Dengarkan Artikel
Oleh Sarah Salsabil
Mahasiswi Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh
Ada masa ketika kita bangga menyebut Indonesia sebagai negeri yang subur, kaya, dan hijau. Namun perlahan, kenyataan mengguncang kita. Setiap musim hujan, kabar banjir datang dari berbagai daerah. Tanah longsor merenggut pemukiman di lereng-lereng bukit. Sungai mengalirkan gunungan sampah menuju laut, dan hutan-hutan yang dulu menjadi nafas bumi kini menyusut menjadi statistik deforestasi.
Di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang sering menghantui banyak anak muda, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada negeri kita? Dan apa yang bisa kita lakukan, meski kecil?”
Tim kecil dari Universitas Syiah Kuala yang beranggotakan Sarah Salsabil, Cut Dhinie Decita, dan Naja Luthfia Nuha merasakan kegelisahan itu. Mereka melihat tumpukan sampah plastik yang tidak terurai, limbah agroindustri yang menumpuk di belakang pabrik, dan pasar tradisional yang bergantung pada kemasan sekali pakai.
Semua itu terasa seperti potongan puzzle yang menunjukkan betapa kehidupan modern telah menjauh dari harmoni dengan lingkungan. Mereka duduk bersama, tidak sebagai peneliti atau mahasiswa berprestasi, tetapi sebagai manusia yang sedang refleksi, ”Jika generasi kami hanya menjadi penonton, siapa yang akan memperbaiki kerusakan ini?”
Dari pergulatan batin itu lahirlah sebuah gagasan untuk mengubah limbah yang diabaikan menjadi solusi. Sesuatu yang sederhana, namun berarti, yaitu smart packaging dari limbah agroindustri. Kemasan cerdas yang bukan hanya menggantikan plastik, tetapi juga memberikan fungsi tambahan, mendeteksi kesegaran, memberi tanda ketika makanan mulai rusak, dan terurai kembali kepada alam tanpa meninggalkan jejak berbahaya.
📚 Artikel Terkait
Solusi kecil, tapi lahir dari hati yang ingin memperbaiki.
Mereka sadar bahwa di balik kemasan yang terlihat sepele, ada isu besar di baliknya, seperti plastik yang berakhir di sungai, hewan yang tertelan sampah, petani yang tak pernah dilibatkan dalam ekonomi sirkular, dan UMKM yang kesulitan menyediakan kemasan aman dan murah.
Smart packaging ini ingin menjawab itu semua, sekaligus mendukung gerakan global 5P (People, Planet, Prosperity, Peace, Partnership), lima pilar yang menggambarkan bagaimana pembangunan seharusnya berjalan: untuk manusia, selaras dengan bumi, membawa kesejahteraan, menjaga kedamaian sosial, dan dibangun melalui kolaborasi.
Ketika tim ini membawa gagasannya ke UI SDGs Summit 2025, mereka tahu inovasi mereka bukan sekadar teknologi. Namun, ini adalah bentuk introspeksi diri, sebuah pengakuan bahwa manusia yang telah terlalu banyak mengambil dari bumi, dan kini saatnya memberi kembali.
Para juri, para ahli yang bertahun-tahun bekerja di sektor keberlanjutan, mendengarkan cerita itu dengan serius. Ada Aditya Perdana Putra, S.T., yang berkecimpung dalam energi rendah karbon dan kebijakan lingkungan. Ada pula Dr. Eng. Astryd Viandila D., yang mendedikasikan penelitiannya pada waste-to-energy dan pengelolaan limbah. Mereka bukan sekadar menilai teknisnya, tetapi memahami konteks krisis yang melatarbelakangi lahirnya ide ini.
Kemudian, di ruangan itu, tim USK mengingat kembali alasan mereka memulai, yaitu keinginan untuk tidak tinggal diam. Keinginan untuk mengubah rasa gelisah menjadi tindakan.
Di tengah bencana ekologis, deforestasi, dan tumpukan plastik yang seolah tidak ada habisnya, mereka memilih mengambil langkah kecil. Langkah yang mungkin tampak sederhana, tetapi bisa menjadi titik balik jika dilakukan bersama oleh banyak orang.
Inilah cerita tentang inovasi, tetapi lebih dari itu, cerita tentang manusia. Tentang bagaimana kita belajar mendengarkan rintihan bumi, lalu menjawabnya dengan keberanian, kreativitas, dan harapan.
Dan mungkin… dari gagasan-gagasan kecil seperti inilah masa depan Indonesia yang lebih bersih mulai dibangun.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






