POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Generasi Aceh yang Hilang Muara

RedaksiOleh Redaksi
August 24, 2025
Generasi Aceh yang Hilang Muara
🔊

Dengarkan Artikel

.Membaca Dua Dekade Damai Acèh

Oleh Rasyidin

Siang bersahaja menyelimuti langit cerah sedikit mendung Kota Solo,tanggal 15 Agustus merupakan sebagai hari terbaik bagi penulis saat ini, karena pada saat yang sama tanggal 15 Agustus 2025 menjadi hari spesial bagi penulis, karena mengikuti sidang tertutup promosi doktoral di ruang rapat besar gedung pascasasrjana doktoral di Intitut Seni Indonesia Surakarta, dan moment 20 tahun damai Aceh itu, penting untuk diingat kembali bagi seluruh masyarakat Aceh. Di tanggal  itu ada penanda sejarah di mana pada tahun 2005 Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia melakukan perjanjian MoU perdamaian di Helsinki. Tentu ada rasa syukur kepada Allah SWT, karena 20 tahun sudah masa kelam itu telah terganti dengan pembangunan di segala sektor. 

Dari paparan diskusi podcast berjudul 20 Tahun MoU RI-GAM Tanpa Sejahtera, Apa Kontribusi Kombatan dan Birokrat?.Acara ini diinisiasi oleh Sagoe TV dengan pembicara MunawarLiza Zain, Dr. Wiratmadinata, SH., MH., (Ketua FKPT Aceh), Sahlan Hanafiah (Sosiolog UIN Ar-Raniry), Azharul Husna(Koordinator KontraS Aceh), Adi Warsidi (Jurnalis Senior). Kegiatan diskusi tersebut dipandu langsung oleh Dr. Mukhlisuddin Ilyas, M. Pd. selaku direktur Bandar Publishing Aceh. 

Dari seluruh rangkaian acara berdurasi 2:02:44 detik tersebut pembahasan menarik dalam diskusi podcast tersebut adalah pada fenomena pemetaan bagaimana nilai-nilai hambatan banyak terjadi di dalam 20 tahun Aceh Damai dari konflik kepada point of vew padangan narasumber Dr. Wiratmadinata, SH, MH, dan Muhammad Sahlan, M.Si yang melihat perspektif politik dan sosiologi dalam tata cara mengisi ruang untuk berkelanjutan setelah perang berkepanjangan yang terjadi di Aceh.

Dalam perspektif pandangan Wiratmadinata menerangkan secara garis besar bahwa ada ruang alfa yang terjadi dalam upaya mengisi ruang perdamian tersebut. Dari dinamika yang ada, banyak hal yang tidak tersingkronisasi dengan baik antara visi, tujuan perdamaian dan misi cara mengisi perdamaian itu sendiri. Garis besarnya yang disampaikan Wiratmadinata yaitu menekankan pentingnya kejelasan dalam menjaga perdamian dari perspekti pendidikan di Acèh. Perlu kita ketahui bahwa Dinas pendidikan harus berani mengambil peran dalam upaya mengisi perdamian.

Dinas pendidikan harus berani tampil tegas dalam menyusun kurikulum berbasis muatan lokal secara independent, dimana di dalamnya membahas tentang kebudayaan Aceh dari tari Saman, Bines yang ada di Gayo yang telah menerima sertifikasi UNESCO, Tari Zapin yang ada di Aceh Tamiang, serta dari bahasa yang memiliki beragam bahasa di Aceh, mulai bahasa Aceh, Gayo, Melayu, Devayan, Singkil, Jamee, sampai tata cara kehidupan kebudayaan di tiga wilayah besar Aceh, bagian Barat dan Selatan, Pesisir dan Tengah pegunungan Aceh. 

Karena wilayah itu memiliki generasi yang semestinya tahu bagaimana mereka dapat mengisi ruang-ruang kebudayaan, sehingga mereka tidak menunggu dan mempertanyakan kembali kemana arah tujuan arah untuk mengisi perdamian Aceh.

Hari ini generasi Acèh seperti kehilngan jati diri dan sebagian malu untuk mengakui dirinya terlahir sebagai orang Aceh. Hal itu dibuktikan dari penelitian yang membahas soal kepunahan bahasa Aceh, dan menurut catatan UNESCO bahasa Aceh masuk kategori nomor 3 di ambang kepunahan terparah. 

Ini perlu ada solusi untuk mempertegas posisi mata pelajaran muatan lokal sebagai kendali menetukan arah jarum kompas yang bertujuan mengarahkan genarasi muda Aceh agar tidak tereliminasi dari ruang halaman rumahnya.

Sedangkan perspektif dari Sahlan,  menerangkan bahwa Acèh hari ini terlalu sibuk mengurus hal-hal sederhana dan bersifat normatif. Selama 20 tahun dengan mengabiskan anggaran yang banyak, namun tidak ada esensi yang spesifik dapat dinilai arah sosial kemasyarakatan yang berangkat dari kejayaan di masa lalu. Hal itu terlihat dengan perjalanan waktu terhitung dari tiga konflik seperti pendudukan Belanda, Jepang, berkecamuknya NII atau DI/TII, konflik Cumbok dan konflik antara RI dan GAM yang baru dinikmati dalam 20 tahun terakhir ini. 

