Dengarkan Artikel
Sastra kembali berdiri sebagai suara nurani publik. Di tengah meningkatnya krisis ekologis dan berulangnya bencana alam di Aceh, sastrawan dan penyair Halimah Munawir tampil membacakan puisi berjudul “Diam Sangat Menyakitkan” dalam acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (26/12/2026).
Acara ini digelar oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bekerja sama dengan Desember Kopi Gayo, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi kolektif atas banjir bandang dan longsor Aceh 2025, yang hingga kini masih menyisakan luka sosial, ekologis, dan kemanusiaan.
Puisi sebagai Kritik Terbuka atas Kejahatan Ekologis
Dalam pembacaan yang berlangsung hening dan penuh empati, Halimah Munawir menyampaikan puisinya dengan intonasi tenang namun menghantam kesadaran. Ia tidak sekadar meratap, tetapi menggugat.
Puisi “Diam Sangat Menyakitkan” lahir dari kegelisahan mendalam terhadap pembabatan hutan, eksploitasi sumber daya alam, dan keserakahan ekonomi yang dinilai menjadi penyebab struktural bencana di Aceh.
Dengan menggunakan metafora kehidupan yang tercerabut dari akarnya, Halimah menyusun kritik tajam terhadap sistem yang membiarkan alam dirusak tanpa kontrol, sementara korban terus berjatuhan.
“Diam Sangat Menyakitkan”: Seruan Moral yang Menggema
Salah satu penggalan puisi yang paling menggugah berbunyi:
“Kita jangan mati rasa / Diam sangat menyakitkan / Bagi nyawa-nyawa yang terkubur.”
Kalimat tersebut tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga menjadi tuduhan moral bagi siapa pun yang memilih bungkam terhadap ketidakadilan ekologis.
Menurut Halimah, diam adalah bentuk kekerasan pasif yang memperpanjang penderitaan korban bencana. Oleh sebab itu, sastra hadir untuk mengganggu kenyamanan, bukan sekadar menghibur.
Spirit Cut Nyak Dien dalam Puisi Perlawanan
Menariknya, Halimah mengaitkan puisinya dengan semangat perjuangan Cut Nyak Dien, pahlawan nasional asal Aceh. Ia menghadirkan sosok Cut Nyak Dien sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan, kini dalam bentuk baru: penindasan ekologis.
Transisi sejarah ini menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti pada kolonialisme bersenjata, melainkan berlanjut pada kolonialisme ekonomi dan eksploitasi alam.
Malam Doa dan Kemanusiaan: Seni sebagai Ruang Solidaritas
📚 Artikel Terkait
Acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh tidak hanya menampilkan pembacaan puisi, tetapi juga doa lintas iman, musik reflektif, dan ekspresi seni lainnya.
Melalui kegiatan ini, para seniman dan budayawan menyampaikan pesan bahwa seni memiliki tanggung jawab sosial, terutama ketika negara dan sistem ekonomi gagal melindungi rakyatnya.
Aceh dan Siklus Bencana yang Terus Berulang
Secara investigatif, bencana Aceh bukanlah peristiwa tunggal. Data menunjukkan bahwa alih fungsi lahan, pertambangan, dan pembalakan liar terus terjadi tanpa pengawasan ketat.
Narasi puisi Halimah berfungsi sebagai alarm publik, mengingatkan bahwa bencana bukan semata takdir, melainkan hasil keputusan manusia.
Profil Halimah Munawir:
Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Ia mulai menulis sejak SMA dan hingga kini aktif di berbagai komunitas sastra dan budaya nasional.
Karya-karyanya melintasi genre novel, puisi, dan esai. Beberapa novel pentingnya antara lain The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Kidung Volendam, PADMI, hingga Bayi Merapi.
Dalam puisi, Halimah dikenal konsisten mengangkat isu kemanusiaan, spiritualitas, dan keadilan sosial.
Sastra sebagai Alarm Sosial
Melalui penampilannya di TIM, Halimah kembali menegaskan bahwa sastra bukan dekorasi budaya, melainkan alat kritik sosial.
Puisi menjadi medium edukatif yang mampu menjangkau kesadaran publik lebih dalam dibandingkan laporan teknokratis semata.
Dengan demikian, “Diam Sangat Menyakitkan” bukan hanya karya sastra, tetapi dokumen perlawanan moral terhadap kejahatan ekologis.
Ketika Diam Tak Lagi Netral
Pada akhirnya, Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh menjadi pengingat keras bahwa diam bukan sikap netral. Dalam konteks bencana dan ketidakadilan, diam berarti berpihak pada kehancuran.
Melalui puisi yang dibacakannya, Halimah Munawir mengajak publik untuk bersuara, bertindak, dan berpihak pada kehidupan—sebelum luka alam dan kemanusiaan menjadi permanen.
Sastra telah berbicara. Pertanyaannya, apakah kita masih memilih diam?

POTRET Gallery
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






