POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Setelah Ratusan Tewas, Pakistan–Afghanistan Teken Gencatan Senjata

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
October 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Alhamdulillah, perang Pakistan-Afghanistan, berakhir. Negara sama-sama Islam ini sepakat mengakhiri perang selama seminggu itu. Ratusan nyawa melayang. Mari simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Kalau perang itu ujian kesabaran, maka Pakistan dan Afghanistan baru saja lulus dengan nilai “nyaris gila.” Dua negara yang cuma dipisahkan oleh garis Durand, sebuah garis buatan kolonial yang lebih sering jadi alasan rebutan ingar-bingar dari penanda batas, mendadak memutuskan untuk saling tembak karena ego nasional terasa lebih berharga dari gandum. Seperti biasa, setiap pihak yakin dirinya paling benar, paling suci, dan paling sedikit berbohong. Bahkan, mengaku paling masuk surga.

Pertempuran itu cuma berlangsung sekitar seminggu. Tapi di kawasan ini, seminggu bisa terasa seperti seabad. Artileri yang saling bergurau lewat ledakan, siaran pers yang berlomba-lomba mau jadi puitik, dan statistik korban yang mengambang seperti daun di sungai propaganda. Taliban bilang mereka mengantar 58 tentara Pakistan ke “tempat yang hangat,” sementara Islamabad bilang angkanya hanya 23 tewas dan mereka sendiri mengklaim telah menghapus ratusan pejuang musuh dari daftar hadir dunia. PBB menulis angka kompromis, puluhan tewas, ratusan luka, sebagai upaya menjadi orang tua bijak dalam pertengkaran dua bocah besar yang tak mau tidur siang.

Di tengah semua klaim itu, warga sipil di kota-kota perbatasan jadi saksi bisu. Pedagang teh yang cuma ingin hidup tenang, anak-anak yang mengejar sekolah, kambing yang tak paham politik, semua kena imbas karena artileri bukanlah ahli membedakan siapa yang bersalah. Rumah rata, doa mengalir, dan politisi pulang ke studio televisi dengan pose heroik sambil menandatangani pernyataan moral tentang “kedaulatan” dari kenyamanan kursi ber-AC.

Lalu muncul kata ajaib, gencatan senjata. Ditandatangani dengan jabat tangan yang setengah tulus di Doha, disaksikan oleh negara-negara yang suka jadi mediator sekaligus penonton, Qatar, Turki, semua bertepuk tangan. Tapi jangan buru-buru pasang pita perdamaian. Ini bukan akhir. Ini jeda komersial di tengah sinetron geopolitik. Akar masalah, garis perbatasan yang tak pernah disepakati, tuduhan dukung-mendukung militan, dan curiga yang menebal, tetap nongkrong di sana.

📚 Artikel Terkait

Ijazah Asli Ilmu Palsu

PT Imam Tour & Travel Promosikan Paket Wisata Aceh di Gebyar Nusantara Kuala Lumpur

Sambut Idulfitri 1442 H, DLHK3 Banda Aceh Kerahkan 150 Petugas Bersihkan Kota

Fenomena Politik Simbolik:Pergeseran Politik Ke Arah Panggung Performatif Dan Post-Truth

Seperti setiap drama perang yang baik dan terstruktur, ada aktor yang selalu tersenyum di belakang layar, produsen senjata. Di balik gencatan senjata itu, di lorong-lorong diplomasi yang remang, bermunculan proposal-proposal dingin bercetak rapi, brosur bergambar tank, drone, dan paket pelatihan. Setelah pesta peluru usai, segera datang tawaran, “Kami bisa kirim lebih murah, jamin perbaikan, dan bonus suku cadang.” Negara-negara yang baru saja menghabiskan cadangan anggaran untuk memanaskan mesin perang kini didatangi sales yang tahu betul, jeda bukan akhir, melainkan peluang pasar. Perdamaian sementara seringkali diikuti negosiasi kontrak, yang satu menjual keamanan, yang lain membeli ketenangan dengan kredit.

Ironisnya, manusia dapat menciptakan drone yang mengejar target ribuan kilometer, namun belum mampu menemukan akal sehat agar tidak menarik pelatuk. Dentuman bom jadi argumen instan, dan setiap ledakan terdengar seperti tawa sinis sejarah yang sudah bosan melihat manusia mengulang bab yang sama, bab kebodohan dengan latar suara iklan senjata.

Saat malam merayap, dua tentara mungkin duduk di balik reruntuhan, membagi rokok, bertanya, “Untuk apa semua ini?” Esoknya, kalau order datang, dari atas atau dari sales kantor, mereka akan menembak lagi. Karena dalam perang, kebodohan bukan cacat, ia adalah industri yang jalan terus, berputar oleh ego, amarah, dan nota penjualan.

Foto Ai, hanya ilustrasi

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Percakapan Dengan Perempuan Tanpa Nama

Percakapan Dengan Perempuan Tanpa Nama

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00