📚 Artikel Terkait

Membaca Ulang Machiavelli Di Era Kuasa Digital

Kopi

DIA ALFA DAN OMEGA

SISWA SMAN 1 LHOKSEUMAWE BELAJAR KURIKULUM MERDEKA DI SITUS KERAJAAN SAMUDRA PASAI

Ruang intepretasi Wiratmadinata dan Sahlan telah menggambarkan secara terang benderang bagaimana posisi pembangunan Aceh yang kurang terang dan tegas. 

Untuk menyimak kelemahan dan mengapa surutnya perjalanan KebudayaanAceh.
Sumber utama penggerak bergeraknya kebudayaan harus dibebankan kepada jawatan yang bertugas sebagai leading sektor Pendidikan. Sebab sumber lahir dan berkembangnya kecerdasan peradaban Aceh terletak pada kemampuan pemikiran generasi mudanya. Materi pemantiknya adalah bagaimana seorang pemimpin dengan kemampuan mampu melihat pranata kebudayaan sebagai stopwatch  dalam gerakan pembangunan masa depan. 

Namun bentuk ruang kesadaran  selama 20 tahun ini belum terlihat bentuk gearkan  reformasi pembangunan dengan baik.Oleh karena ruang di sektor personalia dari sumber daya manusia yang terlalu banyak tidak  memihak pada poksi kerja kebudayaan itu sendiri, dan tidak adanya tingkat pemahami yang cakup baik dalam memhami esensi Kebudayaan Aceh secara menyeluruh.

Hal ini dapat disaksikan dari aksi nyata aktivitas mata pelajaran muatan lokal di semua unit sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA serta di MI, MTs dan MA serta di SMK. Fenomena ini lepas dari pengamatan dan dipandang sangat kecil bobotnya di penerapan mata pelajaran MULOK. Survey ini sudah penulis lakukan dengan menginput keterangan dan fakta di lapangan. Data ini diperoleh langsung peneliti dari para eksekutor lapangan.

Dari keterangan mereka, semua materi berhubungan dengan pelajaran MULOK tidak sesuai dari harapan dan sangat jauh dari isian pengenalan budaya Aceh dan isi mata pelajarannya lebih bersifat jamak, yaitu dari seluruh Aceh hanya dipeljari tari likok pulo atau laweut untuk semua Aceh. Dan belajar menggambar (ini berdasarkan kemampuan pengajar yang hany amemiliki kwalitas keilmuan tersebut), juga di bahasa hanya diajarkan menulis puisi dan baca puisi alakadarnya. Serta di pelajaran sejarah, yang diajarkan lebih kepada tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia di Nusantara.  Bobotnya sekitar 40% dari waktu 1 dengan 2 jam untuk waktu belajar dalam satu minggu sekali tatap muka, begitu juga bobot isi pelajaran sejarahhanya 0,5 % untuk mengetahui sejarah Aceh. Itupun kalau pengajarnya punya  pengetahuan sejarah Aceh, di mata pelajaran geografi hanya diperkenalkan tentang kekayaan kebudayaan yang ada di luar dan materi itu tidak menjelaskan secara rinci mengenai persoalan kekayaan alam dan biota flora dan fauna yang dimiliki Aceh pada umumnya. 

Ini menjadi ironis di 20 tahun Aceh terlepas dari pergolakan, dan Aceh di masa-masa damai masih saja terjauh dari rumpun kejayaan emas masa lalu. Terparahnya para pendidik yang mengajar MULOK bukanlah orang yang berkompentensi dan berpengalaman dan kaya wawasan pengetahuan budaya di bidang-bidang keilmuan yang dijelaskan di atas. 

Untuk pembuktian kebenaran semua fenomena tersebut sangat mudah, indicator untuk melihat keberhasilan atau tidak berhasil keberlangsungan Mata Pelajaran Muatan Lokal dapat diamati pada ruang-ruang Event yang dihadirkan oleh pemerintah daerah. 

Peristiwa ini sangat mengkhatirkan sekali bagi peneliti dalam mengamati keberlangsungan 20 tahun perdamaian Acèh. Aceh masih saja di rundung kehilngan arah, para regenerasinya sudah terjebak jauh ke ruang-ruang modernisasi prakmatis, bahkan lebih ekstrimnya ke arah budaya urban (asing). 

Lebih spesifiknya peminatan dalam melakoni budaya asing, peristiwa dihadirkan kebanyakan bentuk dan maknanya sangat tidak utuh, dihadirkan oleh mereka. Lalu bagaimana generasi muda Aceh dapat mencintai dan mengembalikan idèntitas keAcehannya dalam 20 tahun perdamaian Aceh?

Acèh hari ini berada di zona kegamangan. Generasi Acèh telah tergiring ke ruang prakmatisme asing yang tidak dapat dipahami dan dimengerti secara mendalam. Arah pemikiran generasi muda Acèh hari ini lebih melihat bentuk ruang moderen tanpa mempelajari lebih dalam keberadaan dari ruang mana, ruang moderen itu lahir dan terciptakan.

Biografi singkat penulis:

Nama penulis Rasyidin, Penulis adalah seniman praktisi Teater, Domisili saat ini di Solo. Penulis adalah Dosen Prodi SeniTeater, dan masih aktif sebagai mahasiswa doctoral di Pascasarjana ISI Surakarta. Dan dalam waktu dekat akanmenyelesaikan studi doctoral. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Manisnya Cerita Keutapang Mameh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00