Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Predikat cum laude sering dianggap sebagai puncak capaian akademik. Di banyak rumah tangga, kabar anak yang lulus dengan predikat itu menjadi kebanggaan luar biasa. Foto wisuda terpampang di media sosial, karangan bunga menghiasi pintu rumah, dan doa mengalir dari keluarga, sahabat, serta tetangga. Semua ini wajar, kerana capaian akademik memang patut diapresiasi. Namun, kita perlu jujur menelaah: apakah gelar, angka, dan simbol di atas kertas itu cukup untuk menjawab tantangan kehidupan yang nyata, baik di tingkat lokal, nasional, mahupun global?
Pendidikan: Lebih dari Sekadar Simbol
Dalam pandangan Syariah Islam, ilmu bukan sekadar hiasan atau alat untuk kebanggaan, melainkan amanah yang harus diolah dan diamalkan. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa orang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Maka, predikat cum laude semestinya bukan titik akhir kebanggaan, tetapi pintu masuk untuk mengabdikan diri.
Di banyak daerah di Indonesia, termasuk di tanah Aceh yang berlandaskan Syariah, masyarakat masih mengedepankan kearifan lokal: hidup dalam kebersamaan, saling menolong, dan menjaga kehormatan kolektif. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi bekal penting bagi para lulusan yang menempuh jalannya di dunia kerja maupun dunia akademik internasional. Namun sayangnya, sistem pendidikan kita kerap terlalu menekankan pada capaian angka, bukan pembentukan karakter atau penguatan nilai.
Simbol-simbol seperti ijazah, sertifikat, dan IPK tinggi sering menjadi tolok ukur tunggal, sementara kompetensi riil, akhlak, dan kecakapan global kerap terabaikan. Padahal, di era kompetisi global, dunia kerja dan lembaga internasional tidak sekadar menilai angka di transkrip, tetapi lebih kepada kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, mengelola masalah, serta integritas pribadi.
Tantangan Abad ke-21: Dari Lokal ke Global
Kita hidup di zaman ketika kompetisi tak lagi terbatas di desa atau provinsi, tetapi telah meluas ke tingkat nasional dan internasional. Banyak lulusan Indonesia yang masih kesulitan menembus pasar kerja global atau masuk ke lembaga penelitian dan jurnal internasional bergengsi. Angka menunjukkan bahwa representasi anak bangsa di arena global masih sangat minim.
Fenomena ini bukan semata karena ketidakmampuan individu, tetapi juga kerana ekosistem pendidikan yang kurang mendukung. Kurikulum belum sepenuhnya adaptif dengan tuntutan zaman, fasilitas masih terbatas, dan bimbingan menuju kompetisi internasional jarang diberikan. Bahkan, bahasa asing yang menjadi modal dasar untuk bersaing pun masih menjadi hambatan besar bagi banyak lulusan.
Di sisi lain, pemerintah sebagai pengelola negeri telah dibekali sumber daya besar, dana yang melimpah, akses teknologi, dan tenaga profesional. Namun, realitanya, ketimpangan dan kegagalan tata kelola masih nyata. Standar layanan publik yang telah diatur dalam undang-undang tidak dijalankan dengan optimal. Akibatnya, protes dan demonstrasi terus bergulir, menggambarkan jurang yang lebar antara janji dan kenyataan.
Kesadaran akan realitas ini seharusnya menjadi bahan renungan. Pendidikan tidak boleh berjalan di ruang hampa, seolah tak peduli pada konteks sosial dan ekonomi yang melingkupinya. Generasi muda yang lahir dari sistem pendidikan ini harus memahami bahawa kompetisi global tidak menunggu kita siap, dan peluang tidak akan datang hanya kerana kita memiliki gelar dengan tinta emas.
