Dengarkan Artikel
.Membaca Dua Dekade Damai Acèh
Oleh Rasyidin
Siang bersahaja menyelimuti langit cerah sedikit mendung Kota Solo,tanggal 15 Agustus merupakan sebagai hari terbaik bagi penulis saat ini, karena pada saat yang sama tanggal 15 Agustus 2025 menjadi hari spesial bagi penulis, karena mengikuti sidang tertutup promosi doktoral di ruang rapat besar gedung pascasasrjana doktoral di Intitut Seni Indonesia Surakarta, dan moment 20 tahun damai Aceh itu, penting untuk diingat kembali bagi seluruh masyarakat Aceh. Di tanggal itu ada penanda sejarah di mana pada tahun 2005 Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia melakukan perjanjian MoU perdamaian di Helsinki. Tentu ada rasa syukur kepada Allah SWT, karena 20 tahun sudah masa kelam itu telah terganti dengan pembangunan di segala sektor.
Dari paparan diskusi podcast berjudul 20 Tahun MoU RI-GAM Tanpa Sejahtera, Apa Kontribusi Kombatan dan Birokrat?.Acara ini diinisiasi oleh Sagoe TV dengan pembicara MunawarLiza Zain, Dr. Wiratmadinata, SH., MH., (Ketua FKPT Aceh), Sahlan Hanafiah (Sosiolog UIN Ar-Raniry), Azharul Husna(Koordinator KontraS Aceh), Adi Warsidi (Jurnalis Senior). Kegiatan diskusi tersebut dipandu langsung oleh Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M. Pd. selaku direktur Bandar Publishing Aceh.
Dari seluruh rangkaian acara berdurasi 2:02:44 detik tersebut pembahasan menarik dalam diskusi podcast tersebut adalah pada fenomena pemetaan bagaimana nilai-nilai hambatan banyak terjadi di dalam 20 tahun Aceh Damai dari konflik kepada point of vew padangan narasumber Dr. Wiratmadinata, SH, MH, dan Muhammad Sahlan, M.Si yang melihat perspektif politik dan sosiologi dalam tata cara mengisi ruang untuk berkelanjutan setelah perang berkepanjangan yang terjadi di Aceh.
Dalam perspektif pandangan Wiratmadinata menerangkan secara garis besar bahwa ada ruang alfa yang terjadi dalam upaya mengisi ruang perdamian tersebut. Dari dinamika yang ada, banyak hal yang tidak tersingkronisasi dengan baik antara visi, tujuan perdamaian dan misi cara mengisi perdamaian itu sendiri. Garis besarnya yang disampaikan Wiratmadinata yaitu menekankan pentingnya kejelasan dalam menjaga perdamian dari perspekti pendidikan di Acèh. Perlu kita ketahui bahwa Dinas pendidikan harus berani mengambil peran dalam upaya mengisi perdamian.
Dinas pendidikan harus berani tampil tegas dalam menyusun kurikulum berbasis muatan lokal secara independent, dimana di dalamnya membahas tentang kebudayaan Aceh dari tari Saman, Bines yang ada di Gayo yang telah menerima sertifikasi UNESCO, Tari Zapin yang ada di Aceh Tamiang, serta dari bahasa yang memiliki beragam bahasa di Aceh, mulai bahasa Aceh, Gayo, Melayu, Devayan, Singkil, Jamee, sampai tata cara kehidupan kebudayaan di tiga wilayah besar Aceh, bagian Barat dan Selatan, Pesisir dan Tengah pegunungan Aceh.
Karena wilayah itu memiliki generasi yang semestinya tahu bagaimana mereka dapat mengisi ruang-ruang kebudayaan, sehingga mereka tidak menunggu dan mempertanyakan kembali kemana arah tujuan arah untuk mengisi perdamian Aceh.
Hari ini generasi Acèh seperti kehilngan jati diri dan sebagian malu untuk mengakui dirinya terlahir sebagai orang Aceh. Hal itu dibuktikan dari penelitian yang membahas soal kepunahan bahasa Aceh, dan menurut catatan UNESCO bahasa Aceh masuk kategori nomor 3 di ambang kepunahan terparah.
Ini perlu ada solusi untuk mempertegas posisi mata pelajaran muatan lokal sebagai kendali menetukan arah jarum kompas yang bertujuan mengarahkan genarasi muda Aceh agar tidak tereliminasi dari ruang halaman rumahnya.
Sedangkan perspektif dari Sahlan, menerangkan bahwa Acèh hari ini terlalu sibuk mengurus hal-hal sederhana dan bersifat normatif. Selama 20 tahun dengan mengabiskan anggaran yang banyak, namun tidak ada esensi yang spesifik dapat dinilai arah sosial kemasyarakatan yang berangkat dari kejayaan di masa lalu. Hal itu terlihat dengan perjalanan waktu terhitung dari tiga konflik seperti pendudukan Belanda, Jepang, berkecamuknya NII atau DI/TII, konflik Cumbok dan konflik antara RI dan GAM yang baru dinikmati dalam 20 tahun terakhir ini.
