• Latest

Kritik Bentuk Peduli, Bukan Menghakimi

September 11, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kritik Bentuk Peduli, Bukan Menghakimi

Siti Hajar by Siti Hajar
September 11, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Siti Hajar

Aku pernah menulis bahwa kritik bukanlah cemoohan, melainkan bentuk kepedulian. Kritik adalah bahan bakar yang membuat bangsa tetap bergerak, tetap mawas diri, dan tidak larut dalam kesombongan kekuasaan. Tanpa kritik, pemimpin mudah terperangkap dalam ilusi, merasa selalu benar, dan menutup telinga terhadap jeritan rakyatnya.

Akhir Agustus 2025 menjadi saksi, bagaimana kritik itu akhirnya membanjiri jalanan. Jakarta dan sejumlah provinsi lain berguncang oleh demonstrasi besar-besaran. Ribuan mahasiswa, buruh, petani, pelajar, bahkan ibu-ibu rumah tangga bersatu dalam lautan massa. Mereka datang dengan satu suara: pemerintah harus kembali berpihak pada rakyat. Tidak ada lagi ruang bagi pemimpin yang hanya sibuk menumpuk privilese dan melupakan tugas utamanya: melayani.

Pemandangan itu menyentak nurani kita semua. Jalan protokol yang biasanya dipenuhi kendaraan, hari itu dipenuhi poster, spanduk, dan teriakan. Suara mereka keras, tapi bukan sekadar amarah kosong. Itu jeritan panjang yang dipupuk bertahun-tahun oleh rasa ketidakadilan. 

Harga kebutuhan pokok yang semakin mahal, akses pendidikan yang kian terbatas, lapangan kerja yang tak kunjung jelas, dan jurang kesenjangan yang semakin lebar. Semua itu menumpuk, lalu pecah dalam gelombang protes yang tak terbendung.

Ironisnya, alih-alih mendengar, pemerintah justru memilih jalan represi. Aparat dikerahkan dalam jumlah besar. Gas air mata ditembakkan ke arah kerumunan. Penangkapan dilakukan terhadap para pengunjuk rasa. Lebih menyakitkan lagi, suara rakyat itu dicap sebagai tindakan pengkhianatan terhadap negara. Sejak kapan rakyat yang mengingatkan pemimpinnya dianggap musuh bangsa? 

Sejak kapan kritik, yang seharusnya menjadi vitamin bagi demokrasi, justru diperlakukan sebagai penyakit berbahaya?

Rakyat tentu tidak buta. Mereka tahu, di balik panggung politik, para pemimpin asyik dengan fasilitas dan tunjangan yang fantastis. Isu mengenai gaji dan berbagai tambahan bagi wakil rakyat menjadi bahan bakar yang menyulut api protes lebih besar. 

Bagaimana mungkin para pejabat bicara soal penghematan, sementara gaya hidup mereka menunjukkan sebaliknya? Ketika rakyat dipaksa menahan lapar, mengencangkan ikat pinggang, mereka justru hidup di dalam kelimpahan.

Korupsi pun belum sirna. Nyaris di setiap instansi publik, praktik kotor itu terus berulang. Penegakan hukum tampak hanya sebagai formalitas. 

Pelaku korupsi diproses seadanya, divonis ringan, dan anehnya, banyak yang tetap bisa berkeliaran dengan bebas. Sementara rakyat kecil yang melakukan pelanggaran demi bertahan hidup, justru dihukum dengan keras. Bukankah ini ironi yang menyayat hati?

Di sinilah kritik menemukan maknanya yang paling mendasar. Demonstrasi besar-besaran ini bukan sekadar amarah jalanan. Itu adalah panggilan nurani. Rakyat berteriak karena mereka masih peduli. Mereka masih menaruh harapan bahwa pemimpinnya bisa berubah. Jika rakyat sudah apatis, jika kritik tak lagi ada, itu justru lebih berbahaya. Itu tanda bangsa ini sedang mati pelan-pelan.

Sayangnya, pemimpin kita sering kali gagal memahami hal itu. Kritik dianggap sebagai serangan. Kritik dianggap sebagai upaya menjatuhkan. Padahal, bukankah lebih berbahaya jika rakyat hanya diam, membiarkan para pemimpin terus salah arah, tanpa ada yang mengingatkan? 

Demokrasi bukan hanya tentang pemilu lima tahun sekali. Demokrasi adalah keberanian rakyat untuk bersuara, setiap kali merasa diperlakukan tidak adil.

Demonstrasi yang mengguncang Jakarta dan berbagai kota di Indonesia pada akhir Agustus lalu hingga kini adalah alarm keras. Alarm yang berbunyi lantang, memberi tanda bahwa ada yang salah. Jika alarm itu diabaikan, jangan salahkan rakyat bila kelak mereka kehilangan kesabaran.

Namun, demonstrasi kali ini meninggalkan jejak berbeda yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia. Beberapa rumah anggota dewan dijarah massa, sebuah tindakan ekstrem yang mencerminkan amarah rakyat sudah melampaui batas kesabaran. Jika dulu protes masih berupa orasi, spanduk, atau blokade jalan, maka kali ini kemarahan rakyat meledak dalam bentuk yang lebih destruktif. Mengapa demikian? Karena rakyat merasa kritik yang disampaikan bertahun-tahun hanya berakhir menjadi gema di ruang kosong. 

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Tidak ada perbaikan nyata, tidak ada jawaban yang tulus daripara wakil rakyat. Aksi penjarahan itu, meski tidak dapat dibenarkan secara hukum, menjadi simbol putusnya kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif. Rakyat seolah ingin berteriak: bila rumah rakyat tak lagi berpihak pada kami, maka rumah pribadi para wakil itu pun tidak lagi layak dihormati.

Tentu saja, ini tidak bisa ditolerir dan harus menjadi pelajaran. Bagaimanapun juga, menyampaikan kritik tetap ada etikanya. Protes harus menjadi jalan untuk memperbaiki, bukan menghancurkan. Rakyat boleh marah, boleh kecewa, tapi jangan sampai kehilangan arah. Karena pada akhirnya, kekuatan kritik sejati bukan terletak pada amarah yang meledak-ledak, melainkan pada konsistensi menjaga nurani dan akal sehat agar perubahan bisa benar-benar terjadi.

Kritik adalah nafas demokrasi. Ia bukan racun, melainkan obat. Ia bukan tanda benci, melainkan tanda cinta. Cinta pada negeri ini, agar tidak tenggelam oleh keserakahan segelintir orang.

ADVERTISEMENT

Jika pemerintah memilih tuli, jika kritik tetap dianggap musuh, maka sejarah akan mencatat: mereka jatuh bukan karena rakyat berhenti peduli, melainkan karena mereka menolak mendengar.

Kritik Tanda Peduli, Jangan Menghakimi. Merdeka![]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Munculnya Kelas Baru Prekariat

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com