Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Fahri
Siswa SMA Negeri 2 Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh
Di masa penjajahan Belanda, rakyat Samalanga berdiri teguh mempertahankan tanah leluhur mereka.Mereka tidak gentar meski senjata lawan jauh lebih modern dan kuat.
Para ulama dan pejuang bahu-membahu mengobarkan semangat jihad fi sabilillah.
Dari surau dan meunasah, lahir keberanian yang menyala di dada rakyat.
Pertempuran demi pertempuran tercatat dengan darah dan air mata. Namun semangat rakyat Samalanga tidak pernah padam, meski banyak yang gugur.
Akhirnya, perjuangan itu menjadi tonggak sejarah keberanian. Warisan semangat mereka kini hidup dalam hati generasi penerus.
Rakyat Samalanga tidak hanya berjuang dengan senjata, tetapi juga dengan doa.
Mereka percaya bahwa setiap tetes keringat adalah amal untuk membela agama dan bangsa.
Kaum ibu turut berperan dengan memasak dan merawat para pejuang yang terluka.
Anak-anak muda menjadi kurir, membawa kabar perjuangan di tengah bahaya.
Belanda berulang kali mencoba menaklukkan Samalanga, tetapi selalu mendapat perlawanan. Hutan, bukit, dan sungai menjadi saksi keberanian rakyat yang tak pernah menyerah.
📚 Artikel Terkait
Nama-nama pejuang Samalanga harum dikenang hingga kini, menjadi teladan sepanjang masa. Mereka membuktikan bahwa cinta tanah air lebih kuat daripada rasa takut.
Kini, semangat perjuangan itu diwariskan untuk membangun pendidikan dan perdamaian. Generasi muda Samalanga diingatkan agar menjaga sejarah dan tidak melupakan pengorbanan leluhur.
Tun Sri Lanang (nama asli Tun Muhammad) adalah bangsawan Johor yang diangkat sebagai Uleebalang (penguasa lokal) Samalanga oleh Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1613.
Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Bendahara di Johor. Setelah Johor ditaklukkan oleh Aceh, ia dibawa ke Aceh dan kemudian diperintahkan memimpin wilayah Samalanga.
Di masa pemerintahan Tun Sri Lanang (1615–1659), Samalanga menjadi pusat pengembangan Islam di kawasan timur Aceh, selain memiliki peran administratif dan budaya Melayu.
Istana Tun Sri Lanang (“Rumoh Krueng”) dan makamnya di Desa Lueng, Kecamatan Samalanga, masih ada sebagai situs sejarah
Masjid Raya Samalanga (PoTeumeureuhom) adalah salah satu masjid tertua di Aceh. Pendidikan keagamaan (pengajian) sudah berlaku sejak zaman Sultan Iskandar Muda. Masyarakat dari berbagai daerah mendatangi masjid ini pada hari Jumat dan kegiatan belajar mengajar dilaksanakan.
Dayah MUDI Mesra adalah pesantren besar di Samalanga. Dirintis sejak era pemerintahan Sultan Iskandar Muda, dengan pimpinan pertama dikenal sebagai Faqeh Abdul Ghani.
Ada juga Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah, yang asalnya Meunasah Subueng Cot Meurak, didirikan 1703 oleh seorang ulama dari Mekkah, Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi. Pesantren ini pernah dihancurkan pemerintahan Belanda dan kemudian diaktifkan kembali pada tahun 2012.
Gampong Batee Iliek dalam Kecamatan Samalanga pernah menjadi benteng penting dalam Perang Aceh. Sebelum akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 3 Februari 1901, Batee Iliek dianggap sebagai pusat spiritual dan tempat perekrutan pejuang gerilya.
Samalanga dikenal dengan banyak tokoh ulama dan pejuang, termasuk Pocut Meuligoe, seorang perempuan dari gampong Baro yang memimpin pemuda Samalanga menyerang Belanda di Batee Iliek.
Samalanga dijuluki “Kota Santri” karena banyaknya dayah/pesantren dan tradisi keagamaan yang sangat hidup di sana.
Dayah‐dayah di Samalanga tidak hanya sebagai tempat ibadah dan pengajian, tetapi juga sebagai pusat pembentukan kader ulama dan pemimpin lokal. Contohnya, Dayah MUDI Mesra telah melahirkan banyak ulama yang memiliki pengaruh di Aceh.
Pemerintah setempat juga telah mengembangkan situs-situs sejarah menjadi tempat wisata sejarah, seperti Kawasan Wisata Sejarah Melayu di sekitar makam Tun Sri Lanang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





