Dengarkan Artikel
Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya
Bayangkan pagi di hari raya Galungan. Jalan-jalan kecil, gang sempit, hingga kota besar di Bali nyaris penuh penjor.
Bambu melengkung setinggi lima hingga tujuh meter, dihias janur, buah, dan sesaji. Semua itu, bukan sekadar hiasan, penjor adalah doa yang ditegakkan, persembahan kepada Sang Hyang Widhi, lambang kemakmuran.
Mari hitung sederhana. Jika ada satu juta rumah tangga di Bali, berarti ada satu juta penjor, karena umat Hindu di Bali mayoritas.
Satu penjor bernilai rata-rata Rp 300 ribu. Itu berarti Rp 300 miliar sekali Galungan. Dua kali Galungan dalam setahun, berarti Rp 600 miliar.
Semua itu keluar dari kantong rakyat Bali—petani, pedagang, buruh, pegawai, seniman—bukan dari investor besar, bukan dari korporasi.
Itulah investasi nyata masyarakat Bali untuk agama dan budayanya, budaya yang mendatangkan wisatawan datang ke Bali, juga ke GWK.
Lalu lihat saat Tawur Kesanga, sehari sebelum Nyepi. Seluruh Bali bergetar oleh bunyi baleganjur, tarian ogoh-ogoh, wajah-wajah raksasa yang diarak keliling desa.
Ada 1.500 desa adat di Bali. Jika masing-masing desa adat membuat minimal dua ogoh-ogoh. Berarti 3.000 karya seni ritual lahir dalam satu malam. Satu ogoh-ogoh rata-rata bernilai Rp 10 juta, total Rp 30 miliar.
Itu pun masih hitungan kasar, karena banyak desa yang rela menghabiskan puluhan juta hanya untuk satu ogoh-ogoh.
Maka, dari penjor dan ogoh-ogoh saja, rakyat Bali menanam investasi Rp 630 miliar setiap tahun. Diulangi lagi, setiap tahun.
📚 Artikel Terkait
Itu baru dua tradisi besar. Belum dihitung odalan di pura-pura setiap tahun, ngaben yang biayanya bisa ratusan juta, melasti dengan prosesi ribuan orang ke pantai, upacara manusa yadnya, dewa yadnya, bhuta yadnya. Semua itu adalah investasi spiritual dan kultural yang tidak pernah putus yang dilakukan masyarakat Bali.
Inilah sumber amerta itu—mata air kehidupan yang mendatangkan turis ke Bali. Amerta yang menghidupi dan menjadi roh pariwisata Bali, amerta dipercikkan dari setiap yadnya yang dilakukan umat Hindu di Bali.
Wisatawan datang bukan karena GWK. Jauh sebelum GWK dibangun, wisatawan sudah berjubel ke Bali. GWK nebeng dari nama besar Bali.
Wisatawan asing maupun domestik, datang mencari Bali, mencari amerta itu. Mereka ingin menyaksikan dan merasakan disambut penjor yang berjajar seperti hutan bambu suci, mereka ingin merasakan getaran Nyepi yang hening, ingin melihat ogoh-ogoh yang megah sekaligus magis, ingin menyelami kesakralan pura di tepi laut dan di puncak gunung.
Setelah tiba di Bali, barulah mereka ke Kuta, ke Ubud, ke Badung, ke GWK atau jauh ke Amed di Karangasem.
Coba pindahkan GWK keluar Bali, ke Jakarta misalnya, ke Kalimantan, atau bahkan ke Singapura. Adakah orang-orang dari seluruh dunia itu akan datang berduyun-duyun ke sana, sebagaimana mereka datang ke Bali? Tidak. Yakin tidak.
Karena daya tarik itu bukan hanya GWK. Daya tarik itu adalah Bali—sumber amerta yang sakti itu Bali.
Namun kini, GWK tampaknya lupa diri. Sebuah tembok didirikan, menutup jalan warga satu banjar. Warga terisolasi, seolah tanah kelahirannya bukan lagi rumah, melainkan penjara.
Apa yang dilalukan GWK barangkali bukan sekadar pelanggaran perda, bukan sekadar sengketa tanah. Ini pelecehan terhadap sumber amerta itu sendiri. Ini ketidakpahaman akan filosopy dasar pariwisata Bali bahwa pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata.
GWK ibarat cabang yang ingin menebang batang. Ibarat buih yang ingin membendung lautan. Ibarat percikan yang ingin menguasai api. Padahal, tanpa batang, cabang akan kering. Tanpa lautan, buih lenyap.Tanpa api, percikan padam.
Bali gumi tenget. Sakral, sakti, dijaga para leluhur dan dewata. Kesaktiannya lahir dari yadnya umat, dari doa tanpa henti, dari ngayah tanpa pamrih.
Maka, janganlah GWK bangga ketika para presiden dunia datang ke tempat itu. Mereka datang bukan untuk GWK, mereka datang untuk Bali. Tanpa Bali, GWK hanyalah batu dan beton yang kehilangan roh.
Paradoks itu mencolok: Rakyat Bali menanam investasi ratusan miliar setiap tahun melalui tradisi yang sakral, tetapi ketika sebuah korporasi menutup jalan hidup satu banjar, suara rakyat justru dipinggirkan.
Pemerintah yang biasa garang kepada PKL, garang kepada pedagang kecil, tiba-tiba lembek di hadapan pengusaha raksasa. Ada apa dengan Pemkab Badung?
Ingatlah: Bali adalah sumber amerta. Amerta yang memberi kehidupan. Jika sumber itu dicemari, ia bisa berubah menjadi racun.
Jika alirannya dibendung, ia akan meluap dan merobohkan bendungan itu sendiri.
Bali adalah sumber kehidupan. Dan sumber itu sakti. Barang siapa melawan sumber kehidupan, maka ia sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri.
Informasi dari Jayasabha semalam Gubernur Bali Wayan Koster semalam memanggil Bupati Badung serta pihak GWK. Mereka berjanji hari ini, di hari kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2025 tembok itu dibongkar.
Denpasar, 1 Oktober 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





