Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TMr,
Berdomisili di Kota Banda Aceh
Setiap 17 Agustus, kata “merdeka” berkumandang di seluruh negeri. Ia diucapkan dengan lantang oleh pejabat di podium, diteriakkan oleh anak-anak di lapangan, bahkan ditempel di baliho dan spanduk yang membentang di jalan raya.
Namun, di balik gegap gempita itu, ada pertanyaan yang harus kita ajukan dengan jujur: Apakah merdeka hari ini memiliki makna yang sama dengan merdeka yang diproklamasikan pada 1945?
Bagi generasi 1945, kemerdekaan berarti lepas dari belenggu kolonialisme fisik. Namun, sejarah tidak berhenti pada tanggal itu. Bentuk penjajahan bergeser: dari senjata menjadi ekonomi, dari rantai besi menjadi algoritma, dari penguasaan wilayah menjadi penguasaan narasi. Maka, “merdeka adalah merdeka” bukan sekadar pengulangan kata, tetapi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diperbarui maknanya sesuai zaman.
Merdeka dalam Pikiran: Pendidikan dan Kesadaran Kritis
Kemerdekaan yang paling mendasar adalah kebebasan berpikir. Tanpa itu, semua bentuk kebebasan lain akan rapuh. Sayangnya, pendidikan kita masih banyak diarahkan pada hafalan dan kepatuhan, bukan pada kemandirian intelektual.
Kita sering berbangga bahwa akses pendidikan semakin luas, tetapi perlu diingat: akses tidak sama dengan kualitas. Laporan PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD. Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi masalah strategis. Bangsa yang tidak kritis akan mudah diarahkan oleh narasi dominan baik itu propaganda politik, iklan korporasi, maupun informasi menyesatkan di media sosial.
Merdeka dalam pikiran berarti memiliki kapasitas untuk mempertanyakan dan memilah informasi, bukan sekadar menelan mentah-mentah. Tanpa itu, kita akan menjadi bangsa yang merdeka secara simbolik, tetapi terjajah dalam kesadaran.
Merdeka dalam Ekonomi: Antara Kedaulatan dan Ketergantungan
Sejarah membuktikan bahwa tidak ada kemerdekaan politik yang bertahan lama tanpa kemandirian ekonomi. Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan tanpa ekonomi yang kuat akan membuat bangsa “merdeka di atas kertas, tetapi terjajah dalam kenyataan”.
Fakta hari ini menunjukkan bahwa sebagian besar komoditas strategis mulai dari tambang hingga pangan masih banyak dikuasai oleh modal besar, baik asing maupun domestik. Data BPS 2024 menunjukkan ketimpangan pendapatan Indonesia (rasio Gini) masih berada di kisaran 0,388 angka yang menandakan jurang besar antara yang kaya dan miskin.
Bahkan dalam sektor pangan, kita masih mengimpor beras, gula, dan kedelai dalam jumlah besar. Ketergantungan ini membuat harga-harga dalam negeri sangat rentan terhadap fluktuasi pasar global.
Pertanyaannya: apakah bangsa yang tidak mampu memberi makan dirinya sendiri bisa disebut merdeka?
Merdeka dalam ekonomi berarti menguasai sumber daya sendiri, mendistribusikan hasilnya secara adil, dan mengurangi ketergantungan yang membuat kita rentan terhadap tekanan eksternal.
Merdeka dari Penindasan Sosial: Demokrasi yang Inklusif
Kemerdekaan bukan hanya milik kelompok mayoritas atau kelas dominan. Ia baru bisa disebut merdeka sejati ketika semua warga negara terlepas dari agama, etnis, gender, atau latar belakang ekonomi memiliki hak yang sama untuk hidup bermartabat.
📚 Artikel Terkait
Namun, realitas sosial masih menunjukkan banyak bentuk penindasan yang dilegitimasi budaya atau agama. Kekerasan berbasis gender, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, dan kriminalisasi terhadap ekspresi berbeda masih terjadi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemerdekaan kita masih bersifat parsial.
