Dengarkan Artikel
Mahkota Putih di Serambi
Bendera putih berkibar, namun darah
di tanah Acheh masih hangat,
bulan terbalik menjadi mangkuk menadah air mata nelayan,
ombak bersyahadat
kepada pantai yang retak,
angin membawa kabar: “solidariti murah di laman sosial.”
Pedang zaman arkais menari
di atas meja birokrasi,
surat bantuan hilang, tetapi syarahan penuh metafora berganda,
kanak-kanak menunggu nasi, diberi poster simpati global,
perahu patah, dijanjikan kapal kata-kata.
Paradoksnya: kesunyian bersuara paling nyaring,
surrealnya: langit menjahit luka tanpa benang,
satiranya: kamera lebih kenyang dari perut manusia,
di Acheh, putih itu bendera – juga kain kafan harapan.
Alkhair Aljohore @1
Malaysia
22.12.25
———^^———
📚 Artikel Terkait
2.
Serambi Yang Menjerit Tanpa Suara
Bendera putih terangkat seperti doa terjuntai,
burung gagak menulis sajak
di dinding masjid tua,
rakyat sujud pada tanah, pemimpin sujud pada lensa,
laut menjadi cermin, memantulkan dusta global.
Solidariti terjual di pasar maya,
sepuluh ‘like’ satu sedekah,
empati bersiul seperti seruling patah,
kemanusiaan berarak bagai arwah
belum dikebumi,
Acheh memanggil Sumatera,
tapi dunia pasang telinga lilin.
Paradoks berkaki dua: kasih berkata,
tapi tangan kaku,
surreal berkepak hitam: hujan turun dari pasir, bukan awan,
arkais berbisik: “dulu kita saudara,
kini statistik semata,”
dan satira menyimpul: bendera putih;tanda kalah,
atau tanda kita lupa?
Alkhair Aljohore @2
22.12.25
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






