Minggu, Mei 3, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Maret 14, 2026
in Amerika, Analisis, Iran, Israel, Konflik
Reading Time: 5 mins read
0
Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang? - IMG_0084 | Amerika | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Dayan Abdurrahman

Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin terlintas di benak kita ketika melihat konflik Timur Tengah hari ini: mengapa kawasan yang relatif kecil itu bisa mengguncang seluruh dunia?

Setiap kali ketegangan meningkat antara Israel dan Iran, atau setiap kali Amerika Serikat mengirim kapal induk ke Teluk, harga minyak dunia bergerak, pasar saham global bergetar, dan diplomasi internasional berubah arah. Bagi sebagian orang, ini hanya konflik regional. Namun bagi para analis geopolitik, Timur Tengah adalah laboratorium kekuasaan dunia.

Baca Juga
  • 01
    Amerika
    Sudah 20 Tewas, 1.000 Demonstran Ditangkap di Iran, Trump Tebar Ancaman
    06 Jan 2026
  • Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang? - dcdffc9f 053f 46f0 aa9b d3fb47a3a418 | Amerika | Potret Online
    # Kebijakan Trump
    Imbas Perang, 58.873 Jamaah Umrah Masih Diwarnai Cancel, Delay, dan Air Mata
    04 Mar 2026

Mari kita lihat dengan jujur. Dunia modern masih bergerak oleh dua kekuatan besar: energi dan teknologi militer. Timur Tengah memiliki keduanya—atau setidaknya menjadi pusat salah satunya. Sekitar 48 persen cadangan minyak dunia berada di kawasan ini, dan hampir sepertiga perdagangan minyak global melewati Strait of Hormuz. Artinya, siapa pun yang mengganggu jalur itu secara otomatis mengganggu ekonomi global.

Namun geopolitik tidak pernah hanya soal minyak. Ia juga soal sejarah panjang kekuasaan.

Baca Juga
  • Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang? - 2025 07 17 14 22 23 | Amerika | Potret Online
    Agama Islam
    Menggali Makna UFFIN Dalam Al-Quran
    17 Jul 2025
  • Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang? - 2025 06 15 16 34 44 | Amerika | Potret Online
    Iran
    Menghitung Korban Perang Iran vs Israel, Siapa Peduli?
    15 Jun 2025

Jika kita menoleh ke awal abad ke-20, kawasan Timur Tengah sebenarnya dibentuk oleh keputusan negara-negara besar Eropa. Salah satu contohnya adalah Sykes–Picot Agreement, sebuah kesepakatan rahasia antara Inggris dan Prancis pada tahun 1916 untuk membagi wilayah bekas Kekaisaran Ottoman. Tokoh seperti Winston Churchill dan elite politik Eropa lainnya pada masa itu tidak sekadar menggambar peta; mereka sebenarnya sedang membentuk masa depan kawasan tersebut.

Dari situlah konflik-konflik modern Timur Tengah mulai berakar.

Baca Juga
  • 01
    Analisis
    Nasionalisme dan Ekologi
    04 Nov 2025
  • Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang? - IMG_7566 | Amerika | Potret Online
    #Gaza
    Board of Peace: Legitimasi Penjajahan yang Mengkhianati Sejarah dan Konstitusi Indonesia
    31 Jan 2026

Lalu datang peristiwa besar berikutnya: kelahiran negara Israel setelah World War II. Tokoh-tokoh seperti David Ben‑Gurion di Israel dan para pemimpin Arab seperti Gamal Abdel Nasser di Mesir membawa kawasan itu masuk ke era konfrontasi baru. Konflik yang awalnya bersifat regional kemudian menjadi bagian dari persaingan global, terutama selama Cold War antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Pertanyaannya sekarang: apakah dunia masih sama seperti dulu?

Banyak pengamat mengatakan tidak.

Setelah Perang Dingin berakhir pada awal 1990-an, dunia sempat memasuki fase yang disebut para ilmuwan politik sebagai unipolar moment—masa ketika Amerika Serikat menjadi kekuatan dominan tanpa rival besar. Pada saat itu, beberapa pemikir bahkan berani mengatakan bahwa sejarah telah mencapai titik akhirnya. Salah satu yang terkenal adalah Francis Fukuyama dengan tesis “The End of History”.

Namun realitas ternyata jauh lebih rumit.

Hari ini kita menyaksikan dunia yang bergerak menuju multipolaritas—sebuah sistem internasional dengan beberapa pusat kekuatan sekaligus. China bangkit sebagai kekuatan ekonomi global, Rusia kembali memainkan peran militer yang signifikan, dan negara-negara regional seperti Turki, Iran, serta Arab Saudi semakin percaya diri dalam menentukan arah politik mereka sendiri.

Di tengah perubahan itu, Timur Tengah kembali menjadi panggung utama.

Israel, misalnya, telah berkembang menjadi salah satu negara dengan teknologi militer paling maju di dunia. Sistem pertahanan seperti Iron Dome menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengubah keseimbangan kekuatan di medan perang. Sementara itu Iran, meskipun menghadapi berbagai sanksi internasional, tetap mampu membangun jaringan pengaruh regional melalui aliansi politik dan militer.

