Dengarkan Artikel
Oleh : Muhammad Hafiz
Siswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh
Ada masa,
di mana setiap langkah terasa seperti menembus duri,
dan setiap napas adalah beban yang tak terlihat,
namun terasa menusuk jauh ke dalam dada.
Aku berjalan di antara bayang-bayang,
membawa sebuah luka yang tak mau sembuh,
luka yang bukan hanya ada di kulit,
tetapi di dalam hati,
di ruang paling sunyi yang jarang tersentuh doa.
Luka itu,
berawal dari kehilangan,
dari janji yang tak pernah ditepati,
dari tangan yang melepas di tengah badai,
dari kata-kata yang menusuk seperti belati
dan meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus waktu.
Aku ingat malam itu,
langit seperti menutup matanya,
bintang-bintang seakan enggan bersinar,
dan hujan turun seakan ikut menangis
untuk segala yang tak sempat aku selamatkan.
Hari-hari setelahnya
adalah labirin tanpa peta,
aku tersesat dalam pikiranku sendiri,
mempertanyakan segalanya:
Apakah aku cukup kuat?
Apakah aku salah sejak awal?
Apakah aku masih layak melangkah?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti angin
yang tak pernah lelah menghantam daun-daun kering.
Namun waktu,
dengan segala kesabarannya,
mulai membisikkan sesuatu.
Tidak keras,
tidak terburu-buru,
tetapi perlahan.
Seperti sinar tipis yang merayap masuk
melalui celah-celah jendela di pagi hari.
Sinar itu menepuk bahuku,
dan berkata,
“Lihatlah, bahkan luka pun bisa menjadi guru.”
Awalnya aku tak mengerti.
Bagaimana mungkin rasa sakit ini
mengajarkan sesuatu selain kepahitan?
Bagaimana mungkin kegelapan ini
menyimpan secercah cahaya?
Tetapi hari demi hari,
aku mulai menyadari,
bahwa luka membuatku melihat dunia
dengan mata yang berbeda.
Dulu aku berjalan terburu-buru,
mengejar hal-hal yang bahkan tak aku pahami,
meninggalkan diriku sendiri di belakang,
dan mengira aku akan baik-baik saja.
Namun luka ini memaksaku berhenti,
memaksaku duduk,
memaksaku menatap ke dalam.
Dan di sanalah aku menemukan,
bahwa di balik semua rasa sakit,
ada kekuatan yang diam-diam tumbuh.
Aku mulai mengenal diriku
bukan dari cermin,
tetapi dari air mata yang jatuh,
dari malam-malam panjang yang kuhabiskan
untuk bertahan meski aku lelah.
Aku belajar bahwa kebahagiaan
bukanlah tentang menghapus semua luka,
tetapi tentang merangkulnya
dan membiarkan luka itu menjadi bagian dari cerita.
📚 Artikel Terkait
Seperti tanah yang retak
yang justru memberi jalan bagi benih untuk tumbuh,
begitu pula hatiku,
yang retaknya memberi ruang
bagi cahaya untuk masuk.
Aku tak lagi memandang luka
sebagai tanda kelemahan,
tetapi sebagai bukti bahwa aku pernah berjuang,
bahwa aku pernah mencintai dengan seluruh jiwa,
bahwa aku pernah berdiri di tepi jurang
dan memilih untuk tidak jatuh.
Kini, ketika aku melihat ke belakang,
aku tak lagi melihat hanya air mata.
Aku melihat perjalanan—
betapa aku pernah rapuh,
betapa aku pernah hancur,
namun tetap memilih untuk menyulam kembali serpihan-serpihan diriku
menjadi sesuatu yang lebih indah.
Luka itu kini adalah cahaya,
karena ia mengajariku arti empati.
Aku kini bisa memahami
tangisan orang lain,
aku bisa mendengar diam mereka
dan mengerti bahwa mereka sedang menahan badai di dadanya.
Aku bisa memeluk dengan lebih erat,
menatap dengan lebih dalam,
dan mencintai dengan lebih tulus.
Ada sesuatu yang hanya bisa dipelajari
melalui kehilangan,
dan sesuatu itu adalah keindahan
dari menghargai setiap detik
yang masih kita punya.
Luka membuatku tahu
betapa berharganya sebuah “ada”
sebelum ia berubah menjadi “pernah.”
Sekarang,
setiap kali rasa sakit itu datang lagi,
aku tak lagi melawannya,
aku membiarkannya duduk di sebelahku,
karena aku tahu ia datang
bukan untuk menghancurkan,
tetapi untuk mengingatkan.
Ia mengingatkanku bahwa aku masih manusia,
masih punya hati yang mampu mencinta,
dan masih punya kekuatan untuk memaafkan.
Dan di tengah segala kekacauan dunia,
aku berjalan dengan luka yang bersinar di dadaku,
seperti lentera kecil yang menuntunku
melewati malam-malam gelap.
Luka itu adalah bintangku,
yang tak pernah padam meski hujan turun,
yang tak pernah hilang meski fajar tiba.
Jika dulu aku ingin menghapus luka itu,
kini aku menjaganya,
seperti seseorang menjaga bunga langka
yang hanya mekar di musim dingin.
Karena aku tahu,
tanpa luka itu,
aku mungkin tak akan pernah menemukan
cahaya yang kini menuntunku.
Di setiap langkahku,
aku membawa pesan untuk dunia:
bahwa tak apa jika kau terluka,
tak apa jika kau menangis,
tak apa jika kau tersesat sementara.
Yang penting,
tetaplah mencari cahaya,
meski jalannya panjang,
meski kakimu lelah.
Karena suatu hari nanti,
kau akan berdiri di puncak waktu
dan menyadari
bahwa semua yang pernah kau lalui
bukanlah untuk menghancurkanmu,
tetapi untuk membentukmu.
Dan saat itu tiba,
kau akan memandang lukamu
dengan senyum lembut,
dan berkata,
“Terima kasih,
karena telah menjadi cahaya.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






