Dengarkan Artikel
Oleh Afrizal Refo, MA
Sekjen Dewan Dakwah Kota Langsa dan Ketua DPW JARA Kota Langsa
Di bulan Agustus ini langit Indonesia kembali berwarna merah putih. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, dan serentak kita berteriak lantang: “Merdeka!”.
Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Sebuah angka yang tidak lagi muda, melainkan matang. Namun, di balik gegap gempita itu, terselip pertanyaan mendasar yang kerap tak kita jawab dengan jujur: apakah kata merdeka yang selalu kita gaungkan sudah benar-benar hadir dalam kehidupan rakyat sehari-hari?
Ironisnya, di tengah usia yang semakin matang ini, kita masih melihat wajah rakyat yang muram karena himpitan ekonomi. Kemiskinan kian menjerat, pengangguran meningkat, lapangan pekerjaan semakin terbatas, sementara para penguasa dan oligarki menikmati kekayaan negeri ini dengan leluasa. Rakyat kecil hanya bisa menonton dari kejauhan menanggung pahitnya ketidakadilan. Jika begini wajah bangsa merdeka, lantas di manakah makna kemerdekaan itu sendiri?
Apakah merdeka berarti hanya sebatas perayaan? Atau sejatinya ia adalah napas panjang yang memberi ruang bagi rakyat untuk hidup sejahtera, terbebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan ketakutan?
Merdeka seharusnya berarti hadirnya kesejahteraan. Merdeka bukan hanya bebas dari belenggu penjajah, tetapi juga terbebas dari penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan oleh bangsa sendiri.
Negara wajib menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, bukan hanya segelintir elit yang haus kekuasaan. Para koruptor yang menggerogoti uang rakyat seharusnya tidak lagi diberi ruang hidup mewah, tetapi ditindak tegas, dihukum setimpal, bahkan dimiskinkan agar jera. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, bukan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Jejak Perjuangan yang Tak Boleh Dikhianati
Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah. Ia lahir dari pengorbanan. Dari peluru yang menembus dada para pejuang, dari air mata para ibu yang merelakan putra terbaiknya gugur di medan perang, dari keringat para petani dan nelayan yang menyumbangkan hasil bumi untuk perbekalan para gerilyawan.
Namun para pendiri bangsa menyadari satu hal, merdeka tidak berhenti pada proklamasi. Bung Karno pernah berkata, kemerdekaan adalah “jembatan emas” menuju masyarakat yang adil dan makmur. Jembatan itu seharusnya membawa rakyat pada kehidupan yang lebih layak, bukan sekadar bebas dari penjajahan asing, melainkan juga bebas dari segala bentuk penindasan di tanah sendiri.
Lalu, mari kita bertanya dalam hati: sudahkah jembatan emas itu benar-benar kita lalui bersama?
Ketika Merdeka Masih Setengah Hati
Hari ini delapan puluh tahun lebih kita merdeka. Negeri ini memang bebas dari belenggu kolonial, tetapi masih banyak rakyat yang belum terbebas dari belenggu kesusahan hidup.
📚 Artikel Terkait
Masih ada anak-anak kecil yang harus bekerja di jalanan ketika teman sebayanya belajar di sekolah nyaman. Masih ada orang tua yang menjual tenaga di ladang dan lautan, tapi hasil keringatnya tak sebanding dengan harga kebutuhan pokok yang terus melambung. Masih ada rakyat yang sakit dan terbaring tanpa pengobatan karena biaya rumah sakit terlalu mahal untuk dijangkau.
Apakah ini yang dimaksud merdeka? Atau jangan-jangan kita hanya merdeka dalam upacara, tapi tidak dalam kenyataan?
Merdeka Bukan Milik Segelintir, Tapi Seluruh Rakyat
Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga negara bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Ketika pendidikan tidak hanya hak anak-anak kota, tetapi juga hak anak-anak di pelosok negeri. Ketika pelayanan kesehatan tidak hanya tersedia bagi mereka yang mampu, tetapi juga bagi rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari hasil tani, buruh, atau nelayan.
Kemerdekaan harus bermakna kolektif, bukan eksklusif. Ia bukan untuk sekelompok elit, melainkan untuk semua anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Jika masih ada rakyat yang merasa asing di negerinya sendiri, maka kemerdekaan itu belumlah utuh.
Bebas dari Rasa Takut, Bebas untuk Bersikap
Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang warganya tidak lagi hidup dalam ketakutan. Ketakutan akan lapar, ketakutan akan ketidakadilan hukum, ketakutan untuk bersuara. Demokrasi hanya tumbuh sehat bila rakyat bisa menyampaikan aspirasinya tanpa merasa dibungkam.
Merdeka berarti berani berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati. Merdeka berarti rakyat berhak mengingatkan pemimpin, dan pemimpin berlapang dada mendengar suara rakyat. Itulah esensi kebebasan yang mestinya kita rayakan, bukan sekadar euforia seremoni.
Usia 80 tahun bagi sebuah bangsa seharusnya menandakan kemandirian dan kekuatan, bukan kelemahan. Namun, jika bangsa ini terus dirundung oleh ketidakadilan, maka jangan-jangan usia tua itu justru menyerupai manusia lanjut usia yang semakin lemah dan tak berdaya. Apakah itu yang kita inginkan bagi negeri yang diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan?
Oleh karena itu, para penguasa negeri ini harus berani melakukan perubahan. Kebijakan tidak boleh lagi hanya menguntungkan para pemilik modal, tetapi harus berpihak pada rakyat kecil. Pendidikan, lapangan kerja, dan jaminan sosial mesti diperkuat, agar generasi yang lahir di masa depan tidak menjadi generasi lemah yang hanya menjadi penonton di negeri sendiri.
Kita sering mendengar ungkapan: “Merdeka itu harus diisi.” Tetapi mengisi kemerdekaan tidak cukup hanya dengan pesta rakyat atau lomba tujuhbelasan. Mengisi kemerdekaan berarti berani melawan korupsi yang mencuri hak rakyat. Mengisi kemerdekaan berarti berjuang agar jurang kesenjangan sosial semakin menyempit. Mengisi kemerdekaan berarti memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dalam pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan.
Tugas ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik kita semua. Generasi muda khususnya, memegang peran penting. Mereka bukan hanya pewaris bangsa melainkan juga penjaga nyala api kemerdekaan agar tidak padam di tengah arus zaman.
Merdeka Seutuhnya
Hari ini, ketika kita kembali mengibarkan bendera pusaka, mari kita renungkan sejenak: sudahkah kita benar-benar merdeka? Jangan-jangan kemerdekaan masih sekadar kata, sementara rakyat masih dibelenggu oleh kenyataan pahit.
Kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan yang bisa dirasakan di meja makan rakyat, di bangku sekolah anak-anak, di ruang pengobatan rumah sakit, di ladang para petani, di perahu nelayan, dan di hati setiap warga negara.
Selama masih ada perut lapar yang tak terisi, selama masih ada anak bangsa yang tak bisa bersekolah, selama masih ada rakyat kecil yang diperlakukan tidak adil, maka kemerdekaan itu belum selesai diperjuangkan.
Maka, jangan biarkan kata merdeka berhenti di bibir. Biarkan ia hidup di setiap denyut nadi bangsa ini. Merdeka bukanlah slogan kosong. Merdeka adalah kesejahteraan yang nyata. Dan bangsa ini akan benar-benar merdeka apabila setiap rakyatnya bisa hidup layak, sejahtera, dan bermartabat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






