Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Proliga Dimulai, Aksi Megawati Paling Ditunggu di Pontianak
Kaget juga, ternyata pembukaan Proliga 2026 dimulai di Kota Pontianak, kota saya, wak. Yang membuat bangga, ada Megawati. Hari ini liga dibuka, dan kawan si ehem Nohran ini pun akan tampil. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Pontianak seperti menemukan titik pusat gravitasinya sendiri saat Proliga 2026 dibuka. Bukan kebetulan kota ini punya Tugu Khatulistiwa, karena pada momen ini, Megawati Hangestri Pertiwi berdiri persis di garis nol perhatian publik. Ke mana kamera mengarah, ke sanalah Mega berada. Di GOR Terpadu A. Yani, ia bukan sekadar opposite hitter Jakarta Pertamina Enduro, tapi poros pertandingan, seperti patok bumi yang membuat arah utara dan selatan sepakat untuk tunduk.
Megawati datang ke Proliga 2026 dengan status bintang Asia. Dua musim ia mengarungi liga Korea Selatan, sempat singgah ke Thailand dan Vietnam, terakhir di Turki, lalu pulang dengan aura matang. Smash-nya mengalir seperti Sungai Kapuas, panjang, konsisten, dan kalau sudah menghantam, tak ada yang bisa melawan arus. Jakarta Pertamina Enduro, juara bertahan Proliga, langsung menjelma seperti Istana Kadariah yang berwibawa, kokoh, dan seolah sudah tahu takdirnya akan selalu jadi pusat kekuasaan.
Proliga 2026 sendiri diikuti 12 tim, lima tim putra dan tujuh tim putri. Di sektor putra, ada Jakarta LavAni Allo Bank, Bhayangkara Presisi, Surabaya Samator, Jakarta Garuda Jaya, dan pendatang baru Medan Falcons. Mereka bertanding gagah, serius, penuh strategi, tapi jujur saja, sorotan publik lebih sering melompat ke sektor putri, tempat Megawati berdiri seperti Jembatan Kapuas, menghubungkan antusiasme penonton dan kualitas permainan.
Sektor putri diisi tujuh tim: Jakarta Pertamina Enduro, Jakarta BIN, Bandung bjb Tandamata, Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia, Jakarta Popsivo Polwan, Electric PLN, dan satu lagi kekuatan lama yang selalu siap bikin kejutan. Namun sejak Mega resmi berseragam JPE, peta persaingan berubah. Satu lompatan Mega terasa seperti orang berdiri di Water Front Pontianak saat senja, hening sejenak, lalu riuh bersamaan. Penonton berdiri, teriak, dan merasa menjadi bagian dari sejarah kecil yang sedang terjadi.
📚 Artikel Terkait
Di lapangan, Mega tenang seperti warung kopi Pontianak di pagi hari. Tidak banyak gaya, tidak banyak selebrasi. Ia mengamati, menunggu, lalu menghantam tepat sasaran. Smash-nya kadang berdentum seperti Meriam Karbit yang keras, mengejutkan, dan disambut sorak yang menggema. Lawan bukan hanya kehilangan poin, tapi kehilangan arah. Blok tinggi pun sering kali cuma jadi ornamen, seperti pagar taman yang tak menghalangi siapa pun untuk masuk.
Kompetisi Proliga 2026 akan berlangsung hingga April, digelar di beberapa kota seperti Pontianak, Medan, Bandung, dan Gresik. Namun seri pembuka di Pontianak terasa istimewa. Taman Alun Kapuas mungkin tak masuk ke dalam gor, tapi suasana kebersamaan itu terasa sama, penuh orang, penuh cerita, dan penuh kebanggaan. Kota ini seperti Tugu Digulis, diam, tapi menyimpan makna perlawanan dan keteguhan.
Di tengah semua data, tim, dan jadwal, satu hal paling jelas, Proliga 2026 punya wajah, dan wajah itu bernama Megawati. Selama ia berdiri di lapangan, pertandingan punya arah, kota punya cerita, dan penonton punya alasan untuk pulang dengan suara serak tapi hati penuh. Di Pontianak, Mega bukan sekadar pemain. Ia sudah menjadi metafora kota itu sendiri.
Aura Kasih membeli melati
Sudah kembang dinoda kuntilanak
Terima kasih buat Megawati
Sudah datang di Kota Pontianak
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