📚 Artikel Terkait
Ruang intepretasi Wiratmadinata dan Sahlan telah menggambarkan secara terang benderang bagaimana posisi pembangunan Aceh yang kurang terang dan tegas.
Untuk menyimak kelemahan dan mengapa surutnya perjalanan KebudayaanAceh.
Sumber utama penggerak bergeraknya kebudayaan harus dibebankan kepada jawatan yang bertugas sebagai leading sektor Pendidikan. Sebab sumber lahir dan berkembangnya kecerdasan peradaban Aceh terletak pada kemampuan pemikiran generasi mudanya. Materi pemantiknya adalah bagaimana seorang pemimpin dengan kemampuan mampu melihat pranata kebudayaan sebagai stopwatch dalam gerakan pembangunan masa depan.
Namun bentuk ruang kesadaran selama 20 tahun ini belum terlihat bentuk gearkan reformasi pembangunan dengan baik.Oleh karena ruang di sektor personalia dari sumber daya manusia yang terlalu banyak tidak memihak pada poksi kerja kebudayaan itu sendiri, dan tidak adanya tingkat pemahami yang cakup baik dalam memhami esensi Kebudayaan Aceh secara menyeluruh.
Hal ini dapat disaksikan dari aksi nyata aktivitas mata pelajaran muatan lokal di semua unit sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA serta di MI, MTs dan MA serta di SMK. Fenomena ini lepas dari pengamatan dan dipandang sangat kecil bobotnya di penerapan mata pelajaran MULOK. Survey ini sudah penulis lakukan dengan menginput keterangan dan fakta di lapangan. Data ini diperoleh langsung peneliti dari para eksekutor lapangan.
Dari keterangan mereka, semua materi berhubungan dengan pelajaran MULOK tidak sesuai dari harapan dan sangat jauh dari isian pengenalan budaya Aceh dan isi mata pelajarannya lebih bersifat jamak, yaitu dari seluruh Aceh hanya dipeljari tari likok pulo atau laweut untuk semua Aceh. Dan belajar menggambar (ini berdasarkan kemampuan pengajar yang hany amemiliki kwalitas keilmuan tersebut), juga di bahasa hanya diajarkan menulis puisi dan baca puisi alakadarnya. Serta di pelajaran sejarah, yang diajarkan lebih kepada tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia di Nusantara. Bobotnya sekitar 40% dari waktu 1 dengan 2 jam untuk waktu belajar dalam satu minggu sekali tatap muka, begitu juga bobot isi pelajaran sejarahhanya 0,5 % untuk mengetahui sejarah Aceh. Itupun kalau pengajarnya punya pengetahuan sejarah Aceh, di mata pelajaran geografi hanya diperkenalkan tentang kekayaan kebudayaan yang ada di luar dan materi itu tidak menjelaskan secara rinci mengenai persoalan kekayaan alam dan biota flora dan fauna yang dimiliki Aceh pada umumnya.
Ini menjadi ironis di 20 tahun Aceh terlepas dari pergolakan, dan Aceh di masa-masa damai masih saja terjauh dari rumpun kejayaan emas masa lalu. Terparahnya para pendidik yang mengajar MULOK bukanlah orang yang berkompentensi dan berpengalaman dan kaya wawasan pengetahuan budaya di bidang-bidang keilmuan yang dijelaskan di atas.
Untuk pembuktian kebenaran semua fenomena tersebut sangat mudah, indicator untuk melihat keberhasilan atau tidak berhasil keberlangsungan Mata Pelajaran Muatan Lokal dapat diamati pada ruang-ruang Event yang dihadirkan oleh pemerintah daerah.
Peristiwa ini sangat mengkhatirkan sekali bagi peneliti dalam mengamati keberlangsungan 20 tahun perdamaian Acèh. Aceh masih saja di rundung kehilngan arah, para regenerasinya sudah terjebak jauh ke ruang-ruang modernisasi prakmatis, bahkan lebih ekstrimnya ke arah budaya urban (asing).
Lebih spesifiknya peminatan dalam melakoni budaya asing, peristiwa dihadirkan kebanyakan bentuk dan maknanya sangat tidak utuh, dihadirkan oleh mereka. Lalu bagaimana generasi muda Aceh dapat mencintai dan mengembalikan idèntitas keAcehannya dalam 20 tahun perdamaian Aceh?
Acèh hari ini berada di zona kegamangan. Generasi Acèh telah tergiring ke ruang prakmatisme asing yang tidak dapat dipahami dan dimengerti secara mendalam. Arah pemikiran generasi muda Acèh hari ini lebih melihat bentuk ruang moderen tanpa mempelajari lebih dalam keberadaan dari ruang mana, ruang moderen itu lahir dan terciptakan.
Biografi singkat penulis:
Nama penulis Rasyidin, Penulis adalah seniman praktisi Teater, Domisili saat ini di Solo. Penulis adalah Dosen Prodi SeniTeater, dan masih aktif sebagai mahasiswa doctoral di Pascasarjana ISI Surakarta. Dan dalam waktu dekat akanmenyelesaikan studi doctoral.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