Kita merdeka secara nasional, tapi belum merdeka secara sosial. Sebuah bangsa yang membiarkan sebagian warganya hidup dalam ketakutan dan ketidakadilan sesungguhnya sedang mengingkari esensi proklamasi.
Merdeka dari Korupsi: Kedaulatan yang Bocor dari Dalam
Korupsi adalah bentuk penjajahan internal yang paling merusak. Ia tidak datang dari luar negeri, tetapi dari dalam tubuh bangsa sendiri. Ia menggerogoti kepercayaan publik, melemahkan institusi, dan memperlemah kemampuan negara untuk melayani rakyatnya.
Laporan Transparency International 2024 menempatkan Indonesia pada skor 34/100 dalam Indeks Persepsi Korupsi jauh dari ideal. Dengan kondisi seperti ini, merdeka hanya akan menjadi slogan tahunan jika sumber daya negara terus bocor ke kantong segelintir orang.
Merdeka berarti memiliki sistem yang bersih dan transparan, sehingga rakyat dapat percaya bahwa pajak yang dibayar kembali kepada mereka dalam bentuk pelayanan publik yang layak.
Kontra-Argumen: Kemerdekaan Tidak Pernah Absolut
Ada yang berpendapat bahwa kemerdekaan mutlak tidak mungkin. Individu selalu bergantung pada masyarakat, dan negara selalu bergantung pada tatanan internasional. Argumen ini benar kita memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari keterkaitan global.
Namun, ini tidak berarti kita menerima ketergantungan yang merugikan. Keterkaitan yang sehat adalah keterkaitan yang setara, bukan yang menempatkan kita pada posisi subordinat. Di sinilah pentingnya kesadaran kolektif untuk menegosiasikan posisi kita dalam hubungan internasional secara adil.
Dari Retorika ke Praksis
Permasalahan terbesar kita mungkin bukan pada definisi kemerdekaan, tetapi pada keberanian untuk mempraktikkannya. Kita terlalu sering merayakan kemerdekaan secara seremonial lomba panjat pinang, karnaval, upacara bendera tanpa menjadikannya momen refleksi kritis.
Merdeka adalah pekerjaan rumah sehari-hari:
• Melawan korupsi di tempat kerja, bukan hanya di ruang sidang.
• Menghormati perbedaan pendapat di media sosial, bukan hanya di forum resmi.
• Memilih pemimpin dengan pertimbangan rasional, bukan fanatisme buta.
• Mendukung produk dan usaha lokal untuk memperkuat ekonomi domestik.
Jika ini tidak dilakukan, maka kita akan menjadi generasi yang hanya mewarisi kemerdekaan di bibir, bukan di laku.
Penutup:
Merdeka adalah Merdeka
Pada akhirnya, “merdeka adalah merdeka” adalah sebuah pernyataan yang sederhana tetapi tegas. Ia menolak pengaburan makna oleh kepentingan politik atau ekonomi. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah yang cukup sekali diterima, melainkan proses yang harus diperjuangkan setiap hari.
Kemerdekaan yang sejati bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi bebas dari kebodohan, ketergantungan, penindasan, dan korupsi. Ia adalah ruang di mana setiap orang punya kesempatan yang sama untuk tumbuh, berpikir, dan menentukan jalan hidupnya.
Dan selama masih ada satu orang di negeri ini yang hidup tanpa haknya terpenuhi, maka tugas kita untuk memperjuangkan kemerdekaan belum selesai. Karena merdeka sebagaimana mestinya adalah merdeka itu sendiri.
#bulanmerdeka #potretonline #lombamenulisagustu
Saya, Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TMr, berdomisili di Kota Banda Aceh, saya terus mengembangkan diri melalui berbagai sertifikasi dan produktif menulis diberbagai platfrom media. Berpegang pada motto “With hardship, there is ease,” saya berkomitmen untuk berkontribusi dalam pendidikan dan kemajuan masyarakat. Simak kegiatan saya di Instagram @muhammadabrar0212
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





