Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Pemerhati politik dan sosial budaya
Aceh bukan sekadar sebuah wilayah administratif di ujung barat Indonesia. Ia adalah ruang sejarah, ingatan kolektif, dan pengalaman etis yang panjang—yang darinya negara ini belajar, sering kali dengan cara yang pahit. Dalam banyak fase perjalanan Republik Indonesia, Aceh hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai subjek yang menanggung beban kebijakan negara, khususnya ketika kekuasaan dipraktikkan secara keras dan tanpa empati. Dari sanalah Indonesia perlahan belajar satu pelajaran mendasar: bahwa negara tidak boleh brutal terhadap warganya sendiri.
Sejarah hubungan Aceh dan negara Indonesia diwarnai oleh ketegangan panjang. Aceh pernah menjadi daerah yang paling awal menyokong republik, baik secara moral, politik, maupun material. Namun dalam perjalanan waktu, relasi itu mengalami keretakan. Ketika perbedaan pandangan politik, ekonomi, dan identitas muncul, negara lebih sering memilih pendekatan keamanan ketimbang dialog. Aceh pun berubah dari mitra menjadi objek kontrol. Dalam fase ini, brutalitas negara—baik yang tampak maupun yang sistemik—menjadi bagian dari keseharian masyarakat Aceh.
Pendekatan keamanan yang mengedepankan kekuatan senjata telah meninggalkan jejak trauma mendalam. Operasi militer, status darurat, dan berbagai bentuk kekerasan struktural tidak hanya menargetkan aktor bersenjata, tetapi juga menyentuh warga sipil. Rasa takut dijadikan instrumen stabilitas. Desa-desa hidup dalam kecurigaan, dan hubungan antara negara dan masyarakat tereduksi menjadi relasi kuasa yang timpang. Negara hadir, tetapi tidak sebagai pelindung; ia hadir sebagai sesuatu yang ditakuti.
Dalam konteks ini, Aceh memperlihatkan satu kenyataan penting: stabilitas yang dibangun di atas ketakutan bukanlah stabilitas sejati. Kekerasan tidak mematikan perlawanan, justru sering kali memperpanjangnya. Senjata mungkin mampu menekan, tetapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan politik dan keadilan. Dari Aceh, Indonesia belajar—meski terlambat—bahwa kemenangan militer tidak identik dengan kemenangan moral.
Titik balik paling menentukan dalam sejarah Aceh dan Indonesia terjadi pada tahun 2004, ketika tsunami melanda dan menewaskan ratusan ribu jiwa. Bencana ini meruntuhkan banyak sekat: antara negara dan warga, antara pusat dan daerah, antara kombatan dan korban. Tsunami tidak memilih siapa yang setia dan siapa yang melawan. Ia menunjukkan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam, dan betapa kecilnya makna kekerasan politik di hadapan penderitaan kemanusiaan.
📚 Artikel Terkait
Dalam situasi itu, negara dipaksa untuk menanggalkan sebagian wajah kerasnya. Bantuan internasional masuk, dialog terbuka kembali, dan ruang perundingan yang sebelumnya tertutup mulai dibuka. Perdamaian Aceh tidak lahir dari kemenangan salah satu pihak, melainkan dari kesadaran bersama bahwa kekerasan telah mencapai batasnya. Dari sinilah negara mulai belajar untuk menahan diri—sebuah pelajaran yang mahal, tetapi penting.
MoU Helsinki 2005 menjadi simbol perubahan pendekatan negara. Perjanjian ini bukan hanya dokumen politik, tetapi juga pengakuan bahwa negara tidak selalu benar, dan bahwa kompromi bukanlah tanda kelemahan. Dengan memberi ruang bagi partai lokal, mantan kombatan, dan pengelolaan diri yang lebih luas, negara belajar membatasi kekuasaannya sendiri. Aceh mengajarkan bahwa kekuasaan yang dibatasi justru lebih stabil daripada kekuasaan yang dipaksakan.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada Aceh. Secara perlahan, ia memengaruhi cara negara memandang konflik dan keamanan di wilayah lain. Paradigma keamanan nasional mulai bergeser dari keamanan negara menuju keamanan manusia. Warga tidak lagi semata diposisikan sebagai potensi ancaman, tetapi sebagai subjek yang harus dilindungi martabat dan hak-haknya. Dalam konteks ini, Aceh menjadi semacam laboratorium etik bagi negara—tempat di mana kekerasan diuji, dipertanyakan, dan akhirnya ditinggalkan.
Namun pembelajaran ini tidak sepenuhnya tuntas. Negara memang menjadi lebih berhati-hati, tetapi pengakuan moral atas luka masa lalu masih setengah jalan. Banyak korban belum mendapatkan keadilan, dan banyak kebenaran belum sepenuhnya diungkap. Negara belajar menahan diri, tetapi belum sepenuhnya berani meminta maaf dengan jujur. Di sinilah paradoks Aceh: ia telah mengajari negara untuk tidak brutal, tetapi belum sepenuhnya diakui sebagai guru.
Aceh juga sering direduksi dalam narasi nasional sebagai “daerah khusus” atau “wilayah bermasalah”. Label ini mengaburkan kenyataan bahwa Aceh justru berkontribusi besar pada pendewasaan politik Indonesia. Jika hari ini negara lebih terbuka terhadap dialog, lebih berhitung dalam menggunakan kekuatan, dan lebih peka terhadap isu kemanusiaan, maka Aceh adalah salah satu alasannya. Sayangnya, pelajaran ini sering dilupakan ketika situasi dianggap sudah “normal”.
Dalam konteks kebencanaan, misalnya, Aceh kembali menjadi pengingat. Respons negara yang lebih terbuka terhadap bantuan internasional dan pendekatan kemanusiaan menunjukkan bahwa ada memori institusional yang bekerja. Negara tampak lebih sadar bahwa menutup diri dan bersikap defensif justru dapat memperburuk keadaan. Ini bukan kebetulan; ini adalah hasil pembelajaran panjang dari Aceh dan pengalaman traumatis yang menyertainya.
Pada akhirnya, Aceh mengajarkan satu hal yang sangat mendasar: bahwa kekuatan negara harus dibatasi oleh moral. Negara yang besar bukanlah negara yang paling keras memukul, tetapi negara yang mampu berhenti memukul ketika kekerasan tidak lagi bermakna. Brutalitas mungkin memberi ilusi kontrol, tetapi hanya empati dan keadilan yang memberi legitimasi.
Aceh tidak pernah meminta untuk menjadi guru bagi republik. Ia tidak memilih untuk menjadi ruang uji kekerasan negara. Namun sejarah telah menempatkannya di posisi itu. Dan jika Indonesia hari ini sedikit lebih dewasa—lebih manusiawi, lebih reflektif—maka sebagian dari kedewasaan itu lahir dari luka Aceh. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah negara telah belajar, tetapi apakah pelajaran itu akan terus diingat, atau kembali dilupakan ketika kekuasaan merasa terlalu percaya diri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





