Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman,
Jalanan yang Menjerit
Di negara demokrasi, jalanan seharusnya menjadi ruang aman bagi suara rakyat. Tetapi hari-hari ini, jalanan justru lebih sering menjadi saksi luka: bentrokan, korban jiwa, dan bangunan yang terbakar. Apakah ini karena rakyat yang “brutal”? Tidak. Ini karena negara sering tuli, dan sebagian elit justru lihai menunggangi keresahan menjadi panggung kepentingan.
Demo bukanlah dosa. Ia lahir karena suara rakyat terlalu lama diabaikan. Jalanan hanya menjadi opsi terakhir, ketika ruang dialog dikunci rapat dan kebijakan tetap berjalan seolah rakyat hanyalah penonton tak bersuara.
Esensi Demo: Hak, Bukan Anarki
Demo bukanlah anarki. Ia adalah bahasa rakyat, bahasa yang diakui konstitusi. Pasal 28E UUD 1945 jelas menyatakan hak berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Mengkriminalisasi demo sama saja mengkhianati demokrasi yang katanya diperjuangkan sejak Reformasi.
Namun, mari jujur: tak semua demo suci. Ada yang memang murni lahir dari keresahan, tapi ada pula yang sengaja dipelintir, dimanfaatkan untuk menekan lawan politik atau mengamankan kepentingan segelintir kelompok. Di sinilah masyarakat perlu melek, agar tak mudah menjadi pion di papan catur kekuasaan.
Belajar dari Sejarah
Sejarah Indonesia adalah sejarah jalanan. Dari Sumpah Pemuda, demonstrasi mahasiswa 1966, hingga gelombang Reformasi 1998—semua perubahan besar lahir dari keberanian rakyat turun ke jalan. Tapi sejarah juga mengajarkan: demo yang kehilangan arah, yang terbakar emosi dan provokasi, hanya menyisakan puing-puing dan penyesalan.
Hari ini, kita seolah mengulang pola yang sama. Aspirasi rakyat yang tulus dicemari oleh provokator, sementara pemerintah terlalu sibuk mencari kambing hitam alih-alih membuka ruang dialog. Hasilnya? Siklus kekerasan yang tak pernah usai.
Demo di Indonesia vs Negara Maju
Di London, Berlin, atau Ottawa, demo bisa berlangsung damai, rapi, dan tetap didengar. Pemerintah menyiapkan jalur komunikasi, aparat menjaga keamanan tanpa menekan. Di Indonesia? Aparat kerap bersikap represif, massa mudah tersulut, dan media lebih sibuk mengangkat sisi dramatis daripada substansi tuntutan.
Ini bukan semata soal kedewasaan rakyat, tetapi juga kegagalan negara menciptakan mekanisme yang sehat bagi aspirasi. Tanpa kanal komunikasi yang kredibel, jalanan akan selalu jadi medan tempur ketidakpuasan.
Demo yang Sehat: Bukan Utopia
Demo yang sehat bukan hal mustahil. Syaratnya jelas:
📚 Artikel Terkait
Tuntutan transparan dan terukur. Agar publik bisa menilai dan mendukung.
Koordinasi matang antara massa dan aparat. Agar aspirasi tak tenggelam dalam kerusuhan.
Media yang fokus pada substansi, bukan sensasi.
Masyarakat sipil aktif mengawal. Agar demo tak jadi panggung provokator.
Dengan mekanisme ini, demo bisa menjadi energi perubahan, bukan sekadar letupan kemarahan yang cepat padam.
Manfaat Demo yang Tak Boleh Dilupakan
Demo yang tertib dan bermartabat membawa banyak manfaat:
Menjadi kanal katarsis sosial, mengurangi potensi konflik yang lebih parah.
Mengajarkan rakyat tentang hak dan kewajiban berdemokrasi.
Mengoreksi arah kebijakan yang menyimpang.
Memperkuat identitas kolektif bahwa negara ini milik bersama, bukan milik segelintir elit.
Risiko yang Mengintai
Tetapi kita juga tak boleh naif. Di balik massa yang berteriak untuk keadilan, selalu ada pihak yang siap menunggangi. Ada yang mencari panggung politik, ada yang mengincar keuntungan ekonomi, bahkan ada yang sengaja menyulut kekacauan demi legitimasi untuk menekan rakyat.
Inilah yang membuat banyak demo berakhir ricuh, meninggalkan stigma bahwa demo identik dengan kekerasan. Padahal, masalahnya bukan pada demo itu sendiri, tetapi pada mereka yang mengotori esensi perjuangan rakyat.
Ajakan: Menata Ulang Budaya Demo
Kita perlu menata ulang budaya demo di Indonesia. Negara harus berhenti melihat rakyat sebagai ancaman. Aparat harus berhenti menganggap massa sebagai musuh. Dan rakyat harus lebih cerdas menjaga kemurnian aspirasinya.
Jangan biarkan jalanan hanya menjadi kuburan harapan. Jadikan ia mimbar demokrasi yang bermartabat, tempat suara rakyat tak hanya didengar, tetapi juga direspons dengan kebijakan nyata.
Refleksi Penutup
Demokrasi tanpa demo hanyalah demokrasi kosmetik—cantik di atas kertas, rapuh di kenyataan. Tapi demo tanpa kesadaran kolektif juga berbahaya, hanya akan melahirkan kerusuhan tanpa arah.
Kini saatnya kita, sebagai bangsa, belajar dari sejarah dan pengalaman negara lain. Bahwa demo bukan sekadar marah-marah di jalan, melainkan seni berdialog, seni mengawal kekuasaan agar tetap waras.
Karena pada akhirnya, jalanan adalah milik rakyat. Dan suara rakyat, seberapa pun kerasnya, adalah nafas bagi demokrasi itu sendiri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






