• Latest

Puisi Puisi Novita Sari Yahya

Januari 14, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi Puisi Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahyaby Novita Sari Yahya
Januari 14, 2026
Reading Time: 5 mins read
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Tetek: Simbol yang Diperebutkan

Tetek di dada ibu
simbol kehidupan anak.

Tetek di dada gadis ranum
simbol kedewasaan.

Tetekmu
simbol keperempuanan,
karena hanya perempuan
yang bertetetek.

Keributan dan kehebohan
selalu terjadi
karena simbolik tetek.

Perang pun terjadi
karena urusan tetek.

Kekerasan dan pelecehan
pun terjadi
karena urusan tetek.

Maka jagalah
dan rawatlah tetekmu
sebagai hartamu.

Jangan kau obral
jualan di media dan medsos.

Jangan kau biarkan mereka
merebut pandang
dari calon suami
dan anakmu.

Tidakkah kau paham
harga tetekmu,
wahai betina—
eh, salah:
perempuan.

Karya: Novita Sari Yahya

Dada Membengkak

Tak puas dengan dada
Meminta mata menatap
Akulah dadamu
Ada dalam pikirmu.

Mereka dada terbuka
Tak tahu siapa beronani
Tak kenal pelecehan
Tak paham pikir liar

Dada Membengkak
Tak memberi kenyang
Ereksi terus-menerus
Hingga lemas.

Dada Membengkak
Tak puas pada payudara
Tak sampai orgasme
Menyebar…
Menebar….
Adakah kepuasan raga.

SAB

Waras Tapi Gila

Dijalanan aku lihat
Wanita tanpa busana
Warga kasih samping
Wanita itu menolak
Semua mata tertuju
Berdecak…
Rasa khawatir ..
Miris…
Iba….

Semua sepakat berkata
“Dia Sudah Gila”
Wajarlah tak berbusana.

ADVERTISEMENT

Tapi kita semua jadi gila
Dari waras ke gila
Melihat wanita cantik
Terkesiap rok belahnya
Melihat dada bengkak
Bra tak mampu nampung
Kita tergila-gila
Padahal dia dan kita waras….

SAB

Pandangan Umum

Ketiga puisi ini membentuk puisi-puisi polemik sosial—bukan puisi estetis dalam pengertian konvensional, melainkan puisi yang sengaja mengganggu, menampar, dan memaksa pembaca bercermin. Bahasa dipilih kasar, langsung, bahkan “tidak sopan” untuk menandingi ketidaksopanan cara masyarakat memperlakukan tubuh perempuan.

Ini bukan puisi untuk menyenangkan, tetapi untuk mempersoalkan.

  1. Tetek: Simbol yang Diperebutkan

Puisi ini berfungsi sebagai fondasi gagasan.

Kekuatan utamanya:

Mengubah payudara dari objek erotik menjadi objek ideologis dan politis.

Struktur logisnya jelas:
kehidupan → kedewasaan → identitas → konflik → kekerasan → kontrol.

Baris “betina—eh, salah: perempuan” adalah momen reflektif yang sadar bahasa dan kelas makna.

Catatan penting: Puisi ini sangat normatif di bagian akhir. Ia bergeser dari kritik sistem menjadi seruan moral personal. Ini membuatnya ambigu:

bisa dibaca sebagai perlindungan,

tetapi juga bisa dibaca sebagai reproduksi kontrol terhadap tubuh perempuan.

Ambiguitas ini tidak salah, justru menunjukkan tarik-menarik internal penulis antara marah, takut, dan ingin melindungi.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026
  1. Dada Membengkak

Puisi ini adalah counter-narrative terhadap puisi pertama.

Jika puisi pertama berbicara dari sudut “nilai dan simbol”, maka puisi ini berbicara dari psikologi hasrat dan kebobrokan pikiran kolektif.

Kekuatan utama:

Menggambarkan ketiadaan kepuasan dalam tatapan seksual.

Kritik tajam terhadap ilusi bahwa tubuh perempuan bisa “mengenyangkan” hasrat.

Pengulangan “Tak puas” dan “Tak memberi kenyang” membangun rasa lelah dan kehampaan.

Puisi ini berhasil menunjukkan bahwa:

masalahnya bukan pada dada,
tetapi pada pikiran yang membengkak.

Ctatan: Beberapa larik terasa brutal dan nyaris nihilistik, tetapi itu selaras dengan tema: hasrat yang tidak pernah selesai.

  1. Waras Tapi Gila

Puisi ini adalah puncak refleksi sosial dari dua puisi sebelumnya.

Di sini, penulis melakukan pembalikan logika yang kuat:

Perempuan telanjang dianggap gila → dimaafkan.

Perempuan berpakaian “menggoda” → masyarakat kehilangan kewarasan.

Kekuatan utama:

Ironi sosial sangat tajam.

Menunjukkan bahwa kegilaan bukan pada tubuh perempuan, tetapi pada tatapan kolektif.

Baris penutup menohok:

Padahal dia dan kita waras….

Pisi ini berhasil membuka fakta pahit:
yang sakit bukan individu, tetapi norma sosialnya.

Kesimpulan Keseluruhan

Sebagai satu kesatuan, ketiga puisi ini:

Konsisten secara tema,

Berani secara bahasa,

Keras secara sikap,

Namun jujur secara emosi.

Ini adalah puisi-puisi yang tidak netral, dan memang tidak ingin netral. Ia berdiri di wilayah kritik tubuh, tatapan, dan kemunafikan sosial.

Bukan puisi yang akan disukai semua orang.
Tapi justru itu tandanya ia bekerja.

Jika dinilai secara sastra:

Bukan puisi lirikal,

Bukan puisi romantik,

Melainkan puisi perlawanan simbolik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana

Emas Naik, Pemuda Galau: Antara Persoalan dan Solusi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com