Dengarkan Artikel
Oleh Putri Nanda Roswati
Terkadang memang yang diharapkan terpikir akan semudah mengusap mata, yang diinginkan akan berjarak seperti anak tangga, yang diimpikan akan semulus jalan kaca. Bacalah sejarah tentang diri ini, agar kita sadar mungkin jalan yang kita susun layaknya daun kelapa pasti akan jatuh karena ditiup angin kencang.
Ini tentang aku yang lahir di keluarga sederhana. Ayahku meninggal di tahun 2015, saat aku berumur 6 tahun. ibuku seorang guru di sebuah sekolah dasar. Aku anak terakhir dari 5 bersaudara dan aku adalah adik dari saudara kembar. Aku mulai bersekolah di tahun 2014. Dari kecil aku pernah mengikuti olimpiade IPA dan lomba menggambar. Saat kelas 3 SD aku ingin, saat aku sudah lulus nanti aku melanjutkan pendidikanku di pesantren atau dayah, namun saat aku menginjak kelas 6 SD, ibuku tidak mengizinkanku karena tiga alasan.
Pertama, saudara kembarku ingin melanjutkan ke SMP. Alasannya kami tidak boleh dipisah, karena faktor ekonomi, dan riwayat penyakit asmaku. Dari situ, perasaan marah dan sedih campur aduk, hampir aku merasa benci pada ibu, walau akhirnya aku bisa damai dengan hal itu.
Namun di balik semua itu, ibu berjanji membawaku ke pesantren saat aku lulus SMP nanti. Di SMP seperti anak anak lainnya aku nakal selayaknya anak seumuranku saat itu, namun aku tetap memiliki jiwa yang ingin terus tampil di depan semua orang. Aku ingin dilihat dengan prestasi. Aku sempat mengikuti latihan ekstrakulikuler pencak silat selama dua tahun dan mengikuti lomba sekali, tetapi mungkin karena belum rezekiku untuk menang. Aku memiliki hobi merangkai kata kata, hingga aku pernah mengikuti lomba cipta dan baca puisi antarkelas saat SMP dan memperoleh juara 3.
Dari SD dan sampai sekarang, aku mengaji di satu dayah yang membuka pengajian untuk anak luar saat siang dan malam. Aku tetap dengan jiwa yang ingin tampil di depan semua orang. Aku tetap dengan prinsipku bahwa “Setiap ada panggung, aku harus naik dan tampil’.
Tingkat SMP, aku mengikuti perlombaan pidato, i’tiqad 70, dan cerdas cermat. Alhamdulillah aku bisa dapat memperoleh juara di setiap cabang perlombaannya. Aku juga sempat mengikuti drama di dayah, walaupun itu bukan lomba, namun memang karena aku suka dan mempunyai bakat dalam bidang itu
Dengan semua yang aku dapat, perasaan ingin menduduki bangku pesantren tidak pernah pudar dalam pikiran dan hati. Lulus dari SMP, aku menangis menagih janji itu pada ibu, namun dengan alasan yang sama kembali ibu ucapka. Aku muak, aku marah, aku sedih, aku benci dan hampir pasrah mengikuti kemauan ibu yang tidak mendukung keinginanku di kala itu.
📚 Artikel Terkait
Saat semester pertama kelas satu SMA, aku tidak peduli nilai, tidak peduli dengan perasaan ibu yang sedih atau apapun itu dengan perubahanku, namun ada seorang guru pengajian yang mengatakan “ikutilah saja apa kata ibumu agar kamu selamat dan berkah di jalan yang kamu tuntun”.
Dari situlah aku mulai berdamai dengan perasaan kecewa yang tidak akan pernah hilang. Aku meminta maaf kepada ibu.
Aku mulai kembali dengan prinsipku, aku mulai mengikuti ekstrakulikuler, aku mulai semakin menyukai pelajaran bahasa Indonesia dengan semua materinya. Aku memasuki p5 dalam bidang bangun jiwa raga untuk bisa kembali mengasah kemampuanku. Dengan mengikuti kegiatan drama, baca puisi, cipta puisi, dan cipta pidato, aku juga tampil fashion show di sekolah mewakili kelasku.
Kelas satu SMA, aku sudah menciptakan hanya sekitar 3-4 puisi dan 1 pidato. Masih kelas satu SMA, aku mengikuti olimpiade OSN mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Merasa senang dengan semua yang sudah aku peroleh.
Kelas dua SMA, aku mengikuti lomba O2SN cipta puisi tingkat kebupaten di Cabdin, Cabang Dinas Pendidikan.
Kelas dua SMA, aku telah menciptakan sekitar 5-6 puisi, dan pernah beberapa kali tampil drama dan jurnalis, juga pernah tampil fashion show seperti kelas satu mewakili kelasku di panggung sekolah dengan tema pameran p5 dan maulid nabi. Juga mengikuti olimpiade OSN mata pelajaran TIK sekali lagi. Masih kelas dua SMA, aku juga mengikuti pelatihan jurnalistik di SMA negeri 1 Bireuen.
Tidak lupa dengan keinginan utama aku dapat memperoleh juara di pengajian cabang lomba syarhil qur’an, pidato bahasa Arab, dan dapat mengikuti lomba syarhil qur’an mewakili dayah tingkat MTQ.
Kelas tiga SMA, aku sudah mulai fokus dengan pelajaran untuk persiapan nilai kelulusan. Kelas tiga ini aku sudah mengikuti pelatihan jurnalistik hingga alhamdulillah karyaku sudah naik ke tingkat nasional. Aku juga sudah mengikuti olimpiade FLS3Ncabang jurnalitik di tingkat cabdin. Di kelas tiga ini, aku akan membuktikan kepada semua orang terkadang yang tidak kita harapkan mungkin tidak seburuk itu.
Aku seorang gadis yang berhasil di jalan yang tak pernah kurencanakan. Seberat apapun yang mungkin dibayangkan saja rasanya tak sanggup untuk terus berdiri, namun ingat waktu tidak bisa diputar, tapi waktu memberi kita kesempatan untuk
berubah dan terus berusaha. Semangat untuk kita semua yang mungkin keinginannya tak pernah didengar.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






