Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Aceh pernah berdiri sebagai sebuah imperium besar di Asia Tenggara. Ia bukan hanya wilayah, melainkan pusat kekuasaan, perdagangan maritim, diplomasi internasional, dan keilmuan Islam. Dalam catatan sejarah, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki armada laut, jaringan dagang lintas Samudra Hindia, hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani, serta posisi penting dalam penyebaran dan pengembangan Islam di kawasan ini. Aceh adalah simpul peradaban, bukan pinggiran.
Namun sejarah tidak berjalan lurus. Imperium Aceh runtuh, bukan dalam satu peristiwa, melainkan melalui rangkaian panjang kekerasan dan keterputusan. Kolonialisme Belanda menghancurkan basis militer dan ekonomi maritimnya. Perang yang berkepanjangan menguras sumber daya dan generasi. Masa kemerdekaan Indonesia pun tidak sepenuhnya menjadi ruang pemulihan; Aceh kembali mengalami konflik bersenjata, ketidakadilan pembangunan, dan relasi kuasa yang timpang dengan pusat. Ketika Aceh belum sepenuhnya pulih, bencana tsunami 2004 datang sebagai pukulan peradaban yang nyaris tak tertahankan. Setelah itu, kerusakan ekologi dan eksploitasi sumber daya alam menambah lapisan penderitaan baru.
Jika kita jujur membaca sejarah ini, hampir semua yang dulu melekat pada Aceh sebagai imperium telah hilang atau melemah: ekonomi maritimnya runtuh, kekuatan militernya lenyap, posisi sebagai pusat ilmu dan perdagangan tergeser, dan kedaulatan politiknya menyempit. Tetapi ada satu hal yang tidak hilang, bahkan justru mengeras dan bertahan: keimanan. Islam bukan sekadar identitas simbolik bagi Aceh; ia menjadi sisa terakhir dari kemegahan masa lalu sekaligus fondasi moral untuk bertahan hidup di tengah derita yang berulang.
Di sinilah letak keunikan Aceh. Banyak bangsa yang runtuh ketika imperiumnya jatuh. Aceh tidak. Ia bertahan bukan karena kekuatan material, melainkan karena daya tahan batin. Iman menjadi penopang psikologis, sosial, dan kultural. Ia menjaga kohesi sosial ketika negara absen, memberi makna ketika kekerasan dan bencana menghancurkan nalar, serta menjadi bahasa kolektif untuk menafsirkan penderitaan. Dalam arti ini, Aceh tidak sekadar “religius”, tetapi menggunakan iman sebagai mekanisme resistensi sejarah.
Namun daya tahan ini juga membawa paradoks. Di satu sisi, Islam menjadi sumber kekuatan identitas Aceh. Di sisi lain, dalam lanskap geopolitik global hari ini, identitas Muslim seringkali dipandang dengan kecurigaan. Dunia internasional jarang bersimpati pada klaim berbasis iman semata. Yang lebih mudah didengar adalah bahasa hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan penderitaan kemanusiaan. Ini bukan soal benar atau salah, melainkan soal bagaimana dunia bekerja.
Di titik inilah Aceh perlu membaca ulang strategi perjuangannya. Jika masa lalu menunjukkan bahwa perlawanan bersenjata membawa risiko kehancuran yang besar, maka masa depan menuntut bentuk resistensi yang lebih cerdas. Bukan karena Aceh lemah, tetapi karena konteks telah berubah. Mengangkat senjata hari ini bukan hanya berisiko secara geopolitik nasional—karena berhadapan dengan Republik Indonesia—tetapi juga berbahaya secara internasional, mengingat sentimen global terhadap konflik yang dibingkai dengan identitas agama.
📚 Artikel Terkait
Merdeka, dalam konteks ini, tidak lagi harus dimaknai sebagai pemisahan teritorial atau konfrontasi bersenjata. Merdeka bisa dimaknai sebagai kemampuan menentukan nasib secara bermartabat di dalam struktur yang ada. Ini yang dapat disebut sebagai “merdeka di dalam dapur Indonesia”: berjuang dari dalam, menggunakan hukum, wacana, pengetahuan, dan solidaritas sipil, bukan peluru. Jalan ini memang tidak heroik secara visual, tetapi justru lebih berkelanjutan.
Aceh memiliki modal besar untuk jalan ini. Pertama, pengalaman penderitaan panjang membuat masyarakat Aceh memiliki sensitivitas tinggi terhadap ketidakadilan. Kedua, identitas Islam yang kuat dapat diterjemahkan ke dalam nilai-nilai universal seperti keadilan, perlindungan alam, dan martabat manusia. Ketiga, Aceh memiliki posisi ekologis yang strategis; kerusakan lingkungan di Aceh bukan isu lokal semata, melainkan bagian dari krisis global. Dunia mungkin tidak langsung mendengar seruan iman Aceh, tetapi dunia akan mendengar jeritan hutan yang rusak, laut yang tercemar, dan masyarakat adat yang terpinggirkan.
Di sinilah kecerdasan perjuangan diuji: bukan meninggalkan iman, tetapi menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami dunia. Islam Aceh tidak perlu ditinggalkan untuk mendapatkan simpati global; ia perlu diartikulasikan melalui isu-isu yang bersifat universal. Ketika Aceh berbicara tentang ekologi, hak hidup, dan keadilan sosial, sesungguhnya Aceh sedang menjalankan ajaran imannya dengan cara yang paling strategis.
Relasi Aceh dengan Republik Indonesia juga perlu ditempatkan secara dewasa. Indonesia bukan sekadar kekuasaan eksternal; ia adalah rumah bersama yang penuh ketegangan. Berjuang di dalam Indonesia berarti memanfaatkan ruang konstitusional, politik, dan budaya untuk memastikan Aceh diperhitungkan. Ini memang jalan yang lambat, penuh frustrasi, dan tidak selalu memberi kepuasan emosional. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa jalan cepat sering berujung pada luka baru.
Pada akhirnya, yang membuat Aceh tetap eksis bukanlah sisa-sisa kejayaan imperium, melainkan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan inti. Iman adalah inti itu. Namun iman yang hidup bukan iman yang beku, melainkan iman yang cerdas membaca zaman. Aceh tidak sedang kekurangan semangat perlawanan; Aceh justru perlu mengarahkan energi resistensinya agar tidak kembali menjadi korban dari keberaniannya sendiri.
Mungkin inilah pelajaran paling penting dari sejarah panjang Aceh: bahwa bertahan hidup dengan martabat seringkali membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan daripada keberanian. Aceh telah membayar harga yang mahal untuk setiap bentuk perlawanan yang tidak membaca konteks. Kini, ketika senjata telah disimpan dan luka masih membekas, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana tetap merdeka dalam berpikir, bermartabat dalam bersikap, dan cerdas dalam berjuang.
Aceh tidak harus kembali menjadi imperium untuk menjadi berarti. Cukup dengan menjadi dirinya sendiri—sebuah masyarakat yang belajar dari sejarah, setia pada imannya, dan matang dalam membaca dunia—Aceh sudah memberi kontribusi penting bagi peradaban Indonesia dan dunia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






