• Latest

Menikmati Kekacauan Sains

November 3, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menikmati Kekacauan Sains

Redaksiby Redaksi
November 3, 2025
Reading Time: 4 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh ReO Fiksiwan

“Dunia ini tidak terbuat dari benda, melainkan dari peristiwa.” — Carlo Rovelli(69), Tujuh Pelajaran Singkat Fisika(Gramedia 2018).

“Dalam teori chaos, hukum deterministik dapat menyebabkan perilaku yang tidak terduga. Perbedaan kecil pada kondisi awal dapat menghasilkan akibat yang sangat berbeda.” — Ian G. Barbour(1923-2013), When Science Meets Religion: Enemies, Strangers, or Partners?(2000; Mizan 2002).

Di tengah dunia yang semakin dikendalikan oleh algoritme dan logika kalkulatif, kita hidup dalam ilusi keteraturan.

Pengetahuan ilmiah, sains dengan segala presisinya, seolah menjanjikan kepastian dan kontrol atas semesta. Namun, kehidupan tak selalu tunduk pada rumus dan model.

Ia bergerak dalam denyut yang tak terduga, dalam pusaran yang tak sepenuhnya bisa dipetakan.

Di sinilah letak paradoks sains mutakhir: ia lahir dari hasrat untuk memahami dan menata, tetapi justru membuka pintu pada ketidakteraturan yang lebih dalam.

Carlo Rovelli, Profesor Emeritus di Centre de Physique Théorique, Marseille, Prancis, dan juga menjabat sebagai Distinguished Visiting Research Chair di Perimeter Institute, Kanada, dalam Seven Brief Lessons on Physics(2014), menulis tentang arsitektur jagat raya dengan nada yang nyaris puitis.

Ia menunjukkan bahwa semesta bukanlah mesin jam yang berputar dengan presisi Newtonian, melainkan jaringan relasi yang cair, probabilistik, dan tak sepenuhnya dapat diprediksi.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Dalam fisika kuantum dan relativitas umum, keteraturan bukanlah hukum mutlak, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara ruang, waktu, dan materi.

Dalam pandangan ini, kekacauan bukanlah kegagalan sistem, melainkan bagian dari struktur terdalam realitas.

Jim Al-Khalili(63), profesor fisika di University of Surrey, penulis buku populer sains, dan pembawa acara BBC seperti The Life Scientific, dalam The Joy of Science(2022; KPG 2023) mengajak kita untuk merayakan sains bukan karena ia memberi jawaban pasti, tetapi karena ia membuka ruang untuk keraguan, revisi, dan penemuan ulang.

Ia menekankan bahwa sains bukanlah dogma, melainkan proses yang terus bergerak, yang justru menemukan kekuatannya dalam kemampuan untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

Dalam dunia yang kompleks dan berubah cepat, sains yang kaku justru berbahaya. Yang dibutuhkan adalah sains yang lentur, yang mampu menari bersama ketidakpastian.

Margaret J. Wheatley(81), pembicara, penulis, konsultan dan telah bekerja dengan berbagai organisasi di seluruh dunia sejak tahun 1973, dalam Leadership and the New Science: Discovering Order in a Chaotic World(1992, Abdi Tandur,1997); Edisi ketiga 2006), menyoroti bagaimana model kepemimpinan yang terlalu mengandalkan kontrol dan prediksi sering kali gagal memahami dinamika sistem yang hidup.

Ia mengusulkan pendekatan baru yang terinspirasi dari fisika kuantum dan teori chaos—bahwa organisasi, seperti alam, berkembang melalui ketidakteraturan, melalui interaksi yang tak linear, dan melalui keterbukaan terhadap perubahan.

Dalam konteks ini, kekacauan bukanlah musuh, melainkan sumber kreativitas dan transformasi. Wheatley juga menyebut sebagai fase entropi.

Istilah lainnya, chaosmos, yang dipopulerkan oleh Guattari dan Deleuze, dengan menangkap ketegangan ini dengan tajam: bahwa di balik kekacauan terdapat kosmos, dan dalam kosmos tersembunyi benih kekacauan.

Sains kontemporer, terutama dalam bidang bioteknologi molekuler dan nuklir, memperlihatkan wajah ganda ini. Di satu sisi, ia menjanjikan penyembuhan, efisiensi, dan kemajuan.

Di sisi lain, ia membawa risiko kepunahan ekologis, manipulasi genetika yang tak terkendali, dan kerusakan habitat yang tak terbalikkan. Contoh mutakhir ledakan reaktor nuklir, pandemi Covid-19 dan teori superstring hingga AI.

Dalam upaya memahami dan mengendalikan kehidupan, sains justru mengguncang fondasi kehidupan itu sendiri. Namun barangkali, justru di sinilah kita diajak untuk menikmati kekacauan sains.

Bukan dalam arti merayakan kehancuran, tetapi dalam menerima bahwa pengetahuan bukanlah jalan lurus menuju kebenaran, melainkan labirin yang penuh belokan, jebakan, dan kejutan.

Bahwa dalam setiap eksperimen, ada kemungkinan kegagalan. Dalam setiap teori, ada celah untuk ditinjau ulang. Dan dalam setiap kemajuan, ada harga yang harus ditimbang secara etis dan ekologis.

ADVERTISEMENT

Menikmati kekacauan sains berarti berdamai dengan kenyataan bahwa dunia tidak selalu bisa dijelaskan sepenuhnya. Bahwa hidup, seperti semesta, adalah tarian antara keteraturan dan ketidakteraturan.

Dan bahwa tugas kita bukan untuk menghapus kekacauan, melainkan untuk menari bersamanya—dengan kesadaran, tanggung jawab, dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

coversongs: “Conquest of Paradise” karya Vangelis dirilis pada 19 Oktober 1992 sebagai bagian dari soundtrack film 1492: Conquest of Paradise.

Secara musikal, lagu ini menggambarkan semangat penjelajahan, harapan, dan pencarian dunia baru melalui komposisi yang megah dan atmosferik.

Lagu ini menjadi sangat populer di Eropa, terutama di Jerman, karena digunakan oleh petinju Henry Maske(61) sebagai lagu masuk ring tinju.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com