Dengarkan Artikel
Oleh: Mustiar AR.
Langit Aceh sore itu mendung berat. Awan hitam menebal, hujan jatuh deras, dan petir sesekali membelah langit. Dari sebuah warung kopi di sudut Meulaboh, tangis langit itu terasa dekat sekali dengan percakapan rakyat kecil yang sedang duduk di dalamnya.
āLihat, Din,ā ujar Rahman sambil menunjuk ke luar jendela, ālangit menangis lagi. Tangisnya seolah mengingatkan kita, betapa Aceh belum juga bebas berdiri di atas kakinya sendiri.ā
Din menatap secangkir kopi hitam. āBenar, Man. Tangis langit Aceh bukan sekadar hujan. Ia adalah doa yang jatuh dari langit. Ia seperti berkata: lepaskan kami, biarkan kami mandiri. Tapi siapa yang mau mendengar?ā
Percakapan itu menembus keheningan warung. Beberapa pemuda yang duduk di meja sebelah ikut mencuri dengar. Salah seorang menyahut, āBang, apa mungkin Aceh bisa mandiri? Hasil bumi kita banyak, hasil laut kita besar, tapi mengapa nelayan dan petani tetap miskin?ā
Din menoleh padanya, dengan nada lembut tapi tajam. āNak, mandiri bukan soal berapa banyak yang kita miliki. Mandiri itu soal keberanian. Kalau kita masih menadah bantuan, orang tidak akan percaya bahwa kita bisa berdiri sendiri.ā
Rahman menghela napas. āLucu sekali, Din. Kita selalu diberi ceramah soal kemandirian, tapi kenyataannya kita diikat aturan kaku. Katanya kita istimewa, tapi hanya istimewa di atas kertas. Rakyat tetap harus berjalan di jalan berlubang, membayar harga mahal, dan hidup dengan listrik padam.ā
Seorang perempuan paruh baya yang berjualan kue tiba-tiba ikut bicara. āAku ibu dari tiga anak. Dua sudah merantau, satu masih tinggal. Aku bangun subuh tiap hari, membuat kue, menjual dengan untung kecil. Aku tidak mengeluh. Tapi aku tidak mau cucu-cucuku nanti menanggung nasib yang sama. Kalau mau mandiri, bangunlah Aceh dengan hati, bukan dengan janji.ā
Kata-katanya menancap. Hujan di luar semakin deras, seakan ikut menyetujui.
š Artikel Terkait
Seorang lelaki tua bersuara serak menambahkan, āAku sudah cukup tua untuk melihat Aceh melawan penjajah, lalu terpuruk di bencana. Tapi yang paling menyakitkan bukan perang atau tsunami. Yang paling menyakitkan adalah melihat anak cucuku menjadi pengemis di tanahnya sendiri. Mandiri itu soal harga diri. Kalau kita masih rela jadi pion politik, kita belum merdeka. Kalau kita masih takut berkata benar, kita masih dijajahāoleh rasa takut kita sendiri.ā
Perkataan itu membuat suasana hening. Dan saat hujan reda, cahaya senja menembus awan. Seolah langit ikut berbicara, membisikkan pesan:
āAku sudah lama menangis untuk kalian. Air mataku menetes di sawah gersang, di laut yang terjajah, di rumah-rumah yang retak. Aku menangis bukan karena lemah, tapi karena cinta. Jangan terus menengadah. Jangan hanya bersandar pada nama besar sejarah. Lepaskan diri dari belenggu kepentingan sempit. Biarkan kalian mandiri.ā
Rahman menunduk, matanya basah. āDin, aku malu. Kita sering marah pada penguasa, pada pusat, pada politik. Tapi kita lupa marah pada diri sendiri. Kita lupa bahwa mandiri dimulai dari kita.ā
Din menepuk bahunya. āBenar, Man. Mandiri tidak turun dari langit. Ia lahir dari keberanian rakyat. Kalau kita berani menanam padi, jangan biarkan tikus politik memakannya. Kalau kita berani menulis kebenaran, jangan biarkan suara kita dibungkam. Kalau kita berani menjaga Aceh dengan cinta, jangan biarkan kebencian merusaknya lagi.ā
Pemuda-pemuda itu menatap satu sama lain, mata mereka berkilat. Perempuan penjual kue mengusap air mata. Lelaki tua itu menegakkan tubuhnya walau dengan susah payah. Semua yang ada di warung kopi itu merasa bahwa tangis langit Aceh adalah tangis mereka sendiri.
Matahari muncul di ufuk barat. Jalanan basah memantulkan cahaya jingga. Din berdiri dan bersuara lantang: āKita bukan anak kecil lagi. Jangan biarkan kita terus digendong. Sudah waktunya kita berjalan sendiri, meski terhuyung. Biarlah dunia tahu: Aceh bukan sekadar tanah luka, tapi tanah yang berani bangkit.ā
Rahman menambahkan, āLepaskan kami dari janji palsu. Lepaskan kami dari aturan yang mencekik. Lepaskan kami dari politik yang memecah belah. Biarkan kami mandiri, dengan cara kami sendiri, dengan jalan yang kami pilih sendiri.ā
Dan sore itu, suara rakyat kecil bersatu dengan suara langit. Tangis langit Aceh bukan lagi ratapan. Ia berubah menjadi seruan santun dan elegan, tajam namun penuh harapan:
āLepaskan kami⦠biarkan kami mandiri.ā
05.09.2025
š„ 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






