HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai

Asmaul Husna by Asmaul Husna
Desember 30, 2025
in #Cerpen, #Korban Bencana, Aceh, Banjir bandang, Bencana, Bener Meriah, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 4 mins read
0
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asmaul Husna
(Inong Literasi)

Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB, namun mata enggan terpejam. Padahal biasanya pukul 22.00 aku sudah berkelana di alam mimpi. Malam ini berbeda. Hati dan pikiranku terpaut jauh ke kampung halaman, tepatnya ke Bener Meriah, salah satu kabupaten yang sangat terdampak banjir bandang yang menerjang Aceh dan Sumatera pada akhir November lalu. Akses jalan terputus, listrik padam, dan jaringan pun terganggu.

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026

Nyaris sebulan lamanya aku tidak mendengar langsung kabar keadaan orang tua di sana akibat jaringan yang bermasalah. Baru beberapa hari lalu komunikasi kembali terjalin. Rindu yang membuncah akhirnya bisa dituntaskan, meski hanya lewat suara yang timbul-tenggelam karena jaringan yang belum sepenuhnya stabil. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui keadaan mereka.

Alhamdulillah, kampung halaman, orang tua, dan keluarga di sana dalam keadaan aman, sehat, dan selamat. Allah masih menjaga mereka. Meski demikian, kondisi terisolasi membuat mereka tidak bisa ke mana-mana. Banyak akses jalan rusak parah, jembatan putus total, sehingga persediaan kebutuhan pokok kian menipis.

Di tengah keterisolasian itu, satu panggilan menjadi penawar gelisah. Setelah sekian waktu hanya menunggu kabar, akhirnya suara dari seberang sana menemukan jalannya.

“Waalaikumussalam,”
jawaban salam dari ummi terdengar renyah di ujung telepon malam itu, mengawali percakapan saat jaringan akhirnya bersahabat.

Banyak hal yang berlomba ingin diceritakannya, seakan hendak merangkum kisah sebulan terakhir. Saat kejadian, ummi hanya tinggal berdua dengan ayah, yang biasa kusapa Waled. Bang Fadhli, abang keduaku, tinggal di tempat berbeda meski masih di daerah yang sama. Biasanya, ia membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk pulang ke rumah ummi.

Hari-hari ummi diliputi kekhawatiran tentang Bang Fadhli, bagaimanakah keadaannya, selamatkah ia atau tidak. Hingga dua hari setelah musibah itu, Bang Fadhli akhirnya tiba di rumah ummi bersama istri dan anaknya.

“Hai, bagaimana bisa pulang ke sini? Lewat mana? Bagaimana keadaan kalian?” cecar ummi bertubi-tubi, seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, mengingat kondisi jalan yang rusak parah dan jembatan yang putus total.

ADVERTISEMENT

“Kami pulang lewat hutan dan kebun-kebun. Yang penting sampai ke sini untuk memastikan keadaan ummi,” jelas Bang Fadhli.

“Nenek, tadi waktu di jalan pulang, adek lihat kuburan-kuburan hancur. Batu-batunya berserakan, kain putihnya sudah kelihatan,” tutur keponakanku yang berusia empat tahun, menguatkan cerita ayahnya bahwa mereka benar-benar menempuh jalan yang tak biasa. Alhamdulillah, sungguh nikmat yang agung ketika seorang anak tetap mengingat orang tuanya, rela berikhtiar pulang seberat apa pun rintangan.

Dari cerita panjang ummi, dapat kusimpulkan bahwa masalah terbesar adalah menipisnya kebutuhan pokok. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi. Gas sudah lama habis, dan ummi memasak menggunakan kayu bakar, seakan mengulang rutinitas lama sebelum kemajuan menyentuh kehidupan. Meski semua itu disampaikan dengan santai tanpa keluhan, rasanya ngilu sampai ke ulu hati. Apa yang bisa kulakukan?

“Adak na sayep ka lon teureubang melintas batas untuk pulang membawa harapan,”
aku termenung sendiri.

Andaikan aku punya sayap, ingin rasanya terbang menembus batas untuk pulang. Namun medan yang masih berat membuatku belum mampu nekat. Anak-anak tak mungkin kutinggalkan, dan belum memungkinkan pula untuk kubawa.

Lamunanku buyar oleh suara suami sepulang dinas.

“Hari Sabtu mungkin abang ke Bener Meriah, membawa bantuan dari HIPGABI. Kita belanja apa ya sebagai tambahan untuk rumah ummi?” ujarnya.

Penjelasan itu membawa secercah harapan. Tanpa membuang waktu, aku memetakan apa saja yang bisa kubawa sambil terus memantau kondisi jalan terkini.

Dan hari Sabtu pun tiba.
Dering suara gawainya berbunyi. Aku mengira itu panggilan dari suami. Ternyata keliru. Di layar tertulis: Ummi memanggil.

“Jadi ayahnya anak-anak berangkat hari ini?” tanya ummi tanpa basa-basi.
“Jadi, sudah berangkat sejak satu jam lalu,” jawabku.
“Kalau begitu, ummi buatkan apam ya, nanti ummi kirimkan.”

Telepon terputus begitu saja. Aku terpana. Ummi mau membuat apam?

Apam adalah makanan khas Aceh Pidie dari tepung beras yang disajikan dengan kuah santan bercampur nangka, semacam serabi berukuran besar. Biasanya dimasak pada bulan Rajab untuk dibagikan kepada tetangga dalam tradisi kenduri apam yang diwariskan turun-temurun. Meski berasal dari Pidie, Allah menakdirkan aku tumbuh dan berkembang di Bener Meriah, sehingga tradisi ini bukanlah hal asing bagiku.

Tak ada yang salah dengan rencana ummi membuat apam. Namun kali ini keadaannya sangat berbeda. Listrik masih padam, gas telah lama habis, dan bahan pokok semakin langka. Di tengah keterbatasan itu, ummi masih memikirkanku. Aku mencoba menganggapnya angin lalu agar tak merasa bersalah membayangkan kerepotannya.

Namun kenyataan berkata lain saat suami pulang.

“Ini titipan ummi,” ujarnya sambil menyerahkan sebuah bungkusan, mengawali cerita panjang perjalanan menuju Desa Sukaramai Atas, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, lampung halaman yang selalu kusebut dalam doa.

Kasih ibu memang tak selalu terlihat, namun selalu sampai.
Tak pernah cukup kata untuk mengungkapkannya.

Sehat-sehat selalu, ummiku sayang.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 281x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 185x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Baca Juga

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam
#Sejarah Islam

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam

Maret 19, 2026
​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Next Post
Inisiasi Gerakan Pemulihan Pasca Banjir Bandang

Cara Orang Jepang Bertahan dan Tanggap Menghadapi Bencana

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com