Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
Perempuan dalam cerpen-cerpen ini tidak hadir sebagai objek naratif, melainkan sebagai subjek yang mengolah makna, menggugat norma, dan menata ulang dunia.” — Rocky Gerung(66), Smokol: Cerpen Pilihan Kompas 2008(2009).
Smokol bukan sekadar kata. Ia adalah jejak lidah, memori tubuh, dan nalar lokal yang hidup dalam percakapan sehari-hari masyarakat Maluku.
Dalam cerpen berjudul Smokol(2009) karya Nukila Amal(54), sastrawati asal Maluku Utara, kata ini menjelma menjadi pintu masuk menuju dunia yang lebih dalam: dunia perempuan, dunia ingatan, dunia yang tak tunduk pada logika kekuasaan maskulin.
Cerpen tersebut dimuat dalam antologi cerpen Kompas dan diberi prolog oleh Rocky Gerung, filsuf publik yang dalam banyak kesempatan menggugat nalar dominan dengan ironi dan ketajaman.
Smokol, sebagai sarapan pagi, bukan hanya aktivitas biologis, tetapi juga tindakan sosial yang menyimpan makna kultural.
Ia adalah ruang transisi antara malam dan siang, antara domestik dan publik, antara sunyi dan riuh.
Dalam cerpen Nukila ini, smokol menjadi metafora tentang bagaimana perempuan mengolah waktu, ruang, dan tubuhnya sendiri di tengah dunia yang sering kali tak memberinya suara.
Ia bukan hanya makan pagi, tetapi juga perlawanan halus terhadap struktur yang membungkam.
Dalam dialog podcast Tumbuh Institute(https://youtu.be/JqkL75h0QB4?si=znnPe2mujyLHFTOv) antara Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda(43) —perempuan pertama yang memimpin negeri para Sultan—dan Rocky Gerung, smokol menjelma menjadi wacana politik.
Sherly tidak hanya hadir sebagai pemimpin administratif, tetapi sebagai representasi tubuh perempuan yang menembus benteng patriarki.
Ia tidak datang dengan retorika kekuasaan, tetapi dengan bahasa keseharian, dengan gestur yang akrab, dengan nalar yang membumi.
Rocky, dalam kapasitasnya sebagai filsuf publik, tidak mendominasi, tetapi membuka ruang tafsir.
📚 Artikel Terkait
Dialog mereka bukan debat, melainkan smokol intelektual: sarapan gagasan yang mengandung gizi reflektif.
Dalam kerangka ekofeminisme Julia Kristeva(84), sebagaimana diuraikan dalam Powers of Horror: An Essay on Abjection(1983; Terjemahan 2022), tubuh perempuan adalah locus dari abject—yang ditolak, yang diasingkan, yang dianggap mengganggu tatanan simbolik. Tapi justru dari tubuh itulah lahir kekuatan untuk menggugat.
Konsep abjection—pengusiran atau penolakan terhadap sesuatu yang mengganggu batas identitas dan makna, seperti tubuh, darah, atau kematian—dan menjadi landasan penting dalam kajian ekofeminisme, kritik sastra, dan teori budaya.
Kristeva menyusun kerangka bahwa horor bukan sekadar rasa takut, tetapi pengalaman eksistensial yang mengguncang batas antara diri dan dunia.
Smokol, sebagai praktik tubuh, menjadi simbol dari kekuatan yang tak bisa direduksi oleh logika maskulin.
Ia adalah horor bagi sistem yang ingin mengatur segalanya, karena ia tak bisa dikendalikan, tak bisa diklasifikasikan, tak bisa dijinakkan.
Betty Friedan(1921-2006) dalam The Feminine Mystique(1963) menolak domestikasi perempuan sebagai “malaikat rumah tangga.”
Tapi dalam smokol, kita melihat bahwa ruang domestik bukanlah penjara, melainkan laboratorium.
Perempuan tidak hanya memasak, tetapi meracik wacana. Ia tidak hanya menyajikan makanan, tetapi menyusun narasi.
Smokol menjadi tindakan epistemologis: cara perempuan memahami dan mengubah dunia dari dapur, dari meja makan, dari percakapan pagi yang tampak remeh tapi sesungguhnya revolusioner.
Di tengah dominasi patriarkal dalam politik kekuasaan, smokol adalah jeda.
Ia bukan seruan perang, tetapi bisikan yang mengganggu. Ia tidak hadir di podium, tetapi di sela-sela. Ia tidak memaksa, tetapi mengendap. Dan justru karena itu, ia bertahan.
Dalam cerpen Nukila Amal, dalam kepemimpinan Sherly Tjoanda, dan tentu dalam dialog bersama Rocky Gerung, smokol menjadi nalar feminis yang tak perlu berteriak untuk didengar. Ia cukup hadir, cukup menghidang, cukup menjadi.
Smokol adalah filsafat yang dimasak perlahan. Dan dari kepulan uapnya, kita mencium ars aromatum perubahan.
#coverlagu: „Moloku Kie Raha” versi Yochen, Galih, & Mario dirilis sekitar 12 Januari 2013 dan dipublikasikan melalui YouTube. Lagu ini merupakan adaptasi dari karya asli Amry, yang pertama kali dinyanyikan oleh M. Samadi, dan kemudian menjadi sangat populer di kalangan generasi muda Maluku Utara.
Lagu ini bermakna “Empat Gunung Maluku”, merujuk pada empat kesultanan besar di Maluku Utara: Ternate – Alam Makolano; Tidore – Kie Makolano; Bacan – Dehe Makolano; Jailolo – Jiko Makolano.
Lagu ini bukan hanya pujian terhadap keindahan alam dan sejarah, tetapi juga seruan persatuan. Seperti frase “Mari Moi Ngone Foturu” mengandung makna ajakan untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan antar masyarakat empat kesultanan, berlandaskan adat dan budaya lokal.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