Di titik ini, mungkin Anda bertanya: apa hubungannya semua ini dengan negara berkembang seperti Indonesia?

Hubungannya sebenarnya sangat langsung.

Dalam geopolitik global, negara berkembang sering kali berada di posisi yang sulit. Mereka tidak memiliki kekuatan militer seperti negara besar, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas dari tekanan ekonomi dan politik internasional. Karena itu, membaca dinamika Timur Tengah sebenarnya seperti membaca cermin masa depan bagi banyak negara di dunia Selatan.

Ada beberapae pelajaran penting yang bisa kita tarik.

Pertama adalah pentingnya kemandirian strategis.

Negara yang terlalu bergantung pada satu kekuatan global biasanya memiliki ruang gerak yang sempit. Sebaliknya, negara yang mampu memainkan diplomasi multi-arah cenderung memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Turki, misalnya, sering kali mampu bernegosiasi dengan Barat sekaligus menjaga hubungan dengan Rusia dan negara-negara Timur Tengah.

Pelajaran kedua adalah investasi pada teknologi dan pengetahuan.

Kita sering berpikir bahwa kekuatan negara hanya ditentukan oleh jumlah tentara atau besarnya ekonomi. Padahal sejarah menunjukkan bahwa teknologi sering kali menjadi faktor penentu. Israel dapat mempertahankan posisinya di kawasan bukan hanya karena aliansi politik, tetapi juga karena investasi besar dalam riset dan inovasi.

Pelajaran ketiga adalah memahami permainan geopolitik secara realistis.

Di sinilah pemikiran para teoritikus hubungan internasional menjadi relevan. Aliran realisme, yang banyak dipengaruhi oleh pemikir seperti Hans Morgenthau dan John J. Mearsheimer, menekankan bahwa politik dunia pada dasarnya adalah kompetisi kekuatan. Negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional mereka, bukan semata-mata idealisme.

Sebaliknya, aliran liberalisme melihat kemungkinan kerja sama internasional melalui institusi global dan perdagangan. Sementara konstruktivisme menekankan pentingnya identitas, budaya, dan ideologi dalam membentuk perilaku negara.

Ketiga pendekatan ini sering kali terlihat abstrak di ruang kelas universitas. Tetapi ketika kita melihat konflik Timur Tengah, teori-teori tersebut menjadi sangat nyata.

Sekarang mari kita kembali ke pertanyaan awal: apa yang sebenarnya sedang berubah dalam tatanan dunia?

Jawaban singkatnya adalah ini: dunia tidak lagi sepenuhnya didominasi oleh satu kekuatan. Tetapi itu tidak berarti kekuatan lama akan hilang begitu saja. Amerika Serikat tetap memiliki jaringan aliansi militer terbesar di dunia. Ekonominya masih menjadi salah satu yang paling inovatif. Namun pada saat yang sama, negara-negara lain mulai memiliki kemampuan untuk menantang atau setidaknya menyeimbangkan pengaruh tersebut.

Inilah yang membuat dunia modern terasa lebih kompleks dibandingkan masa lalu.

Bagi negara berkembang, kompleksitas ini sebenarnya membuka peluang baru. Dalam sistem multipolar, negara tidak harus memilih satu blok secara mutlak. Mereka bisa membangun hubungan dengan berbagai kekuatan sekaligus, selama mampu menjaga keseimbangan kepentingan.

Indonesia sendiri memiliki potensi besar untuk memainkan peran seperti itu. Dengan populasi lebih dari 270 juta orang dan posisi strategis di jalur perdagangan global, Indonesia sebenarnya memiliki modal geopolitik yang tidak kecil.

Namun modal saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kesadaran geopolitik.

Negara yang berhasil dalam sistem internasional biasanya memiliki elite politik dan intelektual yang memahami dinamika global secara mendalam. Mereka tidak hanya bereaksi terhadap peristiwa, tetapi juga mampu membaca arah perubahan sejarah.

Dalam konteks itu, konflik Timur Tengah seharusnya tidak hanya kita lihat sebagai drama politik yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia sebenarnya adalah kelas terbuka tentang bagaimana dunia bekerja.

Dari sana kita belajar bahwa kekuasaan global selalu bergerak, aliansi selalu berubah, dan negara yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah siapa yang akan menang dalam konflik tertentu di Timur Tengah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah negara-negara berkembang mampu membaca pelajaran dari konflik tersebut?

Jika jawabannya ya, maka perubahan tatanan dunia bukanlah ancaman. Ia justru bisa menjadi peluang.

Tetapi jika kita gagal memahami dinamika itu, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam permainan geopolitik yang menentukan masa depan dunia.

Share234SendTweet146Share
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Next Post
Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang? - 63b4d1d1 d0e6 4ea7 9676 925e97dc1219 | Amerika | Potret Online

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com