Dengarkan Artikel
Oleh Fileski Walidha Tanjung
Dalam sejarah peradaban, sastra dan musik kerap dipertemukan dalam ruang-ruang yang hening, seolah keduanya memiliki rahasia komunikasi yang melampaui bahasa sehari-hari. Di Indonesia, relasi itu kembali hadir dalam momen yang nyaris kebetulan: sebuah puisi saya yang berjudul Yang Menyala dalam Senyap bersua dengan jemari kreatif Ananda Sukarlan, seorang pianis dan komponis Indonesia yang namanya diabadikan oleh Sydney Morning Herald sebagai “One of the world’s leading pianists at the forefront of championing new piano music”. Dari situ, lahirlah sebuah komposisi tembang puitik yang menghidupkan sajak saya dalam dimensi bunyi.
Pertemuan ini sesungguhnya bukan sekadar perjumpaan teks dan nada. Ia adalah pertemuan dua tradisi: sastra yang lahir dari pengalaman reflektif dan musik yang menyalurkan getar perasaan ke dalam harmoni. Hubungan saya dengan Ananda Sukarlan memang bermula sederhana, sekadar saling menyapa di jejaring sosial sejak April 2024. Namun percakapan-percakapan ringan itu, yang berkelindan dengan isu dunia sastra dan musik, justru membuka ruang kesalingpahaman: bahwa seni perlu hadir bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk menghidupkan kembali kesadaran akan kualitas, kebaruan, dan daya kritis.
Tadi malam, sebuah pesan WhatsApp tiba di gawai saya. Di sana tertera foto partitur dengan judul Yang Menyala dalam Senyap. Saya tertegun, karena itu adalah judul puisiku yang pernah saya bacakan di hadapan jemaat GKJW Madiun. Tak lama kemudian, Ananda menuliskan kabar: “Aku menemukan puisimu yang ini, aku bikin komposisi tembang puitik, semoga berkenan ya bro.” Ia bercerita panjang tentang proses kreatifnya, dari kamar hotel yang sepi hingga apartemen di Jakarta, dari rasa jenuh mendengar riuh politik sampai keinginan menghadirkan kesederhanaan dalam musik. Selain puisiku, Ananda juga sebelumnya menemukan puisi karya Nissa Rengganis berjudul Suara dari Pengungsian dan puisi Yon Bayu Wahyono berjudul Amnesia, yang keduanya pun digarapnya menjadi tembang puitik.
Kisah itu mengingatkan saya pada kata-kata Friedrich Nietzsche: “Without music, life would be a mistake.” Musik, dalam pengertian Nietzsche, bukan sekadar hiburan, melainkan hakikat yang menyalakan kehidupan. Maka, ketika puisi saya dipilih untuk dijadikan musik, saya merasa puisi itu menemukan takdirnya: bertransformasi menjadi suara yang dapat bergaung lebih jauh, bukan hanya di lembaran kertas, melainkan di ruang-ruang akustik tempat manusia mendengarkan karya musikal.
Lebih jauh, pengalaman ini memantik renungan tentang posisi seni di tengah zaman. Kita hidup di era ketika kebudayaan sering direduksi menjadi sekadar tontonan, pasar yang sibuk menjual sensasi. Sastra dan musik, yang sejatinya merupakan ruang kontemplasi, kerap terdesak oleh narasi politik yang gaduh dan banalitas layar kaca. Dalam konteks itu, perjumpaan antara puisi dan musik justru menghadirkan alternatif: kesenyapan yang menyala, ruang jeda untuk merenung, bahkan keberanian untuk melawan arus kebisingan yang menumpulkan jiwa.
📚 Artikel Terkait
Adorno, seorang filsuf dan teoritikus musik dari Mazhab Frankfurt, pernah menulis bahwa seni sejati adalah “janji kebahagiaan” sekaligus bentuk resistensi terhadap industri budaya yang mendegradasi makna. Apa yang dilakukan Ananda Sukarlan dengan tembang puitiknya—memilih puisi, lalu melarikannya ke dalam komposisi musik—sesungguhnya adalah tindakan resistensi halus. Ia bukan hanya menyusun notasi, melainkan menghadirkan suara tandingan terhadap dunia yang terlalu riuh oleh slogan-slogan kosong.
Dari percakapan kami, saya melihat bahwa kerja seni bukan sekadar produktivitas teknis, melainkan sebuah sikap hidup. Ananda sendiri mengaku lelah dengan politik dan segala retorika usang tentang “cinta Indonesia” yang kerap hampa. Ia lebih memilih menyatakan cintanya lewat kerja-kerja nyata: mencipta musik, membina generasi baru lewat Kompetisi Piano Nusantara Plus, dan mengangkat puisi-puisi Indonesia dalam repertoar musiknya. Dari sinilah kita belajar, bahwa cinta sejati pada tanah air tidak selalu diumbar dengan teriakan, melainkan dibuktikan lewat karya yang meninggalkan jejak.
Saya sendiri merasa terhormat sekaligus bersyukur. Bahwa puisi saya yang lahir dari permenungan spiritual—dari suasana Bulan Kitab Suci, dari panggung sederhana di kota kecil—ternyata bisa menjelma karya musik dan menjangkau audiens yang berbeda di tangan Ananda Sukarlan. Ada semacam kesinambungan sejarah kecil: teks puisi yang semula hanya kubaca, kini memperoleh tubuh baru dalam irama dan melodi. Sebagai penyair, saya percaya setiap puisi punya takdir, dan mungkin inilah salah satu jalan takdir itu.
Dari pengalaman personal ini, kita bisa mengajukan pertanyaan yang lebih besar: apakah seni di Indonesia akan terus terjebak dalam ruang-ruang eksklusif, atau justru menemukan jalan baru untuk mempertemukan lintas disiplin, lintas komunitas, dan lintas generasi? Saya berpendapat, seni harus terus mencari cara agar tidak tercerabut dari akar kontemplasi, sekaligus tidak kehilangan relevansi di tengah masyarakat. Menghubungkan puisi dengan musik, misalnya, adalah salah satu upaya menjembatani jurang itu.
Saya merasa bangga dan haru atas apa yang dilakukan Ananda Sukarlan. Ia telah memberikan nyawa baru pada puisi saya, menjadikannya tembang puitik yang bisa dinikmati dalam bentuk berbeda. Ini bukan sekadar kolaborasi semata, melainkan juga bukti bahwa sastra dan musik dapat saling memperkaya, saling menyalakan, bahkan di tengah senyap sekalipun.
Namun, pertanyaan reflektif tetap mengemuka: apakah kita, para penyair, musisi, dan pelaku seni, sudah cukup berani untuk menghadirkan karya yang sederhana namun menyala, di tengah dunia yang gemar dengan kebisingan dan retorika kosong? Dan lebih jauh lagi, apakah kita masih sanggup mendengar suara-suara yang lahir dari senyap, yang barangkali justru menyimpan kebenaran paling jernih tentang kehidupan. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi dan prosa di berbagai media nasional. Beberapa bukunya yang terbaru berjudul “Melukis Peristiwa”, “Cara Penghilang Duka”, “Gubuk Kecil dan Rintik Hujan”.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






