• Latest

Tanpa Bali, GWK (hanya) Beton

Oktober 2, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tanpa Bali, GWK (hanya) Beton

Redaksi by Redaksi
Oktober 2, 2025
in # Ironi, Artikel, Bali, Catatan Perjalanan
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Bayangkan pagi di hari raya Galungan. Jalan-jalan kecil, gang sempit, hingga kota besar di Bali nyaris penuh penjor.

Bambu melengkung setinggi lima hingga tujuh meter, dihias janur, buah, dan sesaji. Semua itu, bukan sekadar hiasan, penjor adalah doa yang ditegakkan, persembahan kepada Sang Hyang Widhi, lambang kemakmuran.

Mari hitung sederhana. Jika ada satu juta rumah tangga di Bali, berarti ada satu juta penjor, karena umat Hindu di Bali mayoritas.

Satu penjor bernilai rata-rata Rp 300 ribu. Itu berarti Rp 300 miliar sekali Galungan. Dua kali Galungan dalam setahun, berarti Rp 600 miliar.

Semua itu keluar dari kantong rakyat Bali—petani, pedagang, buruh, pegawai, seniman—bukan dari investor besar, bukan dari korporasi.

Itulah investasi nyata masyarakat Bali untuk agama dan budayanya, budaya yang mendatangkan wisatawan datang ke Bali, juga ke GWK.

Lalu lihat saat Tawur Kesanga, sehari sebelum Nyepi. Seluruh Bali bergetar oleh bunyi baleganjur, tarian ogoh-ogoh, wajah-wajah raksasa yang diarak keliling desa.

Ada 1.500 desa adat di Bali. Jika masing-masing desa adat membuat minimal dua ogoh-ogoh. Berarti 3.000 karya seni ritual lahir dalam satu malam. Satu ogoh-ogoh rata-rata bernilai Rp 10 juta, total Rp 30 miliar.

Itu pun masih hitungan kasar, karena banyak desa yang rela menghabiskan puluhan juta hanya untuk satu ogoh-ogoh.

Maka, dari penjor dan ogoh-ogoh saja, rakyat Bali menanam investasi Rp 630 miliar setiap tahun. Diulangi lagi, setiap tahun.

Itu baru dua tradisi besar. Belum dihitung odalan di pura-pura setiap tahun, ngaben yang biayanya bisa ratusan juta, melasti dengan prosesi ribuan orang ke pantai, upacara manusa yadnya, dewa yadnya, bhuta yadnya. Semua itu adalah investasi spiritual dan kultural yang tidak pernah putus yang dilakukan masyarakat Bali.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Inilah sumber amerta itu—mata air kehidupan yang mendatangkan turis ke Bali. Amerta yang menghidupi dan menjadi roh pariwisata Bali, amerta dipercikkan dari setiap yadnya yang dilakukan umat Hindu di Bali.

Wisatawan datang bukan karena GWK. Jauh sebelum GWK dibangun, wisatawan sudah berjubel ke Bali. GWK nebeng dari nama besar Bali.

Wisatawan asing maupun domestik, datang mencari Bali, mencari amerta itu. Mereka ingin menyaksikan dan merasakan disambut penjor yang berjajar seperti hutan bambu suci, mereka ingin merasakan getaran Nyepi yang hening, ingin melihat ogoh-ogoh yang megah sekaligus magis, ingin menyelami kesakralan pura di tepi laut dan di puncak gunung.

Setelah tiba di Bali, barulah mereka ke Kuta, ke Ubud, ke Badung, ke GWK atau jauh ke Amed di Karangasem.

Coba pindahkan GWK keluar Bali, ke Jakarta misalnya, ke Kalimantan, atau bahkan ke Singapura. Adakah orang-orang dari seluruh dunia itu akan datang berduyun-duyun ke sana, sebagaimana mereka datang ke Bali? Tidak. Yakin tidak.

Karena daya tarik itu bukan hanya GWK. Daya tarik itu adalah Bali—sumber amerta yang sakti itu Bali.

Namun kini, GWK tampaknya lupa diri. Sebuah tembok didirikan, menutup jalan warga satu banjar. Warga terisolasi, seolah tanah kelahirannya bukan lagi rumah, melainkan penjara.

Apa yang dilalukan GWK barangkali bukan sekadar pelanggaran perda, bukan sekadar sengketa tanah. Ini pelecehan terhadap sumber amerta itu sendiri. Ini ketidakpahaman akan filosopy dasar pariwisata Bali bahwa pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata.

ADVERTISEMENT

GWK ibarat cabang yang ingin menebang batang. Ibarat buih yang ingin membendung lautan. Ibarat percikan yang ingin menguasai api. Padahal, tanpa batang, cabang akan kering. Tanpa lautan, buih lenyap.Tanpa api, percikan padam.

Bali gumi tenget. Sakral, sakti, dijaga para leluhur dan dewata. Kesaktiannya lahir dari yadnya umat, dari doa tanpa henti, dari ngayah tanpa pamrih.

Maka, janganlah GWK bangga ketika para presiden dunia datang ke tempat itu. Mereka datang bukan untuk GWK, mereka datang untuk Bali. Tanpa Bali, GWK hanyalah batu dan beton yang kehilangan roh.

Paradoks itu mencolok: Rakyat Bali menanam investasi ratusan miliar setiap tahun melalui tradisi yang sakral, tetapi ketika sebuah korporasi menutup jalan hidup satu banjar, suara rakyat justru dipinggirkan.

Pemerintah yang biasa garang kepada PKL, garang kepada pedagang kecil, tiba-tiba lembek di hadapan pengusaha raksasa. Ada apa dengan Pemkab Badung?

Ingatlah: Bali adalah sumber amerta. Amerta yang memberi kehidupan. Jika sumber itu dicemari, ia bisa berubah menjadi racun.
Jika alirannya dibendung, ia akan meluap dan merobohkan bendungan itu sendiri.

Bali adalah sumber kehidupan. Dan sumber itu sakti. Barang siapa melawan sumber kehidupan, maka ia sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri.

Informasi dari Jayasabha semalam Gubernur Bali Wayan Koster semalam memanggil Bupati Badung serta pihak GWK. Mereka berjanji hari ini, di hari kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2025 tembok itu dibongkar.

Denpasar, 1 Oktober 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 339x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 301x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 249x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 239x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Lelaki Saf Belakang

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    873 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com