Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Di tengah derasnya arus informasi dan kecepatan media sosial hari ini, kisah Safitri — seorang istri dua anak yang ditinggalkan suaminya setelah sang suami lulus seleksi P3K — menjadi potret nyata tentang luka sosial yang masih hidup di antara kita. Di satu sisi, ini adalah cerita tentang cinta dan pengorbanan yang tidak dihargai. Di sisi lain, ini adalah cermin besar tentang bagaimana empati manusia kini menemukan ruang baru: bukan lagi hanya di jalanan, tapi di dunia maya yang tanpa batas.
Safitri bukan sekadar nama; ia adalah simbol dari banyak perempuan yang menanggung pahit manis perjuangan bersama suami dalam kesederhanaan, namun justru ditinggalkan saat kehidupan mulai membaik. Peristiwa ini menggugah gelombang simpati luar biasa dari masyarakat. Ribuan komentar, unggahan, dan dukungan datang dari berbagai penjuru negeri. Netizen, yang sering dianggap “sekadar penonton”, kali ini justru menjadi penggerak moral, penyambung rasa keadilan yang tak sempat dijangkau oleh lembaga formal.
Empati Kolektif di Dunia Digital
Kisah Safitri menunjukkan bahwa empati manusia belum mati. Ia hanya berpindah medium. Dulu, kepedulian disuarakan melalui surat kabar atau mimbar-mimbar. Kini, ia hidup dalam kolom komentar, unggahan, dan donasi digital. Dunia maya yang sering dicap kejam karena perundungan, ternyata juga bisa menjadi tempat paling manusiawi. Di sana, orang-orang yang tidak saling kenal bersatu dalam satu perasaan: iba dan kemarahan terhadap ketidakadilan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa netizen kini berfungsi layaknya pengadilan sosial. Mereka menimbang, menilai, dan memberi hukuman moral terhadap tindakan yang dianggap melukai nilai kemanusiaan. Mungkin memang tidak semua reaksi netizen rasional; sebagian emosional, sebagian impulsif. Namun di balik itu ada satu hal yang tidak bisa diabaikan — adanya kesadaran moral kolektif bahwa meninggalkan orang yang berjuang bersamamu saat susah adalah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri.
Keadilan Sosial yang Lebih Cepat dari Hukum
Ketika berita perceraian itu mencuat, publik bereaksi lebih cepat daripada negara. Media sosial menjadi ruang solidaritas spontan, tempat orang-orang berbagi simpati dan bantuan finansial. Safitri yang awalnya dirugikan justru mendapat sokongan moral dan material dari masyarakat luas. Dalam waktu singkat, ia tidak lagi sendirian. Dunia digital memeluknya dengan hangat.
Di sinilah kita melihat paradoks zaman modern: keadilan moral sering kali lebih cepat muncul di dunia maya ketimbang di pengadilan negara. Dalam sistem hukum formal, sebuah kasus bisa berlarut-larut oleh prosedur dan birokrasi. Namun di dunia maya, keadilan sosial dapat hadir seketika — dalam bentuk empati, pembelaan, dan dukungan. Mungkin tidak bersifat yuridis, tapi secara batiniah, inilah bentuk rehabilitasi sosial yang memberi makna lebih besar bagi korban.
Ketika Moralitas Diuji oleh Kesuksesan
Kisah suami Safitri yang menceraikan setelah lulus menjadi P3K menggambarkan sisi gelap dari fenomena sosial yang sering terjadi: manusia yang berubah saat berada di puncak keberhasilan. Ia mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu melahirkan kebahagiaan; kadang justru membuka tabir karakter sejati seseorang.
📚 Artikel Terkait
Mereka yang dulu bersumpah sehidup semati, tiba-tiba merasa lebih tinggi karena status sosial berubah. Di sinilah moralitas diuji — bukan saat kita jatuh, tetapi saat kita berhasil.
