Dengarkan Artikel
Oleh: Fileski Walidha Tanjung
Kehadiran saya di Camp Literasi Magetan baru-baru ini menyisakan sebuah refleksi panjang tentang hakikat literasi. Di sana, saya menyaksikan betapa gairah pelajar terhadap membaca, menulis, dan berdiskusi masih menyala, meski dunia digital sering kali menenggelamkan mereka dalam arus instan yang serba cepat. Literasi, sebagaimana saya pahami, bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan suatu cara hadir di dunia: mengolah pikiran, merawat ingatan, serta menafsir kehidupan.
Namun, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: apakah gerakan literasi kita selama ini benar-benar mendorong generasi muda untuk berpikir kritis, atau justru menjerat mereka dalam formalitas belaka? Di banyak ruang, literasi direduksi menjadi angka statistik—berapa banyak buku yang dibaca, berapa banyak perpustakaan yang dibangun—tanpa mengulik substansi terpentingnya, yaitu membebaskan pikiran manusia.
Michel Foucault pernah menulis, “Pengetahuan itu bukan untuk mengetahui, melainkan untuk memotong.”¹ Kalimat ini menggugah kita untuk melihat literasi bukan hanya sebagai akumulasi informasi, melainkan sebagai pisau analisis yang dapat mengiris struktur kuasa dan ketidakadilan. Jika membaca hanya dimaknai sebagai menambah wawasan, maka literasi kehilangan tajinya. Tetapi jika membaca diposisikan sebagai upaya menguak kebenaran, mempertanyakan narasi dominan, bahkan membongkar mitos yang mengekang, maka literasi akan menjadi praksis pembebasan.
Sayangnya, praktik literasi kita sering berhenti di permukaan. Buku-buku hanya dibaca untuk sekadar diselesaikan, bukan untuk diperdebatkan. Menulis dilakukan demi lomba atau sekadar memenuhi tugas, bukan sebagai ruang perlawanan intelektual. Saya teringat pada pandangan Paulo Freire, seorang pedagog revolusioner dari Brasil, yang mengatakan, “Membaca bukan sekadar mengenali kata, tetapi juga membaca dunia.”² Inilah yang seharusnya menjadi arah literasi: kemampuan melihat hubungan antara teks dengan realitas sosial, politik, dan kultural yang melingkupi kita.
Dalam konteks ini, Camp Literasi di Magetan memberi secercah harapan. Para pelajar tidak hanya duduk sebagai pendengar, tetapi juga berdiskusi, menulis, bahkan mengekspresikan gagasan melalui seni. Dari obor api unggun hingga bunyi biola yang menyuarakan puisi, literasi hadir dalam wujud yang lebih cair, melintasi batas-batas disiplin. Seni dan sastra menjadi medium yang memperkaya pengalaman literer, menghidupkan kata, dan menjadikannya bagian dari denyut kehidupan.
Meski demikian, saya berani mengatakan bahwa gerakan literasi di Indonesia masih perlu keberanian untuk lebih radikal. Kita harus keluar dari paradigma konsumtif—sekadar membaca buku impor terbaru atau menyalin gaya menulis populer—dan mulai membangun tradisi literasi yang menggali realitas lokal. Dari kisah petani, pekerja, nelayan, hingga tradisi lisan yang nyaris punah, di situlah terdapat teks kehidupan yang menunggu ditulis. Jika literasi hanya mengulang wacana global tanpa tafsir kritis atas konteks kita sendiri, maka literasi hanyalah cermin kusam yang memantulkan wajah orang lain, bukan wajah kita.
📚 Artikel Terkait
Saya percaya, literasi harus menjadi gerakan yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. Dari Chairil Anwar kita belajar bagaimana kata bisa menjadi peluru; dari Pramoedya Ananta Toer kita mengerti bagaimana novel bisa lebih berbahaya daripada senjata; dan dari generasi muda hari ini kita berharap munculnya cara pandang baru yang mampu melampaui batas-batas lama. Dengan demikian, literasi bukan hanya kegiatan akademis, melainkan sebuah praksis kultural yang menggerakkan transformasi sosial.
Pertanyaannya kemudian: apakah kita siap menempatkan literasi sebagai arena kritik, sebagai ruang untuk mempertanyakan otoritas, dan bukan sekadar dekorasi intelektual? Apakah kita berani menjadikan literasi sebagai sarana melawan banalitas media sosial yang membanjiri kita dengan informasi tanpa makna?
Saya tidak ingin literasi berhenti pada jargon atau proyek seremonial. Saya ingin literasi tumbuh sebagai gerakan akar rumput yang mengubah cara kita memahami dunia. Literasi yang membuat seorang pelajar desa berani menuliskan realitasnya tanpa rasa inferior di hadapan narasi global. Literasi yang memerdekakan pikiran, bukan mengekang. Literasi yang menyalakan cahaya di tengah kabut ketidakpastian zaman.
Sebagaimana api unggun di Camp Literasi yang menyatukan suara dan nyala, saya membayangkan literasi sebagai obor yang terus diwariskan, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Obor itu tidak boleh padam, sebab di dalam nyalanya ada ingatan, ada kritik, ada harapan.
Mungkin, pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah: di dunia yang kian dikuasai oleh algoritma dan kecepatan informasi, apakah kita masih memiliki keberanian untuk membaca dengan perlahan, menulis dengan jujur, dan berpikir dengan radikal? Atau justru kita rela menjadi generasi yang pandai membaca layar, tetapi gagal membaca kehidupan?
¹ Michel Foucault, Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977 (New York: Pantheon Books, 1980).
² Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (New York: Continuum, 1970).
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






