Dengarkan Artikel
Oleh : Isya Fakhriani
Siswi Kelas X APAT, SMK Negeri 1 Jeunib, Bureun, Aceh
Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan setelah seorang siswi keturunan Malaysia bernama Zara Qairina dilaporkan meninggal dunia diduga akibat perundungan (bullying) yang dialaminya secara terus-menerus di lingkungan sekolah. Kasus ini sontak mengundang perhatian luas, baik dari masyarakat, pemerhati pendidikan, maupun pemerintah. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa bullying bukanlah persoalan sepele, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa peserta didik.
Menurut keterangan yang beredar, Zara mengalami tekanan mental akibat perlakuan kasar dari teman sebaya. Perundungan verbal dan sosial yang diterimanya berlangsung cukup lama, hingga akhirnya berdampak pada kondisi psikologisnya. Peristiwa ini memperlihatkan betapa lemahnya sistem pengawasan sekolah dalam mencegah dan menangani kasus bullying.
📚 Artikel Terkait
Pakar pendidikan menilai, tragedi Zara Qairina harus menjadi titik balik untuk membangun budaya sekolah yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan. Guru dan kepala sekolah dituntut lebih aktif mendeteksi tanda-tanda awal perundungan, sementara orang tua perlu membuka ruang komunikasi agar anak berani bercerita.
Kasus ini juga memunculkan desakan agar regulasi anti-bullying diterapkan secara ketat. Bukan hanya sebatas aturan di atas kertas, tetapi benar-benar dijalankan dalam praktik pembelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari.
Tragedi Zara Qairina bukan sekadar kisah duka satu keluarga, melainkan alarm bahaya yang menggema bagi seluruh dunia pendidikan. Setiap pihak harus berbenah agar sekolah tidak lagi menjadi ruang yang menakutkan bagi anak-anak, melainkan tempat yang aman untuk tumbuh, belajar, dan menggapai cita-cita.
JusticetForZara
Penulis : Isya Fakhriani kelas X APAT
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






