• Latest

Sanggar Seni Cut Meutia : Menggores Warna Dari Akar Budaya

Agustus 15, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sanggar Seni Cut Meutia : Menggores Warna Dari Akar Budaya

Redaksiby Redaksi
Agustus 15, 2025
Reading Time: 2 mins read
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Cut Dara Meutia

Hari itu, 10 Agustus 2025, Sanggar Seni Cut Meutia, sebuah rumah kecil yang saya asuh dengan tangan penuh cinta, tangan seorang guru, juga semangat seorang pegiat seni dan budaya mengundang anak-anak SD/MI dari seluruh penjuru Pidie Jaya. 

Ada yang datang dari gampong-gampong sepi di pinggir laut, ada yang hadir dari pusat kota, bahkan ada yang menempuh perjalanan jauh dari kabupaten Sigli dan Bireuen. Mereka semua berkumpul untuk sebuah kisah, yang memberi warna pada budaya dari tanah kelahiran mereka sendiri.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Mereka hadir mengikuti lomba mewarnai bagi anak yang mengusung tema “ Kebudayaan Pidie Jaya”. Sederhana, namun dalam. Kami ingin anak-anak mengenal rumah adat, tarian tradisional, pakaian khas, permainan rakyat. Tujuannya bukan hanya sebagai gambar di atas kertas, tapi sebagai denyut yang akan mereka bawa sampai dewasa. Karena budaya, seperti akar, harus tertanam sejak awal.

Lomba ini kami bagi menjadi dua sesi waktu: pukul 10.00–12.00 untuk kategori A (kelas 1–3), dan pukul 14.00–16.00 untuk kategori B (kelas 4–6). Sebanyak 170 peserta duduk di lantai dan meja-meja kecil, memberi warna seolah memberi napas pada sejarah yang telah lama ditinggalkan.

Hari itu Bunda PAUD Pidie Jaya, Ny. Hj. Asmawati Syibral, hadir membuka acara, membawa senyum dan semangat. Dukungan pun hadir dari Bupati Pidie Jaya, H. Syibral Malasyi, MA., S.Sos., ME, yang membuat langkah kami terasa lebih yakin. 

Beliau datang di sore hari, menyempatkan hadir disela kesibukannya yang padat demi memberikan apresiasi dan menyerahkan piala dan hadiah kepada para pemenang, ia berpesan agar kami tetap konsisten menggelar event seni dan budaya yang bersifat edukatif seperti ini. Beliau bangga, melihat semua usaha dan kerja keras tim demi mewujudkan terselenggaranya kegiatan positif ini.

Namun bagi saya, pemenang hari itu sebenarnya adalah semua anak yang pulang sore itu dengan hati yang lebih kaya dan gembira. Karena lomba ini bukan hanya  sekadar tentang siapa yang terbaik, tapi tentang siapa yang bisa melihat bahwa ukiran rumah tradisional, permainan anak, alat musik tradisinal dan merah kain tradisional khas Aceh yang sebenarnya adalah bagian dari jati diri mereka.

Bagi kami budaya tidak akan hidup jika hanya disimpan di rak museum atau di halaman buku. Ia hidup di tangan anak-anak yang mewarnainya, di mata mereka yang menyinarinya, dan di hati mereka yang menjaganya. 

Nah selama masih ada tawa kecil anak-anak di ruang-ruang seperti ini, saya percaya akar Pidie Jaya akan terus kokoh, dan tak pernah tumbang dimakan zaman. Ia akan terus menumbuhkan tunas-tunas baru yang sadar dan mencintai serta menjaga kelestarian sejarahnya nenek moyangnya .

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

 Menelusuri Jejak Ulama Nusantara Rentang Waktu 1800-1850 M. 

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com