POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menjaga Arsip, Menjaga Jati Diri Bangsa

RedaksiOleh Redaksi
September 4, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr. Kandar, MAP.
Deputi Bidang Penyelamatan, Pelestarian, dan Perlindungan Arsip – Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jadinya bangsa ini tanpa arsip? Tanpa naskah Proklamasi, tanpa foto-foto perjuangan kemerdekaan, tanpa catatan diplomasi para pendiri bangsa, mungkin Indonesia hanya akan menjadi negara tanpa memori. Kita akan mudah lupa pada sejarah, kehilangan pijakan, bahkan bisa tersesat dalam perjalanan menuju masa depan.

Memori kolektif bangsa tidak hadir begitu saja. Ia dibangun dari ingatan individu, organisasi, dan lembaga. Ingatan itu kemudian disatukan menjadi identitas bersama yang memberi arah bagi bangsa. Namun, filsuf Paul Ricoeur pernah mengingatkan: memori kolektif itu rapuh, mudah hilang, bahkan bisa diperdebatkan. Karena itu, ia harus terus dirawat, dijaga, dan dilindungi.

Lima Pilar Penjaga Memori Bangsa

Merawat ingatan kolektif bangsa bukan pekerjaan sederhana. Ada lima pilar penting yang menopangnya. Pertama, pencipta arsip. Mereka bisa individu, keluarga, komunitas, organisasi, atau lembaga negara. Apa yang mereka catat, tulis, rekam, dan simpan kelak bisa menjadi bagian dari identitas bangsa. Naskah Proklamasi, misalnya, awalnya hanya teks sederhana, tapi hari ini ia menjadi dokumen paling sakral dalam sejarah Indonesia.

Kedua, lembaga kearsipan. Di sinilah peran Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), lembaga kearsipan daerah, dan juga perguruan tinggi. Mereka menjadi rumah besar bagi memori bangsa. Arsip tidak hanya disimpan, tetapi juga dilestarikan agar bisa diakses oleh publik. Tanpa lembaga kearsipan, banyak arsip penting mungkin sudah hilang ditelan waktu atau bencana.

Ketiga, arsiparis, akademisi, dan jurnalis. Mereka adalah penghubung antara arsip dan masyarakat. Arsip bisa jadi tumpukan kertas yang bisu, tapi ketika disentuh oleh para peneliti, ditulis ulang oleh akademisi, atau diangkat menjadi kisah inspiratif oleh jurnalis, ia berubah menjadi narasi hidup. Arsip tentang tsunami Aceh, misalnya, tidak hanya bercerita tentang bencana, tetapi juga tentang daya juang, solidaritas, dan kebangkitan manusia dari luka.

Keempat, pengambil kebijakan. Para pejabat negara, pemerintah pusat dan daerah, bahkan pimpinan perusahaan, seharusnya menjadikan arsip sebagai rujukan dalam mengambil keputusan. Sayangnya, tidak jarang kebijakan dibuat hanya untuk kepentingan jangka pendek, melupakan pelajaran dari masa lalu. Padahal, arsip menyimpan pengalaman berharga yang bisa mencegah kesalahan terulang kembali.

Kelima, masyarakat. Ini adalah pilar terbesar sekaligus terpenting. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan menegaskan, masyarakat punya peran dalam penyelamatan dan pelindungan arsip. Mereka bisa melindungi arsip dari ancaman bencana, melaporkan upaya pemalsuan, atau mencegah penjualan arsip bersejarah ke luar negeri.

Ancaman Terhadap Arsip

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, arsip seringkali terlupakan. Kita lebih sibuk berbicara soal gadget, aplikasi, dan media sosial, tetapi mengabaikan dokumen yang seharusnya kita simpan. Arsip keluarga saja kerap tercecer: akta kelahiran, ijazah, surat tanah, hingga dokumen penting lainnya.

Dalam skala negara, ancamannya lebih besar lagi. Perang, bencana alam, terorisme, hingga demonstrasi anarkis bisa membuat arsip hancur. Ketika gedung dibakar atau dokumen dirusak, sebenarnya kita sedang merobek lembaran identitas bangsa.

📚 Artikel Terkait

Meta Verse

Betty

Nyanyian Malam Ini

Kupinjam Dari Alam

Pepatah Jawa mengatakan: “Keno iwake nanging ora buthek banyune.” Artinya, kita boleh memperjuangkan sesuatu, tetapi jangan sampai merusak hal lain yang lebih berharga. Aspirasi masyarakat sah untuk disuarakan, tetapi jangan sampai mengorbankan arsip yang akan menjadi bekal generasi mendatang.

Arsip sebagai Identitas dan Arah Bangsa

Arsip adalah saksi bisu perjalanan bangsa. Ia adalah cermin yang merefleksikan siapa kita. Ia adalah guru yang setia, yang mengingatkan tanpa pernah bosan. Dari arsip kita belajar tentang kesalahan masa lalu, tentang keberanian, tentang kebijakan yang bijak, dan tentang harapan yang tumbuh di tengah kesulitan.

Jika arsip hilang, kita kehilangan bagian penting dari jati diri bangsa. Kita akan berjalan tanpa arah, mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan sesaat. Sebaliknya, bila arsip dijaga, ia akan menjadi kompas yang menuntun kita ke masa depan yang lebih baik.

Gotong Royong Merawat Memori

Merawat arsip adalah pekerjaan gotong royong. Tidak bisa hanya dibebankan pada ANRI atau lembaga kearsipan daerah. Setiap individu, keluarga, komunitas, akademisi, jurnalis, pengambil kebijakan, hingga masyarakat luas, harus merasa punya tanggung jawab.

Kita bisa memulainya dari hal sederhana: menyimpan dokumen keluarga dengan baik, mendigitalisasi arsip pribadi, atau melaporkan bila menemukan arsip bersejarah yang terancam hilang. Kita bisa ikut serta dalam kegiatan literasi kearsipan, mendukung program pemerintah, atau sekadar mengajarkan anak-anak kita untuk menghargai dokumen keluarga sebagai bagian dari sejarah kecil mereka.

Menjaga Jati Diri Indonesia

Merawat arsip sejatinya adalah merawat jati diri. Ia adalah bukti bahwa kita pernah ada, pernah berjuang, pernah berkorban, dan pernah bermimpi. Arsip adalah warisan untuk anak cucu, agar mereka tahu dari mana mereka berasal, dan agar mereka punya arah untuk melangkah ke depan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Salah satu bentuk penghargaan itu adalah menjaga arsip, karena dari arsiplah kita tahu perjuangan para pahlawan.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat di mata dunia. Tetapi semua itu akan hampa bila kita kehilangan memori kolektif kita. Karena itu, mari kita jaga arsip bersama-sama, dengan kesadaran bahwa yang kita jaga bukan sekadar kertas atau dokumen, melainkan identitas dan kehormatan bangsa.

Penutup

Memori kolektif adalah napas bangsa. Tanpa ingatan, kita hanyalah kumpulan manusia tanpa arah. Dengan arsip, kita punya identitas, pijakan, dan kompas menuju masa depan.

Mari kita rawat arsip, bukan hanya karena undang-undang mewajibkan, tetapi karena hati nurani kita sadar: menjaga arsip sama artinya dengan menjaga Indonesia. “No Archives No History, No History No Future.”

Dr. Kandar, MAP.
Deputi Bidang Penyelamatan, Pelestarian, dan Perlindungan Arsip
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Abi Daud Hasbi, Putera Asli Meurah Mulia ( Mürid Abu Tumin, Blang Blahdeh)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00