadaran kritis masyarakat menjadi kunci untuk mencegah penyebaran kebencian dan politik ketakutan. Bagi Indonesia, meskipun relatif aman secara geopolitik, dampak krisis global tetap perlu diantisipasi secara serius. Mengikuti arahan resmi pemerintah, menjaga stabilitas sosial, memperkuat solidaritas lokal, serta merawat kesehatan mental dan ketenangan bersama merupakan langkah penting dalam menghadapi ketidakpastian global.

Dunia saat ini berada di persimpangan sejarah. Perang Dunia Ketiga bukanlah takdir yang pasti, melainkan sebuah kemungkinan yang masih dapat dicegah. Masa depan umat manusia ditentukan oleh pilihan yang diambil hari ini: apakah dunia akan terus melaju menuju konflik dan kehancuran, atau berani memilih jalan damai yang lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan. Pilihan inilah yang akan menentukan kehidupan peradaban manusia dapat terus berlangsung secara tentram dan damai, tidak hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga bagi generasi-generasi peradaban yang akan datang.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Hukum Internasional di Hadapan Penderitaan: Membaca Aceh dan Konflik Global Lainnya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00