Dengarkan Artikel
Nyakman Lamjame
Meurak terbang jauh menembus langit,
melintasi awan gelap dan cahaya sejarah,
membawa harum bungong jeumpa
dari tanah suci yang bercahaya abadi.
Dari Samudra Pasai, istana bersinar,
Sultan Malikussaleh menata negeri dengan hikmah,
bumi dan laut dalam kepemimpinan,
Sultanah Nahrasiyah menulis kalam nurani,
Sultanah Safiatuddin menyalakan lentera hikmah
menembus zaman dan samudra,
sementara Iskandar Muda mengibarkan panji kebenaran,
bendera Aceh berkibar, memantul di ufuk jauh,
menggetarkan dunia dengan ilmu, doa, dan keberanian.
Benteng Inong Balee berdiri kokoh,
Laksamana Malahayati menaklukkan ombak dengan suaranya,
gelombang tunduk, laut bersujud,
sedangkan Cut Nyak Dhien menatap langit
dengan doa dan dada bergemuruh,
Teuku Umar berpacu dengan takdir,
gugur mulia, hidup dalam zikir,
Cut Meutia menggenggam pedang cahaya
menembus malam, menantang kegelapan,
Pocut Meurah Intan menantang badai,
Pocut Baren berdiri di tepi luka,
Malem Dagang dan Malem Diwa bersinar di padang doa,
Japakeh menabur zikir di tepi laut,
menghubungkan Aceh ke Mekkah, Madinah, dan Palestina.
Teuku Nyak Makam menata barisan panglima,
Teuku Nyak Arief menyalakan obor strategi,
para wali menabur nur iman,
para panglima menegakkan syiar di medan laga,
ulama menulis kitab di samping tombak,
menjadi mercusuar ilmu, doa, dan marwah.
Peureulak mengirim kabar melalui angin,
Bandar Aceh riuh dengan pasar dan doa,
Meureudu menyalakan obor perlawanan,
Peusangan menegakkan barisan panglima,
Gayo menabur ilmu di kaki gunung,
Meureuhom Daya berdiri di perbatasan sejarah,
📚 Artikel Terkait
Singkil mengirim berita keberanian ke seluruh samudra,
Meulaboh berdiri tegap, menyalakan lentera pertahanan,
Teluk Samawi memantul cahaya para pahlawan,
kapal-kapal berlayar, doa dan zikir membelah gelombang,
menjadi saksi bagi marwah dan keberanian,
sementara Hamzah Fansuri menulis samudra jiwa,
Syiah Kuala menimba hikmah Tuhan,
Hikayat Prang Sabi bergema di lembah dan gunung,
mengajarkan keberanian, iman, dan marwah yang abadi.
Tgk. Chik di Tiro menyeru jihad,
Tgk. Chik Pante Geulima menyalakan nur iman,
Tgk. Chik Pante Kulu menegakkan syiar,
Tgk. Chik Awee Geutah menabur ilmu,
Tgk. Chik Tanoh Abee menjaga naskah suci,
dan dari tiap doa, zikir, dan alunan hikmah,
Aceh memancarkan cahaya hingga ke langit dunia.
Dari Aceh kapal berlayar ke Istanbul,
mengirim surat cinta dan sumpah iman kepada Sultan Ottoman,
dua dunia bersatu dalam satu kalimat suci,
bulan sabit dan jeumpa bersanding di marwah,
sementara Negeri Melayu menatap hormat dari seberang laut,
Ratu Inggris menulis surat kagum dari istananya,
dan dari Mekkah dan Madinah,
ulama Aceh bersujud di bawah Ka’bah,
air mata menjadi laut yang kembali ke tanah,
di Palestina, nama Aceh disebut dalam tiap munajat,
karena darah yang tumpah di Al-Quds suci
adalah gema darah syuhada negeri ini.
Dan ketika musuh berbisik getir:
“Aceh Pungo – Moorden!”
dunia berguncang, bumi bergetar, langit bergetar,
mereka tak tahu arti keberanian,
bahwa gila yang mereka sebut itu iman,
bahwa darah yang tumpah itu marwah,
dan kematian itu kemenangan.
Dari Pasai ke Darussalam,
dari Benteng Inong Balee ke gunung perlawanan,
dari Tanoh Abee hingga ke Baytul Maqdis,
dari Peureulak hingga Gayo,
dari Bandar Aceh hingga Meureuhom Daya,
dari Singkil hingga Meulaboh,
dari Teluk Samawi hingga samudra terbuka,
nama Aceh bergetar di dada langit,
sementara Meurak terbang menjelajah,
menyebar harum bungong jeumpa ke segala arah,
agar dunia tahu, sepanjang masa,
Aceh takkan hilang hanya berubah rupa.
Jeumpa abadi di sayap Meurak,
terbang membawa cinta dan marwah,
menembus zaman, melintasi sejarah,
menyala abadi di hati semesta,
dan dari tanah ini,
setiap doa, syair, dan darah para sultan,
sultanah, wali, panglima, ulama, dan pejuang
menjadi cahaya yang takkan padam
sepanjang masa.
Markas Lampisang, 12 November 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






