• Latest

Gadis yang Berhasil di Jalan yang Tidak Direncanakan

Oktober 7, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Gadis yang Berhasil di Jalan yang Tidak Direncanakan

Redaksiby Redaksi
Oktober 7, 2025
Reading Time: 4 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

  Oleh Putri Nanda Roswati

Terkadang memang yang diharapkan terpikir akan semudah mengusap mata, yang diinginkan akan berjarak seperti anak tangga, yang diimpikan akan semulus jalan kaca. Bacalah sejarah tentang diri ini, agar kita sadar mungkin jalan yang kita susun layaknya daun kelapa pasti akan jatuh karena ditiup angin kencang.

Ini tentang aku yang lahir di keluarga sederhana. Ayahku meninggal di tahun 2015, saat aku berumur 6 tahun. ibuku seorang guru di sebuah sekolah dasar. Aku anak terakhir dari 5 bersaudara dan aku adalah adik dari saudara kembar. Aku mulai bersekolah di tahun 2014. Dari kecil aku pernah mengikuti olimpiade IPA dan lomba menggambar. Saat kelas 3  SD aku  ingin, saat aku sudah lulus nanti aku melanjutkan pendidikanku di pesantren atau dayah, namun saat aku menginjak kelas 6  SD,  ibuku tidak mengizinkanku karena tiga alasan. 

Pertama,  saudara kembarku ingin melanjutkan ke SMP. Alasannya kami tidak boleh dipisah, karena faktor  ekonomi, dan riwayat penyakit asmaku. Dari situ, perasaan marah dan sedih campur aduk, hampir aku merasa benci pada ibu, walau akhirnya aku bisa damai dengan hal itu.

Namun di balik semua itu, ibu berjanji membawaku ke pesantren saat aku lulus SMP nanti. Di  SMP seperti anak anak lainnya aku nakal selayaknya anak seumuranku saat itu, namun aku tetap memiliki jiwa yang ingin terus tampil di depan semua orang. Aku ingin dilihat dengan prestasi. Aku sempat mengikuti latihan ekstrakulikuler pencak silat selama dua tahun dan mengikuti lomba sekali, tetapi mungkin karena belum rezekiku untuk menang. Aku memiliki hobi merangkai kata kata, hingga aku pernah mengikuti lomba cipta dan baca puisi antarkelas saat  SMP dan memperoleh juara 3.

Dari SD dan sampai sekarang, aku mengaji di satu dayah yang membuka pengajian untuk anak luar saat siang dan malam. Aku tetap dengan jiwa yang ingin tampil di depan semua orang. Aku tetap dengan prinsipku bahwa “Setiap ada panggung, aku harus naik dan tampil’. 

Tingkat SMP,  aku mengikuti perlombaan pidato, i’tiqad 70, dan cerdas cermat. Alhamdulillah aku bisa dapat memperoleh juara di setiap cabang perlombaannya. Aku juga sempat mengikuti drama di dayah, walaupun itu bukan lomba, namun memang karena aku suka dan mempunyai bakat dalam bidang itu

Dengan semua yang aku dapat, perasaan ingin menduduki bangku pesantren tidak pernah pudar dalam pikiran dan hati. Lulus dari SMP, aku menangis menagih janji itu pada ibu, namun dengan alasan yang sama kembali ibu ucapka. Aku muak, aku marah, aku sedih, aku benci dan hampir pasrah mengikuti kemauan ibu yang tidak mendukung keinginanku di kala itu. 

Saat semester pertama kelas satu SMA,  aku tidak peduli nilai, tidak peduli dengan perasaan ibu yang sedih atau apapun itu dengan perubahanku, namun ada seorang guru pengajian yang mengatakan “ikutilah saja apa kata ibumu agar kamu selamat dan berkah di jalan yang kamu tuntun”. 

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Dari situlah aku mulai berdamai dengan perasaan kecewa yang tidak akan pernah hilang.  Aku meminta maaf kepada ibu.

Aku mulai kembali dengan prinsipku, aku mulai mengikuti ekstrakulikuler, aku mulai semakin menyukai pelajaran bahasa Indonesia dengan semua materinya. Aku memasuki p5 dalam bidang bangun jiwa raga untuk bisa kembali mengasah kemampuanku. Dengan mengikuti kegiatan drama, baca puisi, cipta puisi, dan cipta pidato, aku juga tampil fashion show di sekolah mewakili kelasku. 

Kelas satu SMA, aku sudah menciptakan hanya sekitar 3-4 puisi dan 1 pidato. Masih kelas satu SMA, aku mengikuti olimpiade OSN mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komunikasi). Merasa senang dengan semua yang sudah aku peroleh.

Kelas dua SMA, aku mengikuti lomba O2SN cipta puisi tingkat kebupaten di Cabdin, Cabang Dinas Pendidikan. 

Kelas dua SMA, aku telah menciptakan sekitar 5-6 puisi, dan pernah beberapa kali tampil drama dan jurnalis, juga pernah tampil fashion show seperti kelas satu mewakili kelasku di panggung sekolah dengan tema pameran p5 dan maulid nabi. Juga mengikuti olimpiade OSN mata pelajaran TIK sekali lagi. Masih kelas dua SMA, aku juga mengikuti pelatihan jurnalistik di SMA negeri 1 Bireuen. 

Tidak lupa dengan keinginan utama aku dapat memperoleh juara di pengajian cabang lomba syarhil qur’an, pidato bahasa Arab, dan dapat mengikuti lomba syarhil qur’an mewakili dayah tingkat MTQ.

Kelas tiga SMA, aku sudah mulai fokus dengan pelajaran untuk persiapan nilai kelulusan. Kelas tiga ini aku sudah mengikuti pelatihan jurnalistik hingga alhamdulillah karyaku sudah naik ke tingkat nasional.  Aku juga sudah mengikuti olimpiade FLS3Ncabang jurnalitik di tingkat cabdin. Di kelas tiga ini, aku akan membuktikan kepada semua orang terkadang yang tidak kita harapkan mungkin tidak seburuk itu.

ADVERTISEMENT

Aku seorang gadis yang berhasil di jalan yang tak pernah kurencanakan. Seberat apapun yang mungkin dibayangkan saja rasanya tak sanggup untuk terus berdiri, namun ingat waktu tidak bisa diputar, tapi waktu memberi kita kesempatan untuk

berubah dan terus berusaha. Semangat untuk kita semua yang mungkin keinginannya tak pernah didengar.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Hakikat Kata dan Nada: Menyelami Tembang Puitik bersama Ananda Sukarlan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com