Kearifan Lokal dan Nilai Syariah sebagai Fondasi
📚 Artikel Terkait
Meski tantangan global begitu besar, bukan berarti kita kehilangan jati diri. Justru di sinilah nilai-nilai Syariah dan kearifan lokal menjadi modal utama. Di Aceh, misalnya, adat yang berlandaskan agama mengajarkan meuseuraya (gotong-royong), peumulia jamee (memuliakan tamu), dan meukarya (bekerja keras bersama). Nilai-nilai ini mengajarkan kebersamaan, etos kerja, dan integritas yang sangat relevan untuk bersaing di dunia global.
Generasi cum laude yang lahir dari lingkungan ini perlu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual dan sosial. Mereka tidak hanya dituntut menjadi individu yang kompetitif, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membawa nilai kemaslahatan. Inilah yang disebut generasi insani—generasi yang seimbang antara akal, hati, dan tindakan.
Membangun Kesadaran Kolektif
Tulisan ini mengajak masyarakat luas—orang tua, guru, mahasiswa, dan pemangku kepentingan—untuk tidak terlalu cepat berpuas diri hanya kerana anak-anak kita berhasil meraih predikat cum laude atau sederet prestasi simbolik lainnya. Apresiasi tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan kesadaran bahwa perjalanan masih panjang.
Sebagai konsumen pendidikan tinggi, kita perlu lebih kritis: apakah investasi waktu, tenaga, dan dana yang dikeluarkan benar-benar sepadan dengan keterampilan dan nilai yang diperoleh anak-anak kita? Apakah sistem pendidikan kita sudah cukup mempersiapkan generasi untuk berkompetisi, tidak hanya di pasar kerja nasional tetapi juga internasional?
Kesadaran ini bukan untuk meruntuhkan semangat, tetapi justru untuk membangkitkan keseriusan dalam membenahi diri. Jika kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga berdaya saing global, maka pendidikan harus diarahkan tidak hanya pada pencapaian simbolik, tetapi pada penguasaan kompetensi nyata dan pembentukan karakter yang kokoh.
Pendidikan untuk Kecerdasan Seutuhnya
Pendidikan, pada hakikatnya, bukan semata-mata alat untuk mencari pekerjaan. Ia adalah proses membentuk manusia seutuhnya—manusia yang cerdas, berakhlak, dan mampu memberi manfaat. Dalam kerangka Syariah, ilmu harus melahirkan amal; pengetahuan yang tidak diamalkan tidak akan membawa keberkahan.
Generasi yang kita harapkan adalah generasi yang insani, yang mampu menyeimbangkan tuntutan zaman dengan nilai agama dan budaya. Mereka bukan hanya siap bersaing, tetapi juga mampu menjadi solusi bagi masalah-masalah yang dihadapi bangsanya.
Seruan untuk Berbenah
Menghadapi tantangan ini, kita memerlukan gerakan bersama. Orang tua harus lebih proaktif membimbing anak-anaknya, bukan hanya mendorong untuk mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga mengasah keterampilan dan kepribadian. Institusi pendidikan perlu membuka ruang kolaborasi internasional, memperkuat penguasaan bahasa asing, teknologi, dan riset yang relevan dengan perkembangan global.
Sementara itu, pemerintah harus menyadari bahawa tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa tidak bisa dijalankan setengah hati. Dana besar dan fasilitas lengkap yang telah digelontorkan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukan hanya menjadi laporan kertas atau bahan propaganda.
Penutup
Predikat cum laude dan sederet prestasi akademik tetaplah sesuatu yang patut disyukuri. Namun, kita harus melihatnya sebagai awal perjalanan, bukan akhir kebanggaan. Di era kompetisi global, generasi kita dituntut untuk tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga berakhlak, berkarakter, dan mampu menghadirkan manfaat nyata.
Sebagaimana pesan bijak ulama, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesesatan.” Maka, marilah kita jadikan capaian akademik sebagai bekal untuk melangkah lebih jauh: membangun diri, membangun masyarakat, dan membangun bangsa yang bermartabat, berdaya saing, dan berkeadaban.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