Dalam konteks antropologi dan sosiologi, tindakan seperti ini memperlihatkan retaknya nilai kekeluargaan tradisional di tengah modernitas. Ketika mobilitas sosial meningkat, sebagian orang lupa akar perjuangannya. Padahal dalam kultur Nusantara, keberhasilan selalu dimaknai sebagai hasil kebersamaan, bukan kemenangan individu. Maka saat seorang suami meninggalkan istri yang membantunya bangkit, ia bukan hanya melukai satu hati, tetapi juga menodai nilai budaya gotong royong dan kesetiaan yang menjadi fondasi masyarakat kita.
Media Sosial Sebagai Cermin Moral Kolektif
Kita sering mendengar keluhan bahwa media sosial hanya menonjolkan sensasi. Namun kenyataannya, justru di ruang digital inilah banyak kebenaran menemukan jalannya. Transparansi informasi membuat masyarakat kini tidak lagi buta terhadap perilaku tidak bermoral — apalagi bila pelakunya seorang pegawai negeri, sosok yang seharusnya berintegritas dan menjadi teladan publik.
Ketika kasus seperti ini menjadi viral, masyarakat bukan sekadar ingin tahu, tetapi menuntut tanggung jawab moral dari seseorang yang berstatus “abdi negara”. Sebab jabatan bukan hanya tentang gaji dan status, tetapi juga tentang nilai dan kehormatan.
Dunia digital telah merenovasi wajah keadilan. Ia mungkin belum sempurna, namun telah membuka ruang partisipasi moral yang lebih luas. Kini siapa pun bisa bersuara, membela yang tertindas, dan menekan pihak berkuasa agar bertindak adil. Dengan satu unggahan, seseorang bisa menggerakkan ribuan hati. Dengan satu video, seseorang bisa menyalakan empati yang mungkin sebelumnya tertidur.
Manusia, Empati, dan Transformasi Sosial
Safitri kini menjadi simbol dari dua hal sekaligus: korban dan kekuatan. Ia memang ditinggalkan, namun tidak dikalahkan. Dukungan masyarakat membuktikan bahwa di balik setiap penderitaan, selalu ada energi sosial yang siap menguatkan.
Kita hidup di masa di mana teknologi tak hanya menyebarkan informasi, tapi juga memperluas ruang hati nurani. Empati kini menular lebih cepat dari kebencian. Dunia yang dulu terasa individualistis kini justru menjadi wadah solidaritas baru — di mana penderitaan satu orang bisa menjadi panggilan nurani bagi jutaan orang lainnya.
Namun, kita juga harus berhati-hati. Keadilan sosial di dunia maya tidak boleh berhenti di level simpati. Ia harus berubah menjadi kesadaran kolektif untuk memperbaiki sistem yang lebih besar — sistem yang adil terhadap perempuan, terhadap keluarga, dan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sebab tanpa itu, kisah seperti Safitri akan terus berulang, hanya dengan nama dan wajah yang berbeda.
Penutup: Luka yang Mengajarkan Cinta
Kisah Safitri bukan sekadar drama rumah tangga, tetapi pelajaran moral bagi bangsa. Ia menunjukkan bahwa keberhasilan tanpa empati adalah kehampaan. Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan seorang perempuan sering kali lahir dari luka yang dalam, bukan dari kenyamanan.
Dan di atas segalanya, kisah ini memperlihatkan bahwa di tengah dunia yang semakin dingin oleh persaingan, masih ada kehangatan yang lahir dari solidaritas manusia.
Hari ini, keadilan mungkin belum sepenuhnya hadir dari ruang sidang atau putusan hukum. Namun ia hidup di hati jutaan orang yang menolak melihat ketidakadilan tanpa bereaksi.
Selama empati masih menyala di antara kita, selama manusia masih mampu menangis untuk penderitaan orang lain — maka sesungguhnya dunia ini belum kehilangan nuraninya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






