Dengarkan Artikel
Oleh: Siti Hajar
Aku masih memikirkan banjir yang melanda Sumatera dua hari terakhir ini. Setiap kali melihat video air yang meluap, rumah-rumah yang hanyut, dan wajah-wajah yang kebingungan, dada ini terasa sesak. Kita sudah terlalu sering mendengar kalimat, “Ini musibah. Bencana alam.” Tapi jauh di dalam hati, kita tahu: alam tidak sedang murka. Alam sedang menagih sesuatu yang sudah lama kita ambil darinya.
Hutan ditebang bukan lagi dengan hati-hati, tapi dengan rakus, dengan ketergesaan yang memuakkan. Pohon-pohon yang tumbuh puluhan tahun rubuh dalam hitungan menit. Tidak ada jeda untuk berpikir. Tidak ada rasa sayang. Yang ada hanya angka-angka rupiah yang menari di benak para pelaku illegal logging—cukong, makelar kayu, dan kroni-kroni kecil yang menopang bisnis besar yang tak pernah mati.
Anehnya, mereka hidup aman. Rumah mereka berdiri megah di kawasan yang tidak pernah kebanjiran, tidak pernah longsor. Sementara pekerja-pekerja kasar yang mereka rekrut—dengan bayaran seratus ribu rupiah per hari—pulang ke de sayang semakin gundul dan rapuh.
Ketika tanah itu melempem dan jatuh, ketika sungai kehilangan arah karena tak ada lagi akar untuk menahannya, rumah-rumah mereka hilang ditelan lumpur. Lalu siapa yang menanggung akibatnya? Tentu bukan para cukong yang duduk di kursi kulit.
Yang lebih menyakitkan, bencana ini tidak hanya menimpa para pekerja hutan. Gelombang dampaknya merembet ke kota, ke desa lain, ke masyarakat luas yang tidak pernah ikut menebang satu batang pun pohon. Orang-orang yang hidup jujur—petani, guru, pedagang kecil—ikut tersapu karena ulah segelintir tangan yang tamak.
Nah, pertanyaan paling pedih muncul di kepala, di mana pemerintah selama semua ini berlangsung? Kita selalu diberi laporan tentang “razia kayu”, “penindakan mafia hutan”, dan “komitmen menjaga lingkungan”. Namun anehnya, hutan tetap semakin tipis, debit banjir semakin tinggi, dan longsor semakin sering. Seolah ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar dibereskan.
Seolah ada yang menikmati aliran komisi dari eksploitasi yang terus-menerus ini. Tidak mungkin bisnis sebesar itu berjalan mulus tanpa restu dari mereka yang seharusnya menjaga hutan, menjaga sungai, menjaga kita.
Bukan rahasia lagi bahwa pembabatan hutan berskala besar butuh lebih dari sekadar gergaji dan truk. Ia butuh surat izin, butuh pembiaran, butuh tanda tangan tertentu. Dan ketika tandatangan itu bisa dibeli, maka yang hilang bukan cuma pepohonan—tetapi nurani.
📚 Artikel Terkait
Hari ini, tagihan itu datang lagi. Air yang naik bukan sekadar genangan; ia membawa pesan yang lebih keras: ada yang salah dalam tata kelola, ada yang salah dalam pengawasan, ada yang salah dalam keberanian kita mempertanyakan kekuasaan.
Sementara itu, masyarakat kembali menanggung beban paling berat. Bencana bukan hanya hilangnya rumah. Bencana adalah hilangnya rasa aman. Hilangnya keyakinan bahwa negara menjaga seluruh warganya. Hilangnya kepercayaan bahwa kebijakan dibuat untuk kebaikan bersama, bukan untuk memperkaya segelintir orang.
Lalu, di tengah semua pertanyaan dan kemarahan ini, kita tetap harus berbicara tentang solusi. Bukan solusi manis di atas kertas, bukan sesi konferensi pers dengan janji-janji yang tak pernah ditepati. Tetapi solusi yang menyentuh akar masalah.
Solusi dan Peringatan yang Harus Didengar
Kepada para pelaku—entah itu cukong, pemilik modal, atau siapa pun yang mengambil keuntungan dari hutan yang ditebang membabi buta—pikirkanlah satu hal dengan jujur: kami juga manusia. Kami punya keluarga, anak-anak, rumah, masa depan. Ketika kalian mengambil hutan, kalian sesungguhnya sedangmengambil nafas kami. Ketika banjir datang, itu bukan sekadar air; itu adalah akibat dari keputusan kalian, dari ketamakan yang mengabaikan kehidupan orang lain.
Pikirkanlah nasib kami yang hidup di bawah tebing-tebing rapuh, di dekat sungai yang kini tak punya penjaga. Pikirkanlah bagaimana kami harus menata hidup dari awal setiap kali bumi marah—karena kalian yang tidak pernah belajar berhenti.
Nah, kepada pemerintah—baik pusat maupun daerah—ini bukan lagi waktunya sesumbar tentang rencana besar, visi hijau, atau program penghijauan yang tak pernah sampai ke akar persoalan. Kami lelah mendengar janji. Kami butuh tindakan nyata.
Jika memang ingin membenahi, maka benahilah dari hulunya.Tangkap dan hukum para pelaku penebangan hutan berskala besar. Bukan buruh yang dibayar seratus ribu per hari. Bukan orang-orang kecil yang hanya bekerja untuk menyambung hidup. Tangkap mereka yang selalu berhasil menghilang saat diminta pertanggungjawaban. Mereka yang punya kekuasaan membeli izin, memanipulasi dokumen, dan berlindung di balik jabatan atau uang.
Jangan biarkan hukum menjadi panggung sandiwara. Jangan membuat rakyat percaya bahwa keadilan hanya bekerja untuk yang miskin.
Kami ingin melihat negara hadir bukan hanya saat banjir sudah terjadi, tetapi jauh sebelum itu—di dalam hutan yang sedang ditebang, di meja-meja izin yang bisa dibeli, di jalur-jalur truk kayu yang dibiarkan lewat tanpa pengawasan.
Jika ini tidak dibenahi, maka bencana hanya akan menjadi tamu yang datang lebih sering, lebih ganas, dan lebih menyakitkan dari hari ke hari.
Pada akhirnya, kita harus mengakui satu hal: alam tidak bisa kita tipu. Ia tidak peduli jabatan, komisi, atau kekuasaan. Ia mencatat semuanya tanpa salah. Dan ketika waktunya tiba, ia mengembalikan segalanya kepada kita. Kadang dengan lembut, kadang dengan cara yang sangat menyakitkan.[]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





