POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Yang Tersisa dari Imperium Aceh: Iman, Daya Tahan, dan Jalan Merdeka yang Cerdas

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 14, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Aceh pernah berdiri sebagai sebuah imperium besar di Asia Tenggara. Ia bukan hanya wilayah, melainkan pusat kekuasaan, perdagangan maritim, diplomasi internasional, dan keilmuan Islam. Dalam catatan sejarah, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki armada laut, jaringan dagang lintas Samudra Hindia, hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani, serta posisi penting dalam penyebaran dan pengembangan Islam di kawasan ini. Aceh adalah simpul peradaban, bukan pinggiran.

Namun sejarah tidak berjalan lurus. Imperium Aceh runtuh, bukan dalam satu peristiwa, melainkan melalui rangkaian panjang kekerasan dan keterputusan. Kolonialisme Belanda menghancurkan basis militer dan ekonomi maritimnya. Perang yang berkepanjangan menguras sumber daya dan generasi. Masa kemerdekaan Indonesia pun tidak sepenuhnya menjadi ruang pemulihan; Aceh kembali mengalami konflik bersenjata, ketidakadilan pembangunan, dan relasi kuasa yang timpang dengan pusat. Ketika Aceh belum sepenuhnya pulih, bencana tsunami 2004 datang sebagai pukulan peradaban yang nyaris tak tertahankan. Setelah itu, kerusakan ekologi dan eksploitasi sumber daya alam menambah lapisan penderitaan baru.

Jika kita jujur membaca sejarah ini, hampir semua yang dulu melekat pada Aceh sebagai imperium telah hilang atau melemah: ekonomi maritimnya runtuh, kekuatan militernya lenyap, posisi sebagai pusat ilmu dan perdagangan tergeser, dan kedaulatan politiknya menyempit. Tetapi ada satu hal yang tidak hilang, bahkan justru mengeras dan bertahan: keimanan. Islam bukan sekadar identitas simbolik bagi Aceh; ia menjadi sisa terakhir dari kemegahan masa lalu sekaligus fondasi moral untuk bertahan hidup di tengah derita yang berulang.

Di sinilah letak keunikan Aceh. Banyak bangsa yang runtuh ketika imperiumnya jatuh. Aceh tidak. Ia bertahan bukan karena kekuatan material, melainkan karena daya tahan batin. Iman menjadi penopang psikologis, sosial, dan kultural. Ia menjaga kohesi sosial ketika negara absen, memberi makna ketika kekerasan dan bencana menghancurkan nalar, serta menjadi bahasa kolektif untuk menafsirkan penderitaan. Dalam arti ini, Aceh tidak sekadar “religius”, tetapi menggunakan iman sebagai mekanisme resistensi sejarah.

Namun daya tahan ini juga membawa paradoks. Di satu sisi, Islam menjadi sumber kekuatan identitas Aceh. Di sisi lain, dalam lanskap geopolitik global hari ini, identitas Muslim seringkali dipandang dengan kecurigaan. Dunia internasional jarang bersimpati pada klaim berbasis iman semata. Yang lebih mudah didengar adalah bahasa hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan penderitaan kemanusiaan. Ini bukan soal benar atau salah, melainkan soal bagaimana dunia bekerja.

Di titik inilah Aceh perlu membaca ulang strategi perjuangannya. Jika masa lalu menunjukkan bahwa perlawanan bersenjata membawa risiko kehancuran yang besar, maka masa depan menuntut bentuk resistensi yang lebih cerdas. Bukan karena Aceh lemah, tetapi karena konteks telah berubah. Mengangkat senjata hari ini bukan hanya berisiko secara geopolitik nasional—karena berhadapan dengan Republik Indonesia—tetapi juga berbahaya secara internasional, mengingat sentimen global terhadap konflik yang dibingkai dengan identitas agama.

📚 Artikel Terkait

Gelar Meninggi, Moral Menyusut: Apa kabar Pendidikan Kita?

Memimpin Bangsa: MLCS

Sebelum Aku Menjadi Guru

Festival Dosa Di India Yang Mengagetkan

Merdeka, dalam konteks ini, tidak lagi harus dimaknai sebagai pemisahan teritorial atau konfrontasi bersenjata. Merdeka bisa dimaknai sebagai kemampuan menentukan nasib secara bermartabat di dalam struktur yang ada. Ini yang dapat disebut sebagai “merdeka di dalam dapur Indonesia”: berjuang dari dalam, menggunakan hukum, wacana, pengetahuan, dan solidaritas sipil, bukan peluru. Jalan ini memang tidak heroik secara visual, tetapi justru lebih berkelanjutan.

Aceh memiliki modal besar untuk jalan ini. Pertama, pengalaman penderitaan panjang membuat masyarakat Aceh memiliki sensitivitas tinggi terhadap ketidakadilan. Kedua, identitas Islam yang kuat dapat diterjemahkan ke dalam nilai-nilai universal seperti keadilan, perlindungan alam, dan martabat manusia. Ketiga, Aceh memiliki posisi ekologis yang strategis; kerusakan lingkungan di Aceh bukan isu lokal semata, melainkan bagian dari krisis global. Dunia mungkin tidak langsung mendengar seruan iman Aceh, tetapi dunia akan mendengar jeritan hutan yang rusak, laut yang tercemar, dan masyarakat adat yang terpinggirkan.

Di sinilah kecerdasan perjuangan diuji: bukan meninggalkan iman, tetapi menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dipahami dunia. Islam Aceh tidak perlu ditinggalkan untuk mendapatkan simpati global; ia perlu diartikulasikan melalui isu-isu yang bersifat universal. Ketika Aceh berbicara tentang ekologi, hak hidup, dan keadilan sosial, sesungguhnya Aceh sedang menjalankan ajaran imannya dengan cara yang paling strategis.

Relasi Aceh dengan Republik Indonesia juga perlu ditempatkan secara dewasa. Indonesia bukan sekadar kekuasaan eksternal; ia adalah rumah bersama yang penuh ketegangan. Berjuang di dalam Indonesia berarti memanfaatkan ruang konstitusional, politik, dan budaya untuk memastikan Aceh diperhitungkan. Ini memang jalan yang lambat, penuh frustrasi, dan tidak selalu memberi kepuasan emosional. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa jalan cepat sering berujung pada luka baru.

Pada akhirnya, yang membuat Aceh tetap eksis bukanlah sisa-sisa kejayaan imperium, melainkan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan inti. Iman adalah inti itu. Namun iman yang hidup bukan iman yang beku, melainkan iman yang cerdas membaca zaman. Aceh tidak sedang kekurangan semangat perlawanan; Aceh justru perlu mengarahkan energi resistensinya agar tidak kembali menjadi korban dari keberaniannya sendiri.

Mungkin inilah pelajaran paling penting dari sejarah panjang Aceh: bahwa bertahan hidup dengan martabat seringkali membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan daripada keberanian. Aceh telah membayar harga yang mahal untuk setiap bentuk perlawanan yang tidak membaca konteks. Kini, ketika senjata telah disimpan dan luka masih membekas, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana tetap merdeka dalam berpikir, bermartabat dalam bersikap, dan cerdas dalam berjuang.

Aceh tidak harus kembali menjadi imperium untuk menjadi berarti. Cukup dengan menjadi dirinya sendiri—sebuah masyarakat yang belajar dari sejarah, setia pada imannya, dan matang dalam membaca dunia—Aceh sudah memberi kontribusi penting bagi peradaban Indonesia dan dunia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Abdul Aziz Ali

Puisi-Puisi Abdul Aziz Ali

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00