• Latest

Duka Lama Pada Desember Tsunami

November 14, 2016
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
4fb2b103-7d0d-484c-ba9b-02ec8de8ff7a

Perempuan Hebat, Perjuangan Tak Terlihat: Refleksi Hari Kartini dalam Cahaya Islam

April 21, 2026
819dc996-4ffe-43e0-a861-db43521da05d

Dr. Damanhur Yusuf Abbas: The Living Reference tentang Syariat Islam di Kota Lhokseumawe

April 21, 2026
74fe2ae1-328a-4b59-b339-daae1b4ea490

50 Santri Tumbang Keracunan MBG di Demak

April 20, 2026
Duka Lama Pada Desember Tsunami - 754B442E 63B1 4486 A85F 1FC79850CE02 | Aceh | Potret Online

Memilih Pendidikan, Memilih Masa Depan

April 20, 2026
IMG_0871

Demokrasi yang Takut Penontonnya

April 20, 2026
IMG_0870

Demokrasi, Islam, dan Keindonesiaan: Etika yang Terlupa dalam Ruang Kekuasaan

April 20, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Duka Lama Pada Desember Tsunami

Redaksi by Redaksi
November 14, 2016
in Aceh, Banda Aceh, Pendidikan, Sosok, Tsunami
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Oleh: Maulidar Yusuf
“Maaf nak Silvi, saya belum bisa mengembalikan pinjaman modal kerupuk kemarin. Uangnya sudah saya kumpulkan, tapi hari ini saya sudah janji untuk mencarikan cicilan uang 500 ribu agar bisa menetap di rumah saya” ucap maaf Nyak Ti saat kami bersilaturrahmi kebarak pengungsi korban gempa dan tsunami. Awalnya kunjungan ini bukan untuk menagih modal yang pernah diberikan Silvi kepada Nyak Ti, namun ingin bersilaturrahmi dan melihat perkembangan kondisi Nyak Ti dan beberapa warga yang tinggal di Barak.
Nyak Ti (71 tahun) adalah korban bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 silam. Dalam bencana tersebut, suami, anak-anak dan famili Nyak Ti meninggal dunia. Nyak Ti hanya tinggal seorang diri, tanpa keluarga. Saat ini, meskipun sudah berada pada penghujung tahun 2012, Nyak Ti masih tinggal di barak pengungsi tsunami tahun 2004.
Perlu diketahui, hidup di barak pengungsian bukanlah keinginan hati dari janda sebatang kara ini. Apalagi pemerintah dan sejumlah NGO telah memberikan bantuan rumah kepada semua pengungsi tsunami di Aceh. Namun, ada apa dengan Nyak Ti?.
Menjelang peringatan 8 tahun tsunami, Nyak Ti masih terseret berbagai persyaratan untuk mendapatkan rumahnya. Padahal Nyak Ti sudah memiliki surat kepemilikan rumah yang diserahkan langsung oleh BRR NAD-Nias dari dana hibah Asian Development Bank (ADB) kepadanya, lengkap beserta foto diri, dan tanda tangan Pleter Smid (Kepala Extended Mission in Sumatra Asian Development Bank) dan Ir. Bambang Sudiatmo (Bidang Pembangunan Perumahan dan Pemukiman, BRR NAD-Nias).
Perumahan tersebut terletak di kawasan Beuramoe, Lamreudeup Aceh Besar. Saat ini sertifikat tanah yang harusnya menjadi milik Nyak Ti berada tak jelas pada siapa, ada yang mengatakan sertifikat tanah dipengang oleh pihak Desa. Nyak Ti hanya memiliki photocopy sertifikat. Namun, untuk apa surat-surat rumah tersebut jika Nyak Ti masih tinggal di Barak penggungsian?!.
Nyak Ti mengungkapkan bahwa apa yang dialami Nyak Ti juga dialami oleh 39 masyarakat Aceh korban tsunami lainnya. Hanya satu dari mereka yang sudah berhasil menempati rumahnya, tiga diantaranya masih tinggal di Barak pengungsi dan 35 lain berpencar tak menentu. Padahal pihak donatur sudah menyerahkan kunci rumah dan surat kepemilikan rumah kepada mereka.
“Rumah kami ada yang huni, mereka meminta uang agar kami bisa masuk ke rumah tersebut” tutur Nyak Ti dalam perjalanan dari Barak ke Mireuk, untuk mengadaikan surat rumah agar bisa mendapatkan uang muka untuk pembayaran rumah. Persoalan permintaan pembayaran ini juga dialami oleh korban tsunami lainnya, harga yang diminta berkisar 3 juta sampai 20 juta.
“Jika tidak mencari pinjaman dari mana saya bisa dapatkan uang, hidup sebatang kara, kaki sakit, dan saya pun sudah tua” sambil berkaca-kaca Nyak Ti becerita, Nyak Ti berusaha untuk tidak pasrah. Berdasarkan penuturan Nyak Ti, pihak yang menduduki rumahnya merasa rumah tersebut tidak berpenghuni. Mereka mencoba menggantikan kunci rumah dan menetap disana. Padahal ketika pembangunan rumah dulu, pihak kontraktor tak mengizinkan Nyak Ti dan pengungsi lainnya tinggal dalam masa pembangunan rumah. Akan tetapi seiring waktu, ada pihak warga setempat yang tinggal di rumah tersebut, sehingga untuk meminta mereka meninggalkan rumah, saat ini harus melewati pembayaran yang tak mungkin disanggupi oleh Nyak Ti dan korban lainnya dalam waktu singkat.
Nyak Ti hanyalah seorang janda, sebatang kara yang berjualan kerupuk tepung ke kios-kios. Akan tetapi saat ini keadaan Nyak Ti sangat memprihatinkan. Kakinya sakit, membuat Nyak Ti sulit untuk berkeliling berjualan, ia hanya mampu menipkan kerupuk di kios-kios dekat dengan Barak saja.
#####
“Saya tidak ingin melaporkan mereka ke polisi, biarlah ini semua diselesaikan secara kekeluargaan. Saya takut, jika melalui jalur hukum akan ada pihak yang sakit hati, sehingga saya tidak tenang menetap di rumah saya”. Dalam penderitaan yang dialami Nyak Ti, saat ini ia memilih damai agar bisa mendapatkan haknya.
Menjelang peringatan delapan tahun musibah gempa dan tsunami di Aceh, luka dan derita Nyak Ti masih mengangga. Luka yang tak bersebab dari pisau, namun luka karena keserakahan dan kengkuhan. Besar harapan Nyak Ti agar keadilan dan kedamaian dapat tegak di bumi Aceh. Jangan sampai, tsunami harus menyapa sekali lagi agar keadilan dan kedamaian!
####
Tulisan ini adalah hasil perjalanan dan pendampingan beberapa korban tsunami di Barak pengungsian, Aceh Besar. Nyak Ti, bukan nama sebenarnya dari salah satu korban. Atas permintaan korban, penulis sudah berjanji untuk tidak menyebutkan nama sebenarnya. Korban tidak ingin dianggap cuak, dengan membongkar semua kejadian yang menimpanya. Kalaupun harus membayar mahal dari usia dan kemampuannya, ia akan berusaha memenuhinya. Meskipun Nyak Ti harus menjajakan kerupuk dengan kaki sakit ke kios-kios. Nyak Ti tak pernah tahu sampai kapan ia bisa mendapatkan sejumlah uang tersebut dan menetap tinggal di rumah yang layak, sambil menanti detik-detik keberangkatannya dari dunia yang fana ini. “Hanya Tuhan Yang Tahu, betapa saya sangat menderita”.
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Tiwi Pryce, Manisnya Bisnis Indonesian Groceries di Inggris

